
Sesuai perkataannya, malam ini Ron bersiap-siap untuk ke rumah Siska. Tak sampai lama, dia sudah selesai memakai jas casual dengan kaos berwarna putih dan juga celana jeans.
Membuat tampilan Ron jadi terlihat lebih muda dari usianya. Dia menata rambutnya sebaik mungkin, tak lupa juga menyemprotkan parfum yang biasa dia pakai, agar penampilannya semakin sempurna di depan sang kekasih dan calon mertuanya.
Dia keluar dari kamar, tepat dengan Meyda yang baru saja keluar dari dapur dengan mengocok botol susu milik putri bungsunya.
Melihat penampilan kakaknya yang mencolok, Meyda langsung terbengong-bengong. Dia menelisik Ron dari atas sampai bawah.
Kenapa kakaknya tiba-tiba berubah jadi pria tampan? Apa mungkin dia ingin malam mingguan bersama pacarnya? Ah, biasanya juga hanya memakai kaos lengan pendek dan celana jeans saja.
"Kak, kamu mau ke mana? Kenapa rapih sekali?" tanya Meyda begitu penasaran, pasalnya Ron tidak pernah berdandan seperti ini. Kecuali memang ada acara penting, tetapi itu pun memakai jas formal.
Mendapati pertanyaan dari adiknya yang terlihat sangat kepo dengan urusannya, Ron mengulum senyum kecil.
Dia memang sengaja tak memberitahu Meyda. Ingin wanita itu melihat tiba-tiba dirinya menikah.
"Mau tahu saja urusan orang dewasa," ujar Ron dengan tatapan meledek, lalu melenggang begitu saja meninggalkan sang adik yang mengeryitkan dahinya.
"Hih, memangnya aku kurang dewasa apa? Bahkan aku lebih dulu punya anak dari dia, dasar perjaka tua!" cibir wanita beranak dua itu, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar, di mana sang anak sudah menunggunya.
"Mama, tutu," teriak bocah cantik itu dengan kegirangan, saat melihat ibunya membawa botol susu lengkap dengan isinya yang penuh.
Sementara di luar sana, ketiga orang itu sudah siap untuk pergi ke rumah Siska. Tidak ada pemberitahuan apapun, Ron benar-benar ingin membuat kejutan untuk wanita itu.
__ADS_1
Mereka semua masuk ke dalam mobil yang akan dikemudikan oleh Ron. Pria itu menyalakan mesin, dan dengan hati yang berbunga-bunga dia menjalankan kendaraan roda empat itu menuju rumah pujaan hatinya.
"Ron, kamu benar-benar tidak memberitahunya lebih dulu?" tanya sang ibu di belakang sana.
Ron sedikit melirik spion untuk melihat wanita yang menjadi cinta pertamanya. "Iya, Ma. Aku ingin memberinya kejutan. Dia pasti sangat senang." Jawab Ron, sangat yakin kalau Siska pasti menyukai apa yang akan dia lakukan.
"Kalau ternyata dia tidak mau, karena alasan belum siap bagaimana? Kan katanya dia itu jauh lebih muda dari kamu," timpal ayah Ron yang sudah mendengar cerita dari istrinya.
Sebagai orang tua, pasti ada perasaan khawatir, takut kalau anak mereka merasakan kecewa, apalagi Ron pernah merasakan patah hati, karena ditinggal menikah oleh orang yang disukainya.
"Kalau tidak mau ya aku paksa, aku hamili dia," cetus Ron dengan jawaban nyeleneh yang langsung mendapat tatapan tajam dari kedua orang tuanya.
"Hust! Kamu ini bicara apa? Main hamili-hamili saja," cetus ibu Ron sambil mencubit lengan sang anak.
Namun, bukannya kesakitan Ron justru terkekeh, dan kekehan itu semakin keras menjadi gelak tawa yang membuat perutnya sakit. "Aduh, Mama ini lucu sekali. Aku hanya bercanda, Ma. Mana mungkin putramu yang tampan ini menghamili seorang wanita sebelum waktunya. Apalagi dia wanita yang aku cinta."
Mendengar suara deru mobil dari arah luar, ibu Siska akhirnya mengintip dari balik jendela. Dan dia bisa melihat mobil pacar anaknya terparkir di sana. Wanita itu yakin, pasti Ron ingin mengajak Siska malam mingguan, karena sudah janjian.
Dengan gerakan cepat, ibu Siska segera membuka pintu, tetapi yang keluar dari mobil itu bukan hanya Ron seorang. Melainkan dua orang paruh baya, yang bisa ditebak kalau mereka adalah orang tua dari pria itu.
Melihat sang calon mertua menyambutnya, Ron langsung mengembangkan senyum. Pria itu langsung menyapa ibu Siska dengan ramah, dan memperkenalkan kedua orang tuanya.
Ibu Siska sedikit terkejut dengan kedatangan mereka bertiga, tetapi dia mengatasi keterkejutannya dengan mengajak ketiga orang itu untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Akhirnya mereka duduk di ruang tamu. Sebelumnya Ron mencegah wanita paruh baya itu untuk memanggil kekasihnya. Karena yang utama adalah kedua orang tua Siska.
"Tidak perlu, Tante. Aku bisa menemuinya nanti saat aku sudah menyampaikan maksud kedatanganku ini, tapi Ayahku yang akan menjelaskannya," terang Ron dengan penuh wibawa.
Patuh, akhirnya ibu Siska duduk kembali di samping suaminya. Tak banyak basa-basi, ayah Ron langsung mengatakan maksud tujuan mereka. Yakni melamar Siska untuk putra kedua mereka.
Dan lamaran langsung diterima. Tidak ada lagi alasan untuk menunda, karena Ron dan Siska sudah sama-sama dewasa, mereka sudah pantas untuk menikah.
Setelah pembahasan itu, akhirnya mereka memutuskan untuk menikahkan kedua sejoli itu Minggu depan. Semua sewa gedung dan biaya pernikahan Ron yang menanggungnya, keluarga Siska tinggal terima beres.
Di saat para orang tua berbincang-bincang. Ron izin untuk menemui Siska di kamarnya. Sedari tadi wanita itu tidak keluar, dia penasaran apa yang sedang dilakukan oleh kekasihnya itu.
Tak sampai lama, dia sudah menemukan di mana letak kamar Siska, Ron segera mengetuk pintu, tetapi tidak sahutan apapun dari dalam.
Hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk masuk ke kamar tersebut, tanpa seizin Siska. Beruntungnya pintu tidak terkunci, dan saat benda persegi panjang itu sukses terbuka, Ron bisa melihat kekasihnya yang tidur sembarangan di atas ranjang, hanya menggunakan gaun minim yang membuat matanya jelalatan.
Glek!
Ron menelan ludahnya kasar.
*
*
__ADS_1
*
Ron inget, Minggu depan! sekarang belum halalπππ