
Selang satu jam lamanya, Ron dan Ken belum juga menemukan buah yang dimaksud oleh istri mereka. Kepala Ken sudah terasa berdenyut, dengan mata yang kembali berat.
"Ron, ke mana lagi ini? Sudah satu jam kita berputar-putar, kenapa tidak ketemu juga? Mereka niat jualan tidak sih?" gerutu Ken yang sudah merasa jengah. Dia memijat pelipisnya, tetapi sepasang mata itu tetap melihat ke jalanan.
Masih berharap dapat menemukan buah tersebut. Kalau tidak, bisa-bisa sampai rumah dia kembali dilabrak oleh istrinya. Atau diancam tidur di luar, ya yang pasti masalah tidak akan selesai-selesai.
"Saya juga tidak tahu, Tuan? Apa kita akan berputar-putar terus sampai pagi?" jawab Ron yang hampir saja ikut menyerah, matanya sudah sayu dengan wajah yang tak tergambar jelas.
"Pokoknya jangan pulang, sebelum kita menemukannya!" cetus Ken tanpa menoleh ke arah Ron.
Untung saja Siska juga sedang menginginkannya, kalau tidak Ron pasti sudah ogah-ogahan diajak berputar-putar seperti ini, bahkan tanpa arah tujuan.
Hingga kedua bola matanya, menangkap sisa pasar malam, di sana Ron melihat gerobak jambu kristal yang tengah dirapihkan oleh sang penjual, tanpa bicara pada Ken, Ron segera membawa mobilnya ke arah sana.
Mata Ken langsung melebar. Begitu mereka berhenti tepat di depan stand buah yang Zoya inginkan. Pria tampan dengan tampang lesu itu berubah sumringah, dia melirik Ron yang tak kalah sumringahnya. Mereka sudah seperti menemukan tumpukan emas yang ditimbun ribuan tahun lamanya.
Ron ingin turun, tetapi secepat itu pula Ken menariknya. "Ron, biar aku saja." Ujarnya, masih belum tahu kalau pria itupun ingin membeli jambu kristal untuk istrinya.
"Maaf, Tuan. Tapi Siska juga sebenarnya minta dibelikan jambu kristal, makanya tadi saya sudah bangun duluan sebelum anda menelpon," ucap Ron sambil nyengir tanpa dosa.
Pantas saja pria itu tidak merasa keberatan saat Ken meminta ditemani untuk mencari jambu kristal. Ternyata oh ternyata, ada udang dibalik bakwan!
Tak ingin membuang waktu kedua pria itu turun secara bersamaan. Hingga mereka mengantongi masing-masing satu cup jambu kristal, buah yang tengah diidam-idamkan para bumil yang menunggu mereka di rumah.
Ken tersenyum lebar, seraya melangkah ke arah kamarnya. Dia selalu merasa bangga, saat dia bisa mendapatkan apa yang tengah Zoya inginkan. Dia memang calon ayah yang baik bukan untuk anak-anaknya?
__ADS_1
Namun, senyum itu langsung memudar saat dia melihat tubuh yang semakin berisi itu terkapar di atas ranjang dengan posisi tidur telentang.
Bahkan Zoya melupakan apa yang telah dia ucapkan, sebelum Ken pergi untuk mencari apa yang wanita itu inginkan.
"Dia bilang akan menungguku, tetapi kenapa malah seperti ini?" Bahu Ken sedikit merosot, kresek hitam itu hampir saja terjatuh, tetapi dia tidak langsung menyerah, dia ingin mencoba membangunkan Zoya.
"Sayang."
Ken menggerakkan bahu Zoya, dan ibu hamil itu hanya menggeliat sambil menepis tangan Ken. "Apa sih? Aku ngantuk, Hubby."
"Baby, katanya kamu mau jambu kristal, aku sudah dapat lho apa yang kamu mau."
"Sudahlah taruh saja di kulkas, aku makannya besok saja."
Tidak ada jawaban apapun lagi dari istrinya. Zoya malah semakin pulas, bahkan terdengar dengkuran halus dari wanita itu. Membuat Ken menelan ludahnya, dengan umpatan yang tertahan di tengah tenggorokan.
Damn it!
Dia menyugar rambutnya dan menyambar ponsel untuk menghubungi Ron, ingin tahu apa tanggapan Siska, semoga saja sama, supaya dia tidak merana sendirian seperti ini. Sungguh sial!
"Halo, Tuan?"
"Halo, Ron, bagaimana tanggapan istrimu? Apa dia memakannya?"
Ditanya seperti itu, Ron malah menghela nafas. Sepertinya nasib mereka sama, sama-sama mengenaskan. "Hah, tidak. Siska malah tidur dan tidak mau dibangunkan, Tuan."
__ADS_1
Mendengar itu, mata Ken menyipit. "Atau jangan-jangan kita dikerjai oleh mereka? Ini pasti ide istrimu, Ron!"
"Hei, Tuan jangan asal menuduh, mana ada Siska punya rencana seperti itu, pasti Nona Zoya yang sudah mencuci otak istri saya." Ron yang tidak terima, langsung membalas ucapan Ken tanpa kenal takut.
"Asal bicara kamu, beraninya menuduh istriku seperti itu. Ku potong nanti gajimu!"
"Kan, Tuan, duluan. Kenapa malah menyalahkan saya?"
"Itu kan memang salahmu!"
"Salah saya bagaimana? Jelas-jelas yang menuduh duluan itu anda!"
"AARON!!!"
Dan di saat perdebatan sengit antara Ken dan Ron yang terus menyalahkan satu sama lain. Ada dua pasang bibir yang diam-diam tersenyum. Karena merasa berhasil mengerjai suami mereka.
Haha, yes berhasil ternyata. Batin Zoya dan Siska kompak.
*
*
*
Ini baru Daddy Pythsa vs Papi Caska 🤣🤣🤣
__ADS_1