
Ken terlihat begitu bersemangat melangkah ke ruangan dokter kandungan dengan menggandeng tangan Zoya. Tubuhnya yang lemas seolah kembali memiliki tenaga begitu mendengar ada calon buah hatinya di perut Zoya.
Para suster cantik yang melihat kehadiran Ken langsung terpana. Wajah Ken yang tampan bagai sugar Daddy yang ada di novel-novel kesayangan mereka, begitu memikat dan sayang untuk dilewatkan.
Mereka saling berbisik dan cekikikan sambil melangkah melewati lorong panjang tersebut. Sementara Zoya yang menyadari itu sudah cemberut, dia melihat Ken yang terus memasang wajah sumringah, dan semua itu benar-benar menambah kadar ketampanan suaminya.
Tidak ingin berbagi walau hanya sekedar sebuah senyuman, Zoya langsung memeluk lengan Ken dan menutup wajah pria itu dengan satu tangannya.
Ken merasa heran, dia menoleh ke samping. "Ada apa, Sayang? Kenapa wajahku ditutup seperti ini?" tanya Ken yang belum sadar akan situasi, sementara para suster cantik itu sudah berlalu membawa senyum yang redup, karena tidak bisa melihat wajah tampan Ken lagi.
"Tadi ada virus berbahaya, aku tidak mau Hubby sampai terkena virus itu! Dan berhenti tersenyum seperti tadi!" cetus Zoya dengan mimik wajah yang sudah masam. Tiba-tiba moodnya anjlok gara-gara para wanita yang baru saja lewat.
Ken hanya bisa mengerutkan keningnya. Tidak mengerti dengan virus yang dimaksud oleh Zoya. Pun dengan larangan wanita itu yang tidak memperbolehkannya untuk tersenyum.
"Aku kan sedang bahagia, Baby. Masa tidak boleh tersenyum?" protes Ken.
Zoya mendengus kasar dan semakin manyun, membuat Ken semakin dibuat heran.
"Menurut saja kenapa sih! Tidak boleh senyum, ya tidak boleh!" Zoya semakin ketus, dan akhirnya karena tidak mau membahas sesuatu yang tidak penting, Ken menganggukkan kepala. Patuh pada Zoya. Atau dia akan terkena amukan dari istrinya.
"Iya, Sayang, iya. Aku berhenti tersenyum, sudah jangan ngambek begitu dong," ucap Ken sambil menjawil dagu Zoya. Zoya hanya berhem ria, lalu kembali mengajak Ken untuk melangkah.
Sementara seorang pria yang ada di belakang sana selalu merasa tak dianggap, tetapi anehnya dia senantiasa mengikuti langkah majikannya.
Nasib, nasib, ngikut bos gendeng keturunan python Romawi.
__ADS_1
Hingga mereka sampai di ruangan pemeriksaan. Mereka langsung disambut senyum hangat dari dokter wanita yang terlihat sudah berusia setengah baya.
Di sana, Zoya memperkenalkan diri bersama Ken suaminya. Kedua orang itu juga menjelaskan gejala yang terjadi terhadap Ken, tentang pria itu yang mendadak muntah-muntah.
Dan Zoya yang memang sudah terlambat datang bulan, setelah dia dan Ken melakukan hubungan pada Minggu pertama setelah mereka menikah.
Mendengar penjelasan tersebut, Zoya langsung diminta untuk berbaring di ranjang pemeriksaan, karena mereka akan melakukan USG.
Ken menunggu dengan senyum yang tak pernah tertanggal sedikitpun. Dia benar-benar yakin, kalau sudah ada bibit python premium di rahim Zoya.
Dengan setia dia menggenggam tangan wanitanya.
Tak berbeda dengan Ken. Zoya pun ikut merasa was-was. Jantungnya terasa berdebar kencang, menunggu hasil pemeriksaan. Semoga saja memang sesuai dengan yang mereka harapkan.
"Wah...," ucap dokter tersebut, membuat Ken langsung mengangkat kepala dan semakin tersenyum sumringah. "Belum yah, sebentar." Sambungnya lagi, membuat wajah Ken langsung berubah masam.
"Belum kelihatan berapa jumlahnya maksudnya," sambungnya lagi, Ken dan Zoya langsung terperangah. Jumlahnya? Wah, apa anak mereka lebih dari satu?
Keduanya saling tatap, dengan dahi yang penuh tanda tanya.
"Dokter, bisa tolong jelaskan?" pinta Ken, dan dokter itu langsung mengulum senyum. Dia menyuruh Ken dan Zoya menatap layar monitor.
"Selamat yah, Tuan Ken dan Nyonya Zoya. Kalian sebentar lagi akan menjadi orang tua, kita bisa lihat sama-sama, di rahim Nyonya Zoya sudah ada janin, usianya perkiraan masuk 7 minggu," jelas dokter tersebut, dan langsung disambut senyum mengembang dari keduanya.
"Istri saya benar-benar hamil? Lalu apa maksudnya belum jelas jumlahnya?" tanya Ken lagi yang semakin digerogoti oleh rasa penasaran.
__ADS_1
Dan dokter tersebut menjelaskan bahwa tidak hanya ada satu kantung rahim yang terisi, ada kantung yang lain, tetapi masih terlihat samar-samar. Jadi, dia belum bisa mendiagnosa bayi itu kembar atau tidak.
"Anda bisa melakukan pemeriksaan kembali, Tuan. Semakin banyak usia kandungan, maka akan semakin mudah kita melihat berapa jumlah bayi yang ada di dalam rahim Nyonya Zoya. Ingat, jangan lupa minum vitamin, makanan yang sehat, dan istirahat yang cukup," papar sang dokter sambil mengulum senyum, merasa ikut bahagia akan pasangan yang baru saja akan menjadi orang tua.
Ken menghela nafas panjang, dia benar-benar tidak bisa mendefinisikan kebahagiaannya dengan kata-kata.
Hingga tak terasa air matanya mengalir, dia menarik tubuh Zoya untuk dipeluknya. "Baby, aku benar-benar akan menjadi seorang ayah." Ucapnya penuh getar.
Mendengar itu, Zoya pun ikut merasa haru. Dia mengangguk dalam dekapan Ken, lalu mengangkat wajahnya. Zoya menghapus air mata Ken, dan meletakkan tangan besar pria itu di perutnya.
"You will be a father. (Kamu akan menjadi seorang ayah). Jadi jangan menangis, kamu harus tetap tersenyum dan temani aku untuk menjaga mereka."
Ken mengangguk, bersama Zoya apapun akan dia lakukan. Dia menoleh ke belakang di mana Ron berada, mereka saling tatap dan beradu pandang.
Baru saja Ron mau mengucapkan selamat, Ken justru menyeletuk. "Lihat! Istriku juga hamil, bukan cuma kamu saja yang menjadi ayah. Tapi aku juga, bahkan anak pythonku nanti lebih banyak!"
Semua orang yang ada di sana kompak melongo mendengar ucapan Ken. Terlebih Ron yang menjadi seseorang yang selalu disudutkan.
Cih, kenapa sih dia ini? Memangnya aku mengajak dia taruhan buat anak apa? Ada-ada saja!
*
*
*
__ADS_1
Ayo kita hitung tuyul python ada berapa🤣🤣🤣