Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Memuakkan


__ADS_3

Kedua pria berbadan tegap berdiri sejajar, sementara kepala mereka senantiasa menunduk, mereka akan mengangkatnya saat mereka bicara, atau jika memang sang tuan yang memintanya.


Mereka adalah pengawal bayangan yang sudah kesekian kali dikirim, karena seseorang yang diintai, memiliki mata dengan ketajaman yang lebih jeli.


Di hadapan mereka seorang pria tua duduk, masih terlihat cukup berwibawa di usianya yang hampir satu abad.


Dia menunggu laporan perihal sang cucu, tentang Ken dan para wanita jalaangnya.


Ya, kedua orang itu adalah suruhan kakek Abian, untuk mengawasi Ken. Keduanya akan bekerja pada saat jam-jam tertentu saja, karena Ken memiliki firasat yang sangat baik, saat dirinya tengah dibuntuti.


"Kami tidak pernah melihat Tuan Ken pulang terlambat, Tuan. Jika memang terlambat itu pun sepertinya karena urusan pekerjaan," jelas salah satu dari mereka yang merupakan juru bicara.


"Lalu? Setelah itu? Apa dia tidak pernah keluar malam lagi?" tanya Kakek Abian. Cukup merasa senang dengan laporan bawahannya, tetapi dia ingin memastikan bahwa Ken memang tidak lagi bermain-main dengan para wanita.


"Tidak ada, Tuan. Dalam catatan kami, selama ada Nyonya Nora, sekalipun Tuan Ken tidak pernah keluar malam."


Mendengar itu, kakek Abian dibuat senang sekaligus bingung. Karena tak bisa menebak, apa benar Ken telah berhenti dari kelakuan bejatnya, atau malah menjadikan Nora sebagai pemuas nafsuunya?


Tapi sikap Ken pada malam itu, seolah menentang bahwa dia berhubungan baik dengan Nora.


Kakek Abian dibuat pusing oleh Ken, sebenarnya permainan apa yang sedang dimainkan oleh sang cucu?


Apa perlu dia bertanya pada Nora?


*


*


*


Sementara di lain tempat, Reymond tengah bersiap-siap, malam ini dia akan keluar, karena ada urusan pekerjaan.

__ADS_1


Ada kolega bisnisnya yang baru saja datang di ibu kota. Dan dia ingin ikut menyambutnya, karena jarang sekali pembisnis dari Singapura itu menginjakan kakinya di Indonesia.


Tubuh tegap dan atletis itu terbungkus rapi oleh kemeja dan jas berwarna navy, dia menyugar rambutnya asal, dan diberikan sentuhan sedikit hingga terlihat rapi.


Di usianya yang sudah setengah abad, Rey masih cukup tampan dan perkasa, dan semua itu diakui oleh sang istri, apalagi bila sudah bermain di atas ranjang, Imelda akan terus memintanya lagi dan lagi.


Namun, semenjak kehadiran Zoya dalam hidup mereka, Imelda lebih sering marah-marah, dia juga tak berhenti memberi peringatan pada sang putra, agar menjauhi gadis cantik itu.


Dan Raga akan terus membantahnya. Zoya akan tetap memiliki ruang indah di hatinya, cinta itu akan selalu bersemayam, meski Zoya telah terang-terangan menolaknya.


Seperti saat ini, Imelda masuk ke dalam kamar, berniat untuk mengajak suaminya makan malam.


Namun, karena Reymond mendapat undangan dadakan, dia tidak memberitahu Imelda lebih dulu kalau dia akan makan malam di luar.


"Kamu mau ke mana, Rey?" tanya Imelda menyelidik, dia pun memindai penampilan suaminya dari atas hingga ke bawah, terlihat begitu rapi, dan tercium aroma tubuh pria itu, sangat wangi.


"Aku tidak bisa makan malam di rumah, Mel. Aku ada undangan dari kolegaku yang baru saja datang dari Singapura," balas Reymond apa adanya, kini dia tengah memasang dasi, sambil berkaca di depan meja rias milik istrinya.


"Aku buru-buru, Imelda. Waktuku tidak banyak, kalau aku mengajakmu, kapan aku berangkat? Kamu tahu sendiri selama apa kamu kalau berdandan."


"Kamu pasti bohong, kamu mau pergi ke suatu tempat kan? Jawab aku dengan benar!"


"Apa sih, Mel? Kenapa kamu selalu menuduhku yang bukan-bukan?"


"Aku tidak menuduhmu, Rey. Tapi aku tahu bagaimana kamu! Atau kamu....?"


"Apa? Ya Tuhan.... Kalau kamu tidak percaya, telepon saja asistenku, dia sedang menuju kemari."


"Aku tidak percaya, pasti kalian sudah bersekongkol."


Reymond mengusap wajahnya kasar, dan menghela nafas gusar. "Lalu kamu maunya bagaimana?"

__ADS_1


"Telepon kolegamu! Kalau tidak, aku tidak akan percaya!"


Pria matang itu mengeratkan gigi gerahamnya, sulit sekali memang menghadapi wanita satu ini, hingga akhirnya dia mengalah saja, dia menelpon koleganya di depan Imelda agar wanita itu percaya.


"Puas?" tanya Reymond dengan mata menajam.


Namun, Imelda sama sekali tidak takut. "Sangat puas, kamu boleh pergi!"


Tanpa rasa bersalah, wanita itu melengang, meninggalkan Reymond di dalam kamar. Sepeninggal Imelda, pria paruh baya itu langsung memijat pelipisnya, dan meninju udara.


"Benar-benar memuakkan!" gerutu Reymond.


Tak berapa lama kemudian dia turun, karena mendapat pesan bahwa sang asisten sudah ada di bawah.


Tanpa berpamitan lagi, Reymond langsung pergi begitu saja. Di dalam mobil, dia mendesaah frustasi, lalu menatap asistennya. "Bagaimana?" tanyanya.


"Jalan satu-satunya hanya test DNA."


*


*


*


Abis ini gue mau tobat, nggak nganu-nganu dulu, python mau gue kandangin, lu jgn pada protes, biar gue kagak dibilang nganu nganu terosss 🤧🤧🤧


Kalo mau anu, vote, kembang, kopi, silet beracun, tuh sumbangin. Jangan lupa komen juga biar emaknya python ini semangat 😩


Senin oy Senin.


Salam anu 👑

__ADS_1


__ADS_2