
Zoya sudah terlihat rapih, dia mengulum senyum di depan cermin, hingga semuanya terlihat sempurna. Ada mata kuliah pagi, maka dari itu Zoya buru-buru meraih tas selempangnya dan melangkah keluar.
Namun, kelopak mata Zoya dibuat melebar, saat melihat putra keempatnya sedang berteriak. Bersamaan dengan itu Rathi keluar dengan Ken yang menggendong Bee dan Choco.
"De, ada apa, Sayang?" tanya Zoya seraya menghampiri bocah tampan itu. Dia melirik Ken, di lengan kiri pria itu, sang anak pun tengah menangis. Hingga ia bisa menebak, bahwa ada pertengkaran kecil di antara mereka.
"Mommy!" teriak De, lalu berlari ke arah Zoya. Pria kecil itu seolah menemukan seseorang yang mampu menolongnya.
Zoya langsung menangkap tubuh De dan menggendongnya. Satu tangan wanita itu mengusap ujung mata De yang sudah basah. "Kok anak tampan menangis?"
De menunjuk sang ayah dengan bibir yang mengerucut lucu. "Daddy ndak ayang De, Mommy. De ndak dieyong ayah Bee cama Choco."
"Api De natal, Mom. De doyong Choco tampe auh. Payah Choco atit," adu Choco masih sesenggukan. Sedari tadi dia masih belum terima, kalau De mendorongnya.
Zoya menatap Ken, cengiran khas pria itu terbit. Membenarkan penjelasan Choco. Membuat Zoya harus menghela nafas panjang, ini masih terlalu pagi untuk menguras tenaga. Apalagi dia harus berkuliah.
"De, tangan Daddy kan cuma dua. Jadi cuma bisa gendong dua orang. Lagi pula, De kan yang mendorong Choco sampai menangis. Kan kasihan Choconya kepala dia sakit," ujar Zoya, berusaha mendamaikan keduanya. Dia berbicara sepelan mungkin, berharap sang anak mau mendengarkan nasehatnya.
__ADS_1
De masih menjep-menjep. Dia menatap Zoya dengan bola mata berkaca-kaca. "Mommy juda ndak ayang De?"
"Eh, bukan begitu. Maksud Mommy, De tidak boleh asal mendorong seperti itu, Nak. Kalau De yang jatuh, bagaimana? Kepalanya sakit tidak?"
"Atit."
"Nah, kalau sakit pasti De menangis 'kan?"
"Ais."
Mendengar itu, Zoya mengulum senyum. Dia menurunkan De meski ia tahu pria kecil itu belum mau mengalah. Dia mengecupi pipi gembul De, lalu menunjuk Choco yang masih berada di gendongan sang ayah.
"Ndak au, Mommy."
"Kenapa tidak mau? Kalau kita salah, kita harus meminta maaf, Sayang." Zoya menggandeng tangan De untuk melangkah mendekati Choco. Ken pun ikut menurunkan putra ketiganya itu, sementara Bee seolah tidak mau tahu. Dia malah memeluk leher sang ayah dengan erat.
"Mana tangan Choco?" tanya Zoya, meminta tangan gembul Choco agar terulur. Pria kecil itu terlihat ragu, dia dan De saling tatap dengan bola mata yang menggenang, juga bibir yang tak berhenti bergetar.
__ADS_1
Zoya menyatukan tangan kedua anaknya sambil berjongkok. Lalu mengecup satu persatu pipi gembul dua bocah tampan itu. "Lain kali tidak boleh berantem yah. Kalian harus akur, sekarang Mommy mau De sama Choco saling meminta maaf. Ayo De duluan."
De melirik ke sana ke mari, hingga pandangan bocah itu jatuh pada Rathi yang tengah menyemangatinya. Wanita itu terus memberi dukungan pada anak yang diasuhnya untuk melakukan apa yang Zoya minta.
"De inta maaf ya, Choco," ucap De lalu menunduk. Melihat itu, Zoya mengulum senyum tipis. Lalu menatap Choco dengan anggukan di kepala.
"Choco juda inta maaf De."
Rathi dan Ken yang menyaksikan itu langsung bertepuk tangan. Tanda bangga, agar Choco dan De merasa diapresiasi. "Anak-anak Daddy pintar sekali." Puji pria tampan itu, tetapi mulutnya langsung disumpal oleh tangan putranya yang satu.
Sebab walaupun dia sudah merasa adil, kelima anak mereka tetap saja berebut, dan tidak mau mengalah satu sama lain.
Zoya meminta kedua putranya untuk menciumnya. Choco dan De menurut.
Ken memegangi tangan Bee dan langsung mengulum senyum melihat pemandangan manis itu. Karena Zoya selalu paham, bagaimana mendiamkan anak-anak mereka. Lain dengan dirinya yang lagi-lagi hanya bisa mendesah dan mengeluh sakit kepala.
Baru saja Zoya bangkit dan menitipkan kelima anaknya pada sang suami, karena dia sudah ingin berangkat kuliah. Si bungsu, titisan ratu ular berteriak kencang. Melihat bayangan Daddy-nya menggendong Bee, tanpa membangunkan dirinya.
__ADS_1
"Tetty-nya El!!!"