Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Jangan Marah-marah Lagi Yah


__ADS_3

Gara-gara ucapan kakek Abian, sampai naik ke atas kamar, Ken jadi kepikiran. Dia merasa khawatir sekarang, takut kalau semua yang diperbuat di masa lalunya, akan terulang kembali pada salah satu anaknya.


Mau menyesal pun rasanya sudah tidak ada gunanya. Ken menghela nafas panjang, mencoba untuk tenang. Dia tidak mau wajah murungnya membuat Zoya jadi ikut-ikutan berpikir keras tentang masa depan anak-anak mereka.


Biarlah semua itu berjalan sebagaimana garis-Nya.


Ken kembali membuka pintu kamar Baby ABCDE. Terlihat di sana Zoya sedang berbaring, sementara pucuk dadanya masih saja menempel di mulut Baby A.


Pria tampan itu melangkahkan kaki ke arah ranjang, sebelum duduk Ken mengarahkan pandangannya pada semua baby sitter. "Kalian makanlah dulu, mumpung anak-anak sedang tidur. Kalian bisa makan secara bergantian."


Semua wanita itu pun mengangguk, patuh pada perintah Ken, tiga orang keluar lebih dulu. Sementara yang dua tetap tinggal untuk menjaga keempat bayi yang terlelap di box masing-masing.


Ken duduk tepat di belakang punggung Zoya, lalu menaruh nampan di atas nakas. Dia merasa bersalah karena sudah bicara sembarangan, padahal Zoya dengan sukarela mengurus anak mereka sampai terlihat kelelahan.


Zoya masih berada dalam posisinya, Ken tahu Zoya masih kesal, pria itu mengusap-usap kembali surai hitam milik istrinya, dan meninggalkan kecupan di sana. "Sayang, aku minta maaf. Maaf kalau perkataanku menyakitimu."


Ken sedikit membungkukkan badan, membuat dirinya ikut berbaring di samping tubuh Zoya, sementara satu tangan kekarnya melingkar di pinggang ramping wanita itu.

__ADS_1


"Ayo makan dulu, aku tidak mau kamu sakit," ucap Ken seraya melesakkan wajahnya di ceruk leher Zoya, wanita itu bergeming padahal dia tidak berniat untuk marah pada Ken, tetapi entah kenapa moodnya memaksa untuk terjun begitu saja.


"Sayang," panggil Ken tak berdaya, dan semakin mengeratkan pelukannya, mendengar itu akhirnya Zoya berhasil mengalahkan egonya. Dia bangkit setelah berusaha melepaskan susuannya, beruntungnya kali ini Baby A tak ikut bangun, bayi tampan itu hanya menggeliat kecil, lalu menaruh tangannya di atas kepala.


Ken mengulum senyum tipis, lalu segera mengambil piring yang sudah diisi dengan menu makan malam. Pria itu menyuapi Zoya dengan telaten, sementara Zoya hanya bergeming, dan sesekali menatap Ken yang terus melayaninya dengan suka cita.


"Kamu juga makan, Hubby," ucap Zoya tiba-tiba, menolak suapan Ken, agar pria itu juga ikut makan.


"Kamu dulu, Sayang. Habis itu baru aku makan."


Ken bisa merasakan bahwa Zoya sedang mati-matian menahan egonya, agar mereka berhenti marah-marah. Pria itu mengulum senyum, lalu mengusap satu sisi wajah Zoya. "Baiklah, aku makan. Tapi Mommy jangan marah-marah lagi yah, Daddy tidak suka."


Zoya pun mengangguk sambil berusaha untuk tersenyum, Ken meraih tangan Zoya lalu menempelkannya di pipi. "Beri aku bukti, kalau Mommy sudah tidak marah."


Zoya mengernyit, Ken semakin memberi kode dengan mengecup telapak tangan wanita itu. Zoya mencebikkan bibirnya, lalu dengan cepat Ken mematuk bibir itu.


"Wah, benar, ternyata Mommy sudah tidak marah."

__ADS_1


"Ish, Daddy!" Zoya mencubit perut Ken, merasa malu kalau Ken sudah menggodanya. Dan pria itu hanya bisa terkekeh, suka kalau Zoya sudah menunjukkan pipinya yang memerah.


"Daddy mencintai, Mommy. Mommy mencintai Daddy tidak?" tanya Ken dengan tatapan menggoda.


"Cih, kalau tidak cinta mana mungkin anak kita sudah lima."


Mendengar itu, Ken semakin terkekeh keras, merasa gemas dengan jawaban Zoya. Ken mendekatkan wajahnya, mengecupi bibir istrinya dengan kecupan kecil-kecil tetapi terasa sangat banyak. Keduanya hanyut, hingga lupa, kalau ada dua baby sitter di pojok sana, yang sedang melihat kelakuan mereka.


Sabar, sabar. Gumam mereka dalam hati, sambil mengusap dada.


*


*


*


Gue juga di pojok kok, sama kayak kalian🙂

__ADS_1


__ADS_2