
Kedua netra Nora menatap nanar, pada kedua orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan VVIP, bahkan tangannya terkepal kuat tanpa dia sadari.
Sebenarnya apa yang tidak dia ketahui?
Ya, sepasang mata itu adalah milik Nora. Karena restoran ini adalah milik temannya, dan dia tengah berkunjung.
Sesekali mereka bertemu, di sini atau pun di restoran miliknya. Namun, tanpa diduga, hari ini dia tak sengaja mendapati sesuatu yang begitu mencengangkan.
Ken membawa Zoya makan siang, hanya berdua, tanpa sang asisten, Ron. Bahkan mereka berpegangan tangan. Begitu kah kedekatan antara ayah dan anak angkatnya?
Nora rasa tidak, tapi dia pun tidak memiliki bukti apa-apa untuk membongkar semuanya. Hubungan antara mereka berdua.
Hingga dia bergeming beberapa saat, pikirannya jauh berkelana. Sampai muncul sebuah ide dalam otaknya.
Wanita itu buru-buru membuyarkan lamunannya. Lalu menatap ke arah sang teman yang sibuk dengan ponsel genggamnya.
"Rin, aku pamit dulu yah. Aku baru ingat kalo aku punya urusan dengan orang, dan aku harus kembali ke restoran. Soalnya dia berencana untuk reservasi nanti malam," ucap Nora mencari alasan.
Padahal tujuannya saat ini adalah pulang. Dia ingin mencari tahu permainan apa yang sedang Ken dan Zoya mainkan.
"Oh okelah, lain kali nanti aku yang mampir ke sana, semoga lancar ya, Ra," balas wanita cantik berambut sebahu itu. Sambil mengusap bahu Nora.
Akhirnya setelah cipika-cipiki, Nora benar-benar pamit, dia melangkah sambil sesekali menatap ke ruang VVIP, di mana di dalamnya ada Ken dan juga Zoya.
"Aku harus mencari bukti itu," gumamnya pada diri sendiri dengan pikiran yang kalut.
Gadis polos seperti Zoya, menjadi mainan pria yang dicintainya? Rasanya benar-benar tidak mungkin, tapi bagaimana kalau itu semua nyata?
"Ya Tuhan..."
__ADS_1
Nora memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sambil terus berjalan ke arah mobilnya.
Sementara di dalam ruangan kedua orang itu asyik makan, Ken sesekali menyuapi Zoya, agar gadis itu mencicipi menu yang dia pilih. Seperti saat ini.
"Bagaimana enak tidak?" tanya Ken dengan senyum mengembang, dan Zoya manggut-manggut sambil mengunyah udang bakar saus tomat milik Ken.
"Sekarang gantian, kamu suapi aku," pinta pria itu.
Sudah Zoya duga, pasti ujung-ujungnya ada maunya. Tetapi kini Zoya tidak seperti dulu lagi, sekarang gadis itu lebih banyak patuh pada Ken. Zoya mengambil makanannya, lalu menyuapkannya ke dalam mulut Ken.
"Aaaa..."
Hap!
Ken langsung melahap sendok itu, dan mulai mengunyah. Dia tersenyum entahlah, Zoya tidak bisa mengartikannya.
"Enak?"
"Ini baru enak, Baby," ujar Ken dengan terkekeh, setelah menyudahi permainannya.
Sementara Zoya langsung mencebikkan bibirnya dan memukul lengan Ken dengan keras.
Di samping itu, Nora yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, akhirnya sampai di mansion.
Dengan tidak sabaran, dia langsung turun dari mobil dan naik ke atas. Namun, bukan kamarnya yang dia tuju, melainkan kamar Zoya.
Jantungnya berdebar dengan kencang, sementara ludahnya terasa tercekat di tenggorokan. Kini dia sudah berdiri di depan benda persegi panjang itu, dengan tubuh yang gemetar.
"Ya Tuhan... Rasanya aku tidak siap, tapi jika seperti ini terus, aku malah akan terus dibuat penasaran, dan menjadi orang terbodoh."
__ADS_1
Pelan, dia memberanikan diri, meraih handle pintu kamar Zoya. Tanpa membuang waktu dia memutarnya, dan dia langsung memejamkan matanya karena ternyata pintu itu terkunci.
"Ah, sial! Bagaimana ini?" Nora mendesah frustasi.
Lalu dia melihat ke bawah, ada Bi Lila di sana. Senyum Nora langsung terbit, tanpa membuang waktu dia turun ke bawah dan menanyakan duplikat kunci kamarnya.
"Memangnya Nyonya menaruhnya di mana?"
"Saya lupa, Bi. Saya harus cepat masuk, ada berkas yang ketinggalan soalnya," Nora beralibi lagi.
Hingga akhirnya, Bi Lila menyerahkan satu gantungan yang full dengan duplikat kunci ruangan mansion ini. Total duplikat ada dua, satu dipegang Ken, dan satu dipegang oleh Bi Lila.
"Terimakasih, Bi."
Nora segera pamit dari sana, dan kembali ke kamar Zoya. Dia harus cepat-cepat bertindak, karena dia tidak memiliki waktu yang banyak.
Nora tersenyum lega, begitu kamar itu berhasil dibuka. Dia masuk dengan sesekali melihat ke arah belakang, takut ada yang datang.
Setelah memastikan bahwa situasi aman, dia lekas mencari sesuatu yang bisa dia temukan.
Hingga tak berapa lama kemudian, jantungnya dibuat merosot, bahkan mungkin bisa melompat dari sarangnya, saking terkejutnya, dengan benda yang dia pegang.
Dadanya terasa sesak.
"Pil kontrasepsi?" lirih Nora.
*
*
__ADS_1
*
Depresottt si Nora🤧🤧🤧