Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Menghadirkan Cinta


__ADS_3

"Daddy selalu menganggap mereka sama, mereka hanya mencari uang dan kepuasan. Karena sentuhan mereka hanya sebatas gairah, bukan karena cinta. Seperti Mommy-mu dan Daddy."


"Daddy hanya mendapat kepuasan batin, tetapi tidak dengan hati, jiwa Daddy terasa kosong dan hampa, karena nyaris tak tersentuh oleh cinta."


Ken menghela nafas panjang, setelah dia menyelesaikan cerita masa lalunya. Masa yang begitu kelam, menjadi titik kilas balik alasan dirinya menjadi seperti sekarang.


Pria itu menunduk, menatap Zoya saat dia merasakan pelukan gadis itu semakin erat. Pun dengan dadanya yang tiba-tiba basah oleh air mata Zoya.


Ada isak kecil yang terdengar lirih, membuat Ken menarik dagu Zoya agar gadis itu menatap ke arahnya. "Baby, ada apa? Kenapa menangis, hem?" tanyanya dengan pembawaan yang begitu tenang.


Zoya membalas tatapan mata Ken, bagaimana bisa pria di hadapannya ini bersikap biasa saja setelah menceritakan sesuatu yang begitu menyesakkan dada.


Dia yang hanya mampu mendengar saja ikut merasa ngilu, tetapi kenapa Ken justru menatapnya dengan tatapan seperti itu?


"Aku tidak tahu, dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya menjadi Daddy. Daddy pasti sangat terluka saat itu," ujarnya dengan bibir yang gemetar, pun dengan cuping hidungnya yang kembang kempis.


Ken mengusap air mata Zoya dengan ibu jarinya, sebelum membalas ucapan gadis itu, Ken mengecupnya beberapa kali, dan hal itu justru membuat Zoya semakin menangis.


"Aku sudah merasa baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Baby. Kejadian itu sudah sangat lama," balas Ken, berusaha menutupi segala sesak yang ada.


"Tapi rasa sakit dan trauma itu tidak akan hilang, semua itu akan terus membekas di hati Daddy. Bahkan sampai sekarang, Daddy masih tidak percaya tentang cinta dan pernikahan."


Zoya terus menatap netra itu, dalam otaknya dia terus mencari cara, bagaimana dia bisa meruntuhkan trauma Ken, dan mengembalikan semuanya.


"Aku tidak peduli tentang itu, Baby. Yang penting sekarang hanyalah kamu, asal kamu ada di sampingku. Aku tidak masalah," tutur Ken apa adanya.


Sesuai dengan isi otak dan hatinya. Tidak ada lagi yang dia inginkan selain Zoya.


"Tapi aku juga butuh kepastian, kita tidak bisa seperti ini terus. Daddy tidak merasa kasihan pada Zoya?" tanya gadis itu, membuat Ken langsung meregangkan pelukan mereka.


"Daddy menyayangimu, Zoy," balas Ken dengan sorot mata sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Kalau begitu, bagaimana kalau aku membuat Daddy percaya lagi pada cinta?"


Sebuah pertanyaan yang membuat kedua netra Ken membola. Pria itu menggeleng cepat, tidak terima dengan saran Zoya.


"Apa maksudmu, Zoy? Kamu mau kita menikah? Lalu kamu meninggalkanku di saat kita sudah punya anak? Aku tidak mau!"


Zoya menangkup kedua sisi wajah Ken, menghentikan kepala yang terus menggeleng itu.


"Daddy, tidak semua wanita di dunia ini sama, kalau Daddy berpikir seperti itu, berarti Daddy juga menganggap Zoya wanita murahan? Wanita yang hanya memikirkan uang dan kepuasan seperti yang Daddy bilang?"


"No, bukan seperti itu, Sayang. Aku hanya takut, aku tidak mau kehilanganmu. Aku tidak mau menikah!"


Ken masih tetap kukuh dengan pendiriannya, dan Zoya tidak bisa memaksa. "Baik, bagaimana kalau pelan-pelan?"


"Pelan-pelan bagaimana maksudmu?"


"Kita jalani ini semua pelan-pelan, hadirkan semua rasa yang Daddy punya untuk Zoya. Kita pacaran."


"Pacaran?" Ken membeo, dengan alis yang terangkat.


"Hem, sekarang Zoya adalah pacar Daddy, dan Daddy adalah pacar Zoya. Jadi tidak boleh selingkuh, apalagi menyentuh wanita lain, Daddy harus ingat komitmen dalam hubungan kita," jelas gadis itu lebih rinci, kini dia seperti seorang guru yang tengah mengajari anak muridnya yang susah sekali untuk mengerti.


"Mana mungkin aku menyentuh wanita lain, Sayang. Aku sudah berulang kali bilang padamu, hanya kamu yang ingin aku sentuh."


"Oke, tapi kali ini sebagai pacar, bukan teman ranjang. Do you understand?"


Bukannya menjawab, Ken justru merengek. "Tapi aku tetap boleh melakukannya kan?"


Zoya menghela nafas, mulai kesal dengan sikap Ken.


"Iya, Daddy. Makanya ayo setuju dulu dengan ide Zoya."

__ADS_1


"Baik, Daddy akan setuju. Asalkan dengan satu syarat."


Kening gadis cantik itu mengernyit. "Apa?"


"Ayo main satu kali lagi, baru Daddy akan percaya."


Mendengar itu, Zoya langsung memukul keras dada Ken.


Bugh!


"Aku serius, Daddy!" cetusnya.


Ken melingkarkan tangannya di pinggang Zoya, agar gadis itu tak mampu bergerak, dan menjauh darinya.


"Daddy juga serius, Sayang. Satu kali lagi, untuk merayakan hari jadian," ucapnya mencari alasan.


Zoya berdecak keras. "Ck, pokoknya ini yang terakhir."


"Tidak janji." Ken menyerang kembali tubuh di sampingnya, siap membawa Zoya terbang ke nirwana dengan status baru mereka.


Lelah dan letih, tetapi tetap saja membuat Zoya masih bisa mendesaah. Ruangan itu kembali memanas, pun dengan derit ranjang yang kembali mengeras.


Hingga tengah malam, akhirnya mereka benar-benar tumbang. Terlelap dengan nyaman dalam dekapan orang tersayang.


*


*


*


Bunganya dong buat merayakan jadian 😌😌😌😌

__ADS_1


__ADS_2