
Siang hari, Ken turun ke bawah. Dia melihat meja makan yang penuh dengan makanan, tetapi yang duduk hanya kakeknya seorang. Karena dia dan istrinya benar-benar betah di dalam kamar, Zoya baru saja terlelap setelah mandi dan mendapat pijatan dari suaminya.
Seluruh persendiannya seolah remuk redam. Akan tetapi beruntungnya Ken mau bertanggung jawab, hingga dia merasa nyaman dalam tidurnya.
"Baru turun kamu, Ken?" sindir kakek Abian, melihat sang cucu yang melipir ke dapur, mengambil keripik tempe dan memakannya dengan sembarangan.
"Iya, Kek. Kamu kan tahu sendiri, aku habis membuat adonan cicitmu bersama Zoya," jawab Ken nyeleneh. Bahkan terkesan tidak tahu malu. Ah, memang pria satu ini tidak punya malu, jelas saja menjawab seperti itu.
"Memangnya kamu yakin? Sekali tembak langsung jadi?" Kakek Abian melirik Ken, terkesan meremehkan pria matang itu, dan hal itu sukses membuat Ken menghentikan aktivitasnya, dia menatap ke arah kakek Abian.
"Tentu saja, habis ini aku yakin Zoya pasti hamil. Jadi jangan meremehkanku!" cetus Ken dengan bibir yang tertarik sinis, dia mengambil air minum dan mendekati Bi Lila.
Di sana, masih ada beberapa pelayan sedang kulu kilir menyiapkan hidangan makan siang.
"Kakek tidak meremehkanmu, Ken. Tapi kamu perlu konsultasi dengan dokter, apalagi Kakek dengar kamu melakukan vasektomi, Kakek takut ada masalah nanti dengan senjatamu itu," ujar kakek Abian, kini pembicaraan mereka mulai serius.
Ken menghela nafas panjang, dan suara itu terdengar sampai ke telinga Bi Lila, wanita paruh baya itu menatap ke belakang, lalu mengulum senyum.
"Benar apa yang dikatakan Tuan Besar, Tuan perlu periksa ke dokter bersama Nona Zoya. Kita kan tidak tahu bagaimana ke depannya. Siapa tahu dengan Tuan konsultasi, Nona Zoya justru bisa cepat hamil," timpal Bi Lila, membenarkan ucapan kakek Abian.
Bagaimana pun, Ken sudah seperti anaknya sendiri. Sedari kecil Bi Lila yang selalu ada di samping pria tampan itu, hingga kebahagiaan Ken, menjadi kebahagiaannya pula.
__ADS_1
Karena Ken pun tak sekedar menganggapnya sebagai pembantu. Ken terkadang bisa bersikap manja padanya, di saat kakek Abian memarahinya.
Maka dari itu, Bi Lila tidak bisa meninggalkan Ken sampai saat ini, dia iba dengan kehidupan pria itu. Pria kecil yang dulu terlihat sangat menyedihkan.
Mendengar ucapan Bi Lila, Ken mulai membuka pikirannya. Dia menyugar rambutnya ke belakang, lalu berpikir sejenak. Memang ada benarnya juga semua yang dikatakan kakek Abian dan wanita paruh baya itu.
Ken teringat dengan umurnya yang hampir masuk kepala empat, sementara Zoya masih terlihat sangat muda.
Dia juga baru selesai melakukan operasi, kalau dia hanya mengandalkan bisa pythonnya, dan ternyata sulit membuahi wanita itu. Sama saja bohong!
Ah, kenapa tingkat kepercayaan dirinya jadi berkurang sekarang. Padahal tadi dia sudah membantah ucapan kakek Abian.
Mendengar itu, Ken mengangkat kepalanya. "Ya baiklah, nanti aku hubungi Ron, aku akan menanyakan dokter kandungan yang bagus untuk berkonsultasi." Ujar Ken akhirnya menurut.
Demi masa depannya dengan Zoya, apapun akan dia lakukan. Dan Bi Lila ikut merasa senang, dia menepuk bahu Ken, memberi semangat pada pria matang itu.
"Saya ikut mendoakan untuk kebahagiaan Tuan dan Nona Zoya. Semoga kalian cepat diberi momongan," ucap Bi Lila, lalu dia mengambil piring.
Tanpa banyak kata, Bi Lila menyiapkan makanan untuk Ken dan Zoya, seperti sudah hafal, pasti kedua orang itu akan makan di dalam kamar.
"Tuan biar saya yang mengantar makanannya, Tuan tunggu saja di kamar," ucap Bi Lila dan Ken langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak, Bi. Biar aku saja yang bawa, lagi pula Zoya juga masih tidur, dia kelelahan."
Bi Lila mengulum senyum tipis, lalu mengikuti apapun kemauan Ken. Dia mengambil banyak makanan dan disatukan dalam satu nampan.
Setelah itu, Ken membawanya ke dalam kamar. Sebelum benar-benar pergi dari dapur, kakek Abian kembali bersuara. "Bravo anak muda! Jangan patah semangat untuk membuat cicit untukku, aku tunggu kabar baiknya."
Ken menghentikan langkahnya, lalu berbalik. "Iya, Kakek tua, tunggu saja. Aku pasti bisa membuatnya berbadan lima bila perlu!"
Kalimat yang mengundang gelak tawa semua orang yang ada di sana. Kalau ada kakek Abian dan Ken, sudah dipastikan keduanya bagai kucing dan anjiing yang tidak pernah akur.
*
*
*
Ngothor : Ntar anaknya banyak lu nggak dapet jatah neinnein lho, Dad😌
Daddy : Masa, Thor?
Ngothor : Kita buktiin aja🤪
__ADS_1