
Kaki jenjang itu terus berlari mengejar mobil yang membawa sang mama, dengan hati yang hancur pun dengan lelehan air mata yang menderas semena-mena.
Dia seolah tak memiliki rasa lelah, meski laju kakinya kalah cepat dengan kijang besi itu.
"MAMA!"
"JANGAN TINGGALIN KEN, MA!" teriaknya terus seperti itu, dadanya begitu terasa sesak, dan akhirnya dia berhasil ditangkap oleh kedua pengawal yang diperintahkan oleh kakek Abian untuk mengejarnya.
"Tuan Muda, kita harus kembali," ucap salah satunya, membujuk remaja itu untuk pulang.
"Tidak, aku mau ikut Mama, aku mau bawa pulang Mama!" Ken meronta-ronta meminta dilepaskan, sekuat tenaga dia ingin terlepas dari cekalan kedua orang yang memegang lengan kiri dan kanannya.
"Nanti kita jemput sama-sama, Tuan Abian dan Tuan Abraham pasti jemput Nyonya Ishana pulang," timpalnya lagi.
"Jangan bohongi aku! Aku bukan anak kecil, Mama pasti pergi karena aku nakal, Mama! Mama harus pulang!" rancau Ken terus sesenggukan.
Dia tak berhenti untuk meronta, ingin terbebas. "Lepaskan aku, aku mau mengejar Mama. Lepaskan!"
Dan pada saat itu, mobil berwarna hitam milik Abraham melintas. Dia segera menghentikan laju roda kijang besinya, saat melihat Ken menangis sambil dipegangi oleh kedua pengawal bawahan sang ayah.
Dengan gerakan cepat, Abraham turun dan menghampiri sang anak yang masih menangis, dia sengaja pulang, karena mendapat kabar bahwa istrinya keluar dari rumah dan meminta bercerai.
"Ken," panggil Abraham, sambil mengulurkan kedua tangannya.
Melihat ayahnya datang, tangis Ken semakin pecah. "Papa." Bocah remaja itu langsung masuk ke dalam dekapan Abraham, dan pria itu langsung menciumi kepala anak semata wayangnya.
Ken menangis seperti ini, pastilah terjadi sesuatu sebelum Ishana pergi dari mansion.
__ADS_1
"Ada apa, Sayang? Kenapa Ken menangis?" tanyanya.
"Mama pergi, Pa. Mama pergi sama Om itu, mereka membawa mobil berwarna putih, Ken tahu mobilnya seperti apa, ayo kejar Mama, bawa Mama pulang, Pa," adunya pada sang ayah.
Jadi Ken melihat semuanya, hati Abraham semakin hancur. Dia pun ikut meneteskan air matanya, dan secepat kilat dia mengangguk.
Dia sempat melihat mobil itu, karena mereka berpapasan di pertigaan jalan saat dia menuju mansion. Tak disangka, di dalam sana ada sang istri dan selingkuhannya.
"Papa kejar Mama yah, Ken tunggu di rumah saja," ujar Abraham sambil melepas pelukan Ken.
Bocah itu menggeleng. "Tidak mau, Ken mau ikut, Ken mau bawa pulang Mama."
"Kalau Ken mau Mama pulang, Ken harus menurut. Pengawal bawa Ken pulang ke mansion," titah Abraham dan dia kembali ke dalam mobil.
Kedua tangan Ken kembali dipegang kuat. "Papa, Ken mau ikut!" teriaknya pilu.
Namun, Abraham tak menghiraukan teriakan Ken lagi, karena dia harus cepat mengejar mobil itu, atau dia akan kehilangan sang istri.
Dia selalu merasa tertuntut, dan akhirnya komunikasi mereka jadi terhambat. Hubungan mereka semakin renggang, apalagi nafkah batin yang Abraham berikan terasa kurang untuk Ishana.
Membuat wanita itu mengambil langkah yang salah, diam-diam dia mencari pria lain, untuk memuaskan kebutuhan hasratnya.
Hingga dia merasa nyaman dengan kekasih barunya, Edgar. Pria yang terpaut lima tahun lebih muda darinya.
Abraham terus memijat pelipisnya, dia tahu dia salah, tapi bukan seperti ini yang dia inginkan. Melihat tangis Ken, benar-benar membuat ulu hatinya terasa ngilu.
"Ishana, ku mohon berikan hatimu sedikit saja, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," gumam Abraham.
__ADS_1
Dia memakai kecepatan tinggi, beberapa lampu merah terkadang dia langgar sesuka hati, untuk mengejar mobil putih yang samar-samar terlihat di depan sana.
Saat Abraham ingin mengimbangi kecepatannya, mobil tersebut justru melaju semakin kencang. Membuat Abraham yakin seratus persen, bahwa itu adalah mobil yang ditumpangi oleh Ishana.
"Shittt!" umpat Abraham, sambil menambah kecepatan, mereka tak peduli dengan teriakan para pengendara yang lain.
Mereka terus saling kejar-kejaran. Hingga mereka tiba di lampu merah, mobil yang ditumpangi Ishana tak bisa kendalikan lagi, apalagi lampu lalu lintas tiba-tiba berubah menjadi merah.
"Edgar, awas!!!" teriak Ishana.
Edgar membanting stir. Dan...
Brak!
Mobil putih itu menabrak truk besar yang sedang melintas, pun dengan Abraham yang dibelakangnya.
Tabrakan beruntun tak terelakkan, bahkan tubuh Abraham sampai terpelanting ke jalan, membuat orang-orang berteriak histeris.
Dan hari itu, menjadi kabar duka yang paling dalam untuk keluarga Tan, terutama bagi Ken.
Bocah remaja itu langsung menjerit, saat mendapat kabar bahwa kedua orang tuanya meninggal.
Dia menggeleng tak percaya dan akhirnya jatuh pingsan, berharap saat dia membuka mata, semua yang menimpa dirinya hanyalah sebuah mimpi, bukan sesuatu yang nyata.
*
*
__ADS_1
*
Peluk sini Dad🤧🤧🤧