
Wajah Ken berubah pias. Birahinya yang sudah memuncak luruh seketika, mendengar sarang kesukaannya berpalang merah. Tanda bahwa python buasnya tidak boleh masuk untuk menikmati malam pertama mereka, menjadi sepasang suami istri yang sah.
Melihat itu, Zoya menggigit bibir bawahnya. Dia semakin merasakan sesuatu keluar dari dalam tubuhnya. "Hubby, aku minta maaf, tapi aku benar-benar tidak tahu, Sayang."
Zoya membelai pipi Ken, wajah yang benar-benar seperti mayat hidup, karena gagal mendapat asupan nutrisi dari sang istri.
"Hubby...." panggil Zoya lembut dengan wajah yang penuh rasa bersalah.
Nafas Ken memburu, dia menatap Zoya dengan kedua netranya yang terlihat sayu.
"Baby, are you lying?(Sayang, apa kamu bohong?) Kamu pasti membohongiku kan?" tanya Ken, tak menggubris ucapan Zoya. Dia menggelengkan kepala, seperti sebuah bencana, pernyataan Zoya sukses membuatnya merana.
Zoya menangkup kedua sisi rahang Ken. "I am serious, Hubby. (Aku serius, Sayang.) Tolong ambilkan pembalut di kamarku yah." Ujar Zoya dengan manik mata memohon. Meminta pertolongan, sekaligus pengertian pada suaminya itu.
Mendengar itu, kepala Ken benar-benar langsung berdenyut-denyut. Tidak hanya kepala atas saja, kepala bawahnya pun merasa ikut pusing.
Dia berdecak, lalu menyugar rambutnya frustasi. Padahal sebentar lagi, sebentar lagi mereka akan terbang menyusuri nikmatnya surga dunia.
Hah, kenapa istrinya malah palang merah.
"Oh my God!" Ken bangkit dari bathub, untuk melucuti celana, agar pangkal pahanya dapat merasakan kelegaan. Dia menyambar handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
Dari kain lembut itu, Zoya masih bisa melihat senjata sang suami yang berdiri dengan sangat tegak. Zoya menggigit bibir bawahnya, benar-benar merasa bersalah.
Ada kesenjangan waktu di antara keduanya. Ken menarik nafas dalam-dalam, lalu menatap ke arah Zoya. "Yang seperti apa bentuknya?" Tanya pria tampan itu, mulai pasrah pada keadaan.
"Eum, Hubby lihat saja di lemari paling bawah. Di sana aku menyimpan semuanya," balas Zoya sedikit ragu.
"Oke, aku ambil dulu. Jangan berani keluar sebelum aku datang," ujar Ken sambil mewanti-wanti gadis itu. Dan Zoya hanya bisa mengangguk.
__ADS_1
Dia bisa melihat sorot mata kecewa dari manik mata suaminya.
Tapi sungguh, ini benar-benar di luar kehendaknya.
Setelah kepergian Ken, Zoya bangkit dan menyambar handuk pula dari tempat yang sama.
Sementara Ken keluar dari kamarnya, menuju kamar Zoya dengan raut wajah masam. Semua itu disaksikan oleh Ron dari bawah sana, dia bisa melihat sang tuan yang hanya menggunakan handuk, malah pergi keluyuran.
Ken mengacak-acak rambutnya. Benar-benar merasa pusing karena tak mendapat pelepasan. Hampir satu bulan semenjak dia dan Zoya menyiapkan pernikahan, dia tidak melakukan kegiatan panas itu.
Sekarang, di saat dia dan Zoya sudah sah. Zoya justru mendapat tamu bulanannya. Lagi-lagi pythonnya harus berpuasa. Sepertinya Dewa mesumm tengah mengutuknya.
"Ah, benar-benar sial. Kenapa? Kenapa dia harus datang di saat yang tidak tepat. Kenapa pula seorang wanita itu harus mengalami menstruasi? Harusnya tidak usah!" rancau pria tampan itu sambil melangkah.
Terus merutuk tak habis-habis. Bahkan dia dengan sekuat tenaga menendang pintu kamar Zoya. Hingga pintu itu rusak. Ken tengah menguapkan kekesalannya.
Dan dia semakin dibuat kesal, saat dia harus mencari benda yang dimaksud oleh istrinya. Benda yang seperti apa? Di sini ada banyak benda dan dia tidak tahu yang mana.
Ken mengobrak-abrik isi lemari Zoya. Mulutnya tak berhenti bicara. Rasanya ingin selalu mengumpat. Dia tidak pernah merasa seperti ini, menahan gairah yang tengah memuncak, teramat sangat membuat kepalanya ingin meledak.
Ken menghela nafas panjang, lalu memukul badan lemari dengan sangat kencang, tetapi anehnya tangan itu tak merasa sakit. "Shittt! Aku benar-benar tidak tahu benda yang mana!" Teriak Ken semakin dibuat frustasi.
Hingga suara bariton itu sampai ke bawah sana. Semua orang mendengarnya, tak terkecuali Zoya.
"Aduh, apa pembalutku juga habis yah?" gumamnya semakin merasa bersalah. Namun, mau keluar pun tidak bisa. Karena Ken sendiri yang melarangnya.
Bi Lila yang masih ikut berbenah, akhirnya memutuskan untuk naik ke atas. Memeriksa keadaan sepasang pengantin yang sepertinya terkena masalah.
Tok tok tok
__ADS_1
Bi Lila mengetuk pintu yang terbuka itu. Membuat Ken mengangkat kepala dengan tangan yang bertolak pinggang.
"Permisi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bi Lila dengan suaranya yang selalu terdengar lembut.
Melihat Bi Lila, Ken langsung merasa lega. "Bi, bantu carikan aku pembalut, aku benar-benar tidak tahu benda apa itu!"
Mendengar itu, sumpah demi apapun Bi Lila sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak. Namun, takut pula mendapat makian dari pria yang tengah dilanda emosi ini.
Ternyata Nona Zoya datang bulan. Gumam Bi Lila dalam hati.
Patuh, dia segera membantu sang tuan untuk mengambil benda yang Zoya butuhkan. Dan setelah beberapa saat mencari, ternyata benda itu memang tidak ada.
Bi Lila turun ke bawah, untuk meminta stok pembalut pada pelayan wanita yang masih muda. Lalu memberikannya pada sang tuan, yang terlihat sedang merasa kecewa, karena malam pertamanya tertunda.
"Ini, Tuan," ucap Bi Lila sambil menyerahkan benda tersebut.
Ken mengambilnya, lalu mendengus kasar. "Heuh, datang bulan sialan!"
*
*
*
Ngothor : Makanya jangan macem-macem sama gue 🤣🤣🤣
Daddy : Awas lu, Thor. Bener-bener yah bikin kepala gue nyut-nyutan kagak karuan.
Ngothor : Yeh sapa suruh kasih gue edi 🤣🤣🤣
__ADS_1
Daddy : Ah tahu lah, mending nggak usah bikin neng joyaa datang bulan selamanya 😩😩😩