Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Caka Deehan Liem


__ADS_3

Kelahiran Baby Caka membawa kebahagiaan bagi semua orang, apalagi untuk kedua orang tuanya. Setelah menangis haru, akhirnya Ron bisa merasakan menggendong sang anak untuk pertama kalinya.


Air mata pria itu tak berhenti mengalir, mengagumi keajaiban yang berada di dalam gendongannya. "Hai, Caka." Sapa Ron dengan bibir yang bergetar. Dia tidak menyangka, akan sekeras itu istrinya berjuang untuk mengeluarkan sang anak.


Semua itu terlihat sangat mengerikan. Ron sebagai pria saja rasanya takkan mampu jika harus seperti itu, tetapi Siska malah tersenyum saat Caka terlahir ke dunia, wanita itu malah terlihat sangat bahagia, membuat buncahan rasa cinta di hati Ron semakin tumpah ruah.


Bayi tampan itu menggeliat kecil, dokter menyarankan agar Baby Caka diletakkan di dada ibunya. Ron mengangguk, ia melangkah ke arah Siska yang baru saja selesai mendapat jahitan di inti tubuhnya.


Ron tidak dapat menahan laju air matanya, ia mengecup puncak kepala Siska dan memperlihatkan bayi mereka. "Lihat, Sayang. Bayi kita sangat tampan. Aku yakin nanti kalau dia sudah besar, pasti banyak wanita yang menyukainya." Ucap Ron sambil mengulum senyum.


Mendengar itu, Siska ikut tersenyum, ia mengelus lembut kepala Baby Caka. "Dia tampan seperti kamu, Kak." Ungkapnya, membuat Ron jadi terkekeh.


"Tentu saja, Papi Caka kan memang tampan."

__ADS_1


Ron langsung mendapat cubitan kecil dari Siska, membuat pria itu memekik karena terkejut. "Benarkan, Sayang? Kan kamu yang bilang."


Siska hanya mendengus, sementara di tempatnya ibu Siska ikut merasa bahagia, melihat sang anak sudah menyandang status ibu, sama seperti dirinya.


"Selamat ya, Ron, Sis. Kalian berdua sudah resmi menjadi orang tua, semoga dengan adanya Caka, kalian bisa bersikap lebih dewasa dalam mengahadapi masalah," ucapnya yang membuat kedua orang itu menoleh. Kini Baby Caka sudah berpindah tangan, menggeliat dalam dekapan ibunya.


"Aamiin," kompak Ron dan Siska.


"Eh, Sayang. Kamu belum kasih tahu aku lho, nama panjang Caka," ucap Siska, menatap Ron yang sedang memperhatikan anak mereka, Ron terlihat sangat bahagia, hingga tidak mau jauh-jauh dari Baby Caka.


Ron mengulum senyum, ia memang sudah menyiapkan nama untuk sang anak, setelah mereka melakukan USG untuk melihat jenis kelamin anak mereka.


"Aku akan memberinya nama Caka Deehan Liem. Sesuai marga dari keluargaku, tidak apa-apa, 'kan, Sayang?" Ujar Ron, meminta pendapat pada Siska.

__ADS_1


"Nama yang indah, tentu saja tidak apa-apa, aku malah suka," timpal wanita cantik itu.


"Wah, cucu Kakek jagoan ternyata." Tiba-tiba ayah Ron bersuara, pria paruh baya itu mendekat ke arah ranjang Siska, ingin melihat wajah tampan sang cucu, hasil bajakan bujang lapuknya. "Senjatamu masih tajam juga ya, Ron. Padahal usiamu sudah mendekati tua." Ledeknya.


"Bicara apa sih, Pa? Tentu saja tajam, kan sudah sering aku asah sebelum menikah," ceplos Ron yang langsung mendapat geplakan dari ayahnya.


"Iya tuh, Pa, Kakak sering ajak aku yang enggak-enggak sebelum nikah. Aku sampe kaget pas Cacing si Kakak muntah pertama," timpal Siska, bukannya malu karena ada dua keluarganya, ia malah membeberkan pertemuan pertamanya dengan si besar Cacing Alaska.


Semua orang melongo mendengar ucapan Siska, sementara Ron langsung menutup matanya dengan kedua tangan, ia lupa, benar-benar lupa, kalau mulut istrinya kan jujur tiada tara.


Plak!


"Pantes yah, langsung minta lamaran tiba-tiba, ternyata anak orang udah dienggak-enggak!" cetus ibu Ron, setelah ikut menggeplak kepala putranya.

__ADS_1


"Aduh, sakit, Ma," keluh ayah baru itu.


__ADS_2