Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Kesalahpahaman


__ADS_3

Langkah Ron terurung untuk masuk ke dalam taksi begitu melihat bayangan Zoya. Dan bayangan itu semakin nyata, saat Zoya melangkah ke sisi jalan raya.


Seperti mencari kendaraan.


"Pak, tunggu di sini yah. Saya ke sana sebentar," ucap Ron pada sang supir.


Pria paruh baya itu mengangguk sambil tersenyum ramah. Dan Ron melangkah cepat sebelum Zoya mendapatkan kendaraan. Dia harus membawa gadis itu ke sisinya agar dia mendapatkan informasi, tentang sesuatu yang baru saja terjadi.


Dan dia yakin, pada Zoya. Dia bisa mendapatkan informasi tersebut.


"Nona!" panggil Ron sedikit berteriak, membuat gadis cantik itu menoleh.


Zoya sedikit terkejut karena ada Ron di sana. Namun, dia segera bersikap biasa saja. Ah, mungkin pria itu baru saja berurusan dengan tuannya.


"Asisten Ron? Ada apa?" tanya Zoya dengan senyum terpaksa.


Masih bisa Ron lihat mata Zoya yang memerah, pun dengan suaranya yang terdengar parau. Dan hal itu semakin membuatnya yakin kedua orang ini pasti tengah bermasalah.


"Nona mau ke mana? Biar saya antar," tawar Ron dengan tersenyum tipis.


"Tidak usah, Asisten Ron. Aku bisa pergi sendiri. Oh ya, barang-barang Daddy masih di atas, dia tadi meninggalkannya," balas Zoya dengan matanya yang berkaca-kaca, teringat Ken yang meninggalkannya begitu saja.


"Itu biar anak buah saya yang ambil. Sekarang, biar Nona saya antar yah." Ron masih berusaha membujuk gadis kecil ini. Gadis yang terlihat hampir saja menangis sambil terus memegangi perutnya.


Hingga akhirnya Zoya mengangguk samar. Ron tersenyum kecil, lalu memimpin di depan sampai mereka benar-benar masuk ke dalam taksi.


Awalnya tak ada yang bersuara, mereka semua orang bergeming. Di dalam taksi tersebut terasa begitu sunyi, hingga suara isak kecil terdengar lirih.


Ron melihat ke belakang sana dari balik spion tengah. Dia bisa melihat Zoya yang beberapa kali mengelap pinggiran matanya.


Sebenarnya ada apa?


"Kita mau ke mana, Tuan?" tanya sang supir memecah lamunan seseorang yang berada di sampingnya. Sedari tadi dia dibuat bingung. Karena penumpangnya tidak lekas memberitahu ke mana tujuan mereka sebenarnya.


Mendengar itu, seketika Ron tersadar. "Ah iya. Sebentar saya tanya dulu ya, Pak."


Ron menoleh ke belakang, melihat Zoya yang senantiasa menatap jalanan dengan pandangan mata yang sama, kosong dan hampa.


"Nona," panggil Ron lembut, dan Zoya senantiasa bergeming, dia sama sekali tak mendengar panggilan itu.


Otaknya hanya fokus pada pikiran-pikiran yang tiba-tiba menyerang. Tentang masa depan Ken dan dirinya, entah akan seperti apa.

__ADS_1


Karena tak Zoya tak lekas menjawab, akhirnya Ron sedikit berteriak, membuat gadis itu ikut tersentak. "Ada apa, Asisten Ron?" tanya Zoya gelagapan.


"Nona bukannya saya ingin campur, tapi bisakah anda ceritakan sedikit saja, inti permasalahan di antara kalian? Karena saya bisa tahu, kalian tidak sedang baik-baik saja," tanya Ron yang benar-benar dibuat penasaran.


Zoya bergeming sesaat, benarkah dia perlu memberitahu Ron tentang masalahnya dengan Ken? Memikirkan itu semua, malah membuat tangis Zoya pecah.


"Hiks, ada kemungkinan aku hamil, tapi Daddy tidak percaya." Ujar Zoya dengan bibirnya yang bergetar.


Dia kembali memeluk erat perutnya sambil mengigit bibirnya kuat-kuat. Kedua bahu itu kembali naik turun, seiring tangis Zoya yang menderas.


"Oke. Sudah cukup, Nona tidak perlu melanjutkannya lagi. Sekarang beritahu saya, anda mau ke mana?" Ron paham sekarang, bagaimana kecewanya Zoya.


Pun dengan kekalutan Ken. Satu kesalahan di antara keduanya adalah tidak adanya keterbukaan, karena sesuatu yang disembunyikan adalah satu-satunya boom waktu di suatu hubungan.


Itu yang Ron tahu, jomblo begini dia juga belajar dari beberapa kasus orang-orang yang memiliki pasangan. Hingga dia cukup memahami permasalahan yang tengah melanda Ken dan Zoya.


"Aku mau ke rumah sakit untuk memeriksakannya. Aku mau memastikan aku benar hamil atau tidak, kalau iya, aku mau bertanya tentang soal test DNA. Aku ingin membuktikannya pada Daddy."


Tanpa sadar, Zoya malah membeberkan semuanya pada Ron. Entahlah seolah rasa yang menghujam dadanya, mendorong dia untuk bicara.


Ron manggut-manggut, tanda mengerti, dan akhirnya mereka pun ke rumah sakit untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Ron senantiasa mendampingi Zoya.


Gadis itu bilang. "Nanti Asisten Ron dikira suami Zoya, Zoya nggak mau. Kan ayah Baby hanya Daddy."


Saat itu, Ron hanya mengangguk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Ada rasa lucu pula, membayangkan gadis sepolos ini bisa menghadapi Ken yang jauh lebih keras kepala.


Setelah selesai ke rumah sakit, Ron mengantarkan Zoya pulang ke mansion. Dia sudah menghubungi Bi Lila sebelumnya, menanyakan keberadaan pria itu, dan benar saja Ken memang berada di sana.


Kedua orang berbeda generasi itu keluar dari taksi, sepanjang perjalanan hingga mereka sampai di mansion Zoya terus menunduk dengan senyum malu-malu.


Dia malu pada Ron, karena ternyata dia tidak hamil, dia hanya masuk angin. Dan dia harus segera memberitahu hal itu pada Ken, agar mereka tidak lagi salah paham.


Namun, entah bencana apalagi dalam hubungan mereka. Di ambang pintu, Zoya melihat Ken tengah menarik tangan Nora naik ke atas tangga.


Deg!


Jantung Zoya seolah berhenti berdetak, senyum yang sempat tersemat di bibir mungilnya kembali tertanggal. Dia menarik nafasnya dalam, tetapi udara di sekitarnya seolah kosong.


Hah!


Dia segera berbalik, sekuat tenaga dia membawa kakinya melangkah keluar dari mansion dengan lelehan air mata yang jauh lebih menderas.

__ADS_1


Kesalahpahaman itu seolah tak berujung. Karena sebenarnya Ken tengah menyuruh Nora untuk mengemasi barang-barangnya, dia yang tengah diselimuti amarah, menarik kasar lengan wanita itu.


"Kak, kamu tidak bisa bersikap seperti ini padaku! Aku ini calon istrimu!" pekik Nora sambil meronta.


Seketika mata Ken memicing. Rahangnya bertambah mengeras. "Jangan bicara omong kosong, perlu kamu tahu! Zoya adalah wanitaku, dia satu-satunya wanita yang akan menjadi istriku. Sekarang pergi dari mansionku!"


Deg!


*


*


*


Nikmatin, nikmatin meski nulisnya sambil mewek😌😌😌 Biar gue kagak dikira nganu nganu terusπŸ₯±πŸ₯±πŸ₯±


Daddy bilek : Baru buka puasa, udah disuruh puasa lagi aja, ntar lama-lama gue lelepin lu Thor.


Ngothor : Kalo dilelepinnya sama python sih kagak masalah.


Daddy : Jangan ngadi2, halu lu ketinggian, sadar-sadar. Woy sadar!


Ngothor : Lu yang sadar! Anak orang dibuat nangesss, eh lu nya juga nangesss.


Daddy : Kagak sengaja yailah, gue esmosi tingkat dewa.


Ngothor : Yaudah nikmatin aja, python lu harus puasa!


Daddy : Thorrr...


Ngothor : Kagak ada!


Daddy : Thorrr...


Ngothor : Ama gue aja bijimana?


Daddy : Dih ogah!


Ngothor : Dih setannn! πŸ™„πŸ™„πŸ™„


__ADS_1


__ADS_2