
Setelah tragedi adu jotos itu, akhirnya Zoya dan Laura mendapat surat teguran dari pihak kampus. Mereka berdua diminta untuk memberikan surat itu pada kedua orang tua mereka masing-masing.
Besok orang tua Zoya dan Laura harus menghadap ketua jurusan, karena kedua gadis itu memang satu kelas.
Zoya memijat pelipisnya, ada saja masalah yang menimpanya. Dan dia harus memberikan surat itu pada Ken, benarkah Ken akan berpura-pura menjadi ayahnya?
Cih, memikirkannya saja membuat kepala Zoya terasa pusing.
"Zoy, apa mau aku antar?" tawar Raga, melihat Zoya yang baru saja keluar dari gerbang kampus.
Gadis itu menoleh ke sumber suara, dia mengulum senyum tipis lalu menggeleng. "Tidak perlu, Ga. Aku dijemput seperti biasa."
Raga pun paham dengan itu, semenjak dia mengantar Zoya untuk yang terakhir kali, Zoya selalu diantar jemput oleh ayah angkatnya.
Yang nyaris tidak diketahui oleh Raga seperti apa wajahnya. Karena selama itu pula, Ken tidak pernah turun dari mobil, pria itu hanya menunggu Zoya di dalam, dan setelah itu mobil itu langsung melengang.
Setelah kepergian Raga yang pamit pulang lebih dulu, mobil jemputan Zoya pun tiba. Gadis itu berjalan gontai menuju kijang besi itu.
Begitu Zoya masuk, dia langsung disambut oleh wajah sumringah Ken. Pria matang itu tersenyum lebar, sementara Zoya terlihat murung.
Dan hal itu membuat senyum di bibir Ken perlahan memudar.
"Baby, what's wrong with you?" tanya Ken sambil menangkup satu sisi wajah Zoya yang terlihat tak bergairah.
Gadis itu tak menjawab, dia malah menepis tangan Ken, dan memberikan surat teguran itu pada ayahnya.
"Apa ini, Sayang?" tanya Ken dengan kening yang mengernyit.
"Daddy baca saja sendiri."
Ken menghela nafas, lalu membuka dan membaca surat yang diberikan Zoya padanya, kening Ken semakin dibuat mengernyit. "Kamu berkelahi? Apa masalah kalian?" tanyanya.
"Nothing!" Jawab Zoya singkat dan terkesan ketus.
Mendengar itu, Ken menghela nafas kasar, lalu menarik tubuh Zoya agar menghadap ke arahnya. "Sayang, jawab Daddy dengan benar."
__ADS_1
"I say nothing, and i hate you." Zoya memalingkan wajahnya dengan mata yang sudah memerah. Ingin sekali Ken mengerti perasaannya.
Ken semakin dibuat bertanya-tanya.
"Why? Why do you hate me?"
"Because of you. Semuanya gara-gara Daddy. Dia mencibirku dan juga Mommy. Daddy pikir aku harus diam?" tanya Zoya dengan bibir yang bergetar, menahan tangis.
"No, tapi apa yang dia bicarakan? Itu yang ingin Daddy tahu, Baby."
"Dia bilang aku seorang pelaacur!" cetus Zoya.
Mendengar itu, Ken langsung memejamkan matanya dan meremat kertas itu dengan sangat kuat. Sumpah demi apapun dia ingin mengumpat.
Namun, yang dia lakukan justru menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.
"I am sorry, Baby. Tapi Daddy pikir itu semua tidak perlu kamu masukan ke dalam hati."
"Why? Karena Daddy memang menganggap Zoya seperti itu?"
"Lalu? Apa? Daddy menganggap Zoya apa?"
Ken menarik tubuh Zoya untuk masuk dalam dekapannya, tetapi gadis itu meronta, tidak mau mengikuti kemauan Ken.
Dadanya terlalu sesak untuk mengingat semua penghinaan teman-temannya.
"Baby, menurutlah sebelum Daddy marah!"
"Kenapa harus Daddy yang marah?"
"Zoya!!!"
Mendengar pekikan itu, akhirnya air mata Zoya luruh, dia pasrah, tubuhnya lemas saat Ken menariknya untuk masuk dalam dekapan pria matang itu.
Ken menelusupkan wajah gadisnya ke dalam dada bidangnya. Sementara bibirnya tak berhenti untuk mengecup kepala Zoya.
__ADS_1
"I am sorry."
Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Ken untuk menenangkan hati Zoya. Entah kenapa dia pun merasa aneh, tidak biasanya dia mengalah untuk menghadapi seorang wanita.
Tetapi dengan Zoya, perasaan itu hinggap begitu saja. Ada rasa sesak saat dia harus melihat Zoya menangis, dan akhirnya membuatnya tak bisa berkutik.
"Ada apa dengan lenganmu? Apa orang itu yang membuatnya?" tanya Ken saat melihat lengan kiri Zoya tertutup hansaplast.
Dan Zoya hanya bisa mengangguk sambil sesenggukan.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang. Ron putar arah!" titahnya pada sang asisten.
Ron mengangguk patuh. Dia akan menuruti semua perintah tuannya. "Baik, Tuan."
"Tidak perlu, Dad. Aku tidak apa-apa."
"Kamu terluka, Sayang."
"Ini hanya luka kecil. Hatiku bahkan jauh lebih sakit."
Ken memejamkan matanya, melawan perkataan seorang gadis ternyata sulitnya minta ampun. "Baiklah, tapi setidaknya beli vitamin supaya lukamu cepat sembuh. Don't make me worry."
Zoya bergeming sejenak, mendengar kata vitamin membuat Zoya teringat pada sesuatu yang harus dia beli. "Oke. Kita ke apotik."
*
*
*
Jempol bergoyangnya jangan lupa🙃🙃🙃🙃
Biar Daddy nggak pusing ngadepin anak perawan nya ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1