
Ken hanya bisa memperhatikan tanpa bisa menyentuhnya. Dia senantiasa meneguk ludah, tetapi tak dapat untuk menyesapnya. Ingin rasanya dia menyerang dua benda menggantung itu, dua benda yang terlihat sedang besar-besarnya.
Wajah Ken sudah seperti bayi kelaparan, tetapi Zoya tetap tidak peka, karena yang ada dalam pikirannya sekarang bagaimana caranya mengumpulkan ASI yang banyak untuk kelima anaknya, bukan untuk bapaknya.
Alat itu terus memompa buah kesukaan Ken, membawa cairan putih untuk mengisi botol-botol yang kosong, persediaan untuk bayi-bayi mereka yang kini sudah terlelap.
Zoya tampak mengantuk, tetapi sebelum tidur dia harus mengisi botol-botol tersebut. Meski mereka memiliki cadangan berupa susu formula, tetapi Zoya tetap ingin memberikan yang terbaik untuk kelima anaknya.
Ken bangkit, meski hatinya terus berteriak ingin tetapi sebisa mungkin Ken menahannya. Ah, masih ada kata nanti otak warasnya memberi semangat.
"Baby, bersandarlah. Kamu terlihat lelah," ucap Ken, dia memasang badan agar Zoya bersandar pada dada bidangnya.
Wanita itu menurut, dia yang memang sudah mengantuk, pun dengan tubuhnya yang lelah karena seharian terus berada di kamar anak-anaknya, hampir tiap jam harus menenangkan mereka, dia suka melakukan itu semua, meski ada lima baby sitter di sampingnya.
Zoya mengulum senyum, dia mengusap wajah Ken, seharian ini mereka mengurus baby ABCDE bersama-sama. Meski lelah tetapi Zoya merasa bahagia.
"Kalau sudah mengantuk tidurlah, biar aku yang bereskan ini semua," ucapnya lagi, dan ucapan itu langsung dibalas kecupan singkat dari istrinya.
"Thank you so much, meskipun melelahkan, aku senang melakukannya, Sayang. Aku mencintai mereka, sama seperti aku mencintaimu. I love you Daddy ABCDE," ungkap Zoya, lalu terkekeh di ujung kalimatnya.
__ADS_1
Melihat itu, Ken ikut tersenyum pula, dia menangkup kedua sisi wajah istrinya, dan mencium bibir Zoya bertubi-tubi, menyiratkan bagaimana beruntungnya dia memiliki wanita seperti istrinya.
Lama kelamaan kecupan itu berubah lumaatan. Ken sedikit menahan tengkuk Zoya, dan memperdalam ciumannya.
Hingga nafas keduanya mulai menderu, bunyi tanda selesai dari pompaan ASI membuat mereka melepas pertautan yang hampir saja membuat Ken lupa, kalau ada palang merah yang menghadang jalan pythonnya.
"Biar aku yang bereskan, kamu langsung istirahat saja, Baby," ucap Ken yang melihat Zoya sudah melepaskan alat itu dari kedua buah dadanya.
Ah, menyebalkan memang harus berbagi dengan kelima anaknya. Namun, dia bisa apa? Kini dua benda itu bukan lagi hanya miliknya.
Zoya mengangguk pada ucapan Ken, dia langsung merebahkan tubuhnya dan menarik selimut, memperhatikan Ken yang membereskan alat tersebut. Dan memindahkan botol-botol itu ke dalam lemari es, agar tetap terjaga kemurniannya.
Pria tampan itu mengukir senyum, masih merasa tak percaya kalau dirinya kini sudah menjadi seorang ayah, bahkan anaknya langsung lima.
"Good night, my prince and my princess, don't naughty, oke," ucap Ken sambil memandang mereka satu persatu, dia hendak mencium baby ABCDE, tetapi urung karena takut mengganggu tidur mereka.
Setelah itu Ken kembali ke kamarnya. Dia melihat Zoya yang langsung tidur dengan nyenyak. Masih memiliki kebiasaan yang sama, Zoya tidak pernah memakai braa saat tidur, memudahkan Ken untuk menggenggam pegangan hidupnya.
Ken mengusap surai hitam milik istrinya, menyusuri pahatan wajah wanita itu dan berhenti tepat di bibir ranum yang sedikit terbuka, Ken mengecupnya sekilas.
__ADS_1
"Terima kasih juga, Zoy, terima kasih untuk semuanya. Kalau bukan karenamu, aku tidak akan mungkin sampai pada titik ini, menjadi seorang suami, bahkan seorang ayah. Aku mencintaimu, seperti yang pernah aku bilang, everything is all about you, Baby. Kamu adalah alasan untuk semua kegilaan yang aku lakukan. Always take my hand, and don't ever let go. (Selalu genggam tanganku, dan jangan pernah lepaskan.)"
Kemudian setelah mengatakan kalimat panjang itu, Ken mulai memejamkan matanya. Dia menarik tubuh Zoya, dan membenamkan wajahnya sendiri ke dada wanita itu. Posisi yang selalu membuatnya tidur lebih nyenyak.
Dan bayangan tidur nyenyak sepertinya tidak akan terealisasikan, karena baru saja terpejam pintu diketuk. Ken bisa menebak itu siapa, pastilah salah satu baby sitternya, karena Zoya selalu meminta dibangunkan saat si kecil bangun pula.
Namun, melihat Zoya yang baru saja terlelap karena lelah, membuat Ken merasa tak tega. Ken menghela nafas panjang. "Baiklah, malam ini sepertinya aku akan begadang sendiri, aku akan menjadi hot Daddy!"
Sudah percaya diri sekali pria itu, tetapi begitu sampai di kamar baby ABCDE. Ken langsung ketar-ketir, karena semua anaknya menangis dalam gendongan baby sitter masing-masing.
"Haish, yang mana dulu yang harus aku gendong?"
*
*
*
Harus adil ya, Dad. Jangan-jangan dulu Aneeq gelayutan di python, makanya jadi begitu🤣🤣🤣
__ADS_1