
Hari masih tampak gelap, tetapi di dalam mansion sudah tampak gaduh dengan suara raungan keras Aneeq. Bocah tampan yang masih menyusu pada ibunya itu tergelak kencang saat melihat buah dada Zoya terdapat banyak sekali tanda kepemilikan.
Zoya yang masih cukup mengantuk, tak sadar akan hal itu sebab Aneeq tak sabaran saat memintanya.
"Cemangka Mommy, huaaa ... cemangka Mommy meyah-meyah," ujar Aneeq sesenggukan sambil menunjuk benda kesukaannya.
"Ini digigit nyamuk, Nak." Zoya berusaha menenangkan putra sulungnya itu, meyakinkan diri bahwa dia baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Namun, Aneeq kecil tetap tidak percaya. Dia semakin menangis kencang, karena merasa kasihan pada Zoya. "Lamutna natal, cemangka Mommy dididit?"
Zoya terpaksa mengangguk, sementara Ken yang saat itu sudah bersiap-siap ingin membuat serangan fajar, harus berimbas pergi ke kamar mandi. Sebab rencananya gagal total. Bahkan akibat ulahnya semalam, membuat Aneeq mengamuk di pagi-pagi buta begini.
Mulut kecil Aneeq menganga dengan air mata yang sudah menderas. "Cakit ndak?" Tanyanya sambil menatap nanar, benda yang kerap dihisapnya terlihat sangat mengenaskan.
"Tidak, Sayang. Nanti dioles obat juga sembuh kok."
"Api Mommy ndak ginggal kan?"
__ADS_1
Astaga. Pikiran bocah tampan ini benar-benar menakutkan. Aneeq sampai berpikir Zoya akan meninggal hanya gara-gara tanda kepemilikan buatan Ken.
Zoya segera menggeleng menepis semua pikiran buruk yang ada di otak Aneeq. Wanita beranak lima itu pun mengusap air mata yang mengalir deras di pipi gembul Aneeq yang memerah. "Tidak dong. Mommy kan mau menemani An sampai besar."
Aneeq menarik ingusnya yang hampir jatuh. Sementara bibir mungilnya masih bergetar-getar. "Canci yah? Alo gitu kita doktel ajah."
"Mommy tidak apa-apa, Nak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Kekhawatiran di mata Aneeq begitu jelas terlihat. Pria kecil itu mengusap hidungnya yang sudah sangat memerah. Lalu memeluk erat tubuh Zoya. "Mommy ...."
Aneeq menengadah, menatap ibunya yang senantiasa tersenyum. "Api An boyeh mimik ndak?"
Mendengar itu, Zoya semakin terkekeh, merasa gemas dengan tingkah putra kecilnya. Dia jadi punya pikiran usil untuk mengerjai Aneeq.
"Tidak boleh, Sayang. Kalau An mimik nanti Mommy-nya sakit," ucap Zoya sambil menyentuh ujung hidung Aneeq menggunakan jari telunjuknya, membuat wajah Aneeq semakin layu seketika. Pria kecil itu merajuk dengan bibir yang mengerucut.
"Cikit ajah, ndak boyeh?" pintanya menatap sang ibu dengan bola mata berkaca-kaca. Zoya menggeleng cepat, memberi penegasan bahwa Aneeq tidak akan mendapatkan apapun pagi ini.
__ADS_1
Bibir Aneeq bergerak ke sana ke mari, dia sedang berusaha menahan tangis. "Ya utah, An ndak mimik yah. Api Mommy tepet tembuh." Suara pria kecil itu terdengar penuh getar. Aneeq memalingkan wajah, lalu air matanya tiba-tiba berjatuhan begitu saja.
Zoya yang merasa tak tega, sekaligus puas mengerjai putra sulungnya langsung mendekap tubuh Aneeq. Wanita beranak lima itu terkekeh sambil menciumi leher anaknya.
"Boyeh kok, An boyeh mimik," ucap Zoya menirukan gaya suara Aneeq, lalu membuka dadanya yang begitu tumpah ruah. Saat itu, Aneeq tak langsung mengikuti apa yang menjadi keinginannya, dia malah menatap Zoya kebingungan.
"Ayo An mau mimik nggak?" tanya Zoya, melihat anaknya yang bergeming dan terus menatap pucuk dadanya dengan menelan ludah. Dia tahu Aneeq sangat ingin, tetapi pria kecil itu takut dirinya terluka.
Alhasil Zoya sendiri yang menyodorkannya pada Aneeq hingga pucuk itu menyentuh ujung mulut. Aneeq mengangkat wajah dengan ragu-ragu, dia berkedip seolah bertanya pada Zoya, benarkah dia boleh menghisapnya?
"Boyeh?"
Zoya mengangguk dengan senyum kecil. Tanpa segan lagi, Aneeq langsung melahap apa yang menjadi kesukaannya. Zoya terkekeh gemas, lalu mengecupi puncak kepala Aneeq dan membawa bocah tampan itu untuk berbaring.
Sementara Ken baru saja selesai dari kamar mandi, dia menatap dua orang kesayangannya yang sedang bercengkrama di atas ranjang.
"Hah, yang penting semalam lancar."
__ADS_1