
Seminggu telah berlalu.
Ken sudah mulai beraktivitas seperti biasa, dia sudah kembali ke perusahaan sejak tiga hari yang lalu. Masa hibernasi python telah usai, saatnya dia kembali untuk mengais uang untuk kebutuhan keluarga kecilnya yang baru saja dia bangun.
Semakin hari pula, pasangan sarang dan pythonnya semakin terlihat lengket, bak perangko, kalau sudah ada Zoya pasti ada Ken juga di sana.
Menempel di punggung bagaikan ulat bulu yang menempel di dedaunan.
Dan seperti apa yang telah dibicarakan tempo hari. Kakek Abian benar-benar pindah ke mansion ini lagi, tak peduli pada kesehatan jantungnya yang setiap kali dibuat berdebar tak menentu, akibat ulah sang cucu.
Pagi ini, Zoya membantu suaminya itu untuk pergi bekerja. Di luar mansion, itu artinya python harus mendapat kandang eksklusif, sudah menjadi rutinitasnya Zoya memakaikan apa saja di tubuh sang pria.
Dari mulai dalaman sampai dasi yang melekat di leher Ken. Seperti saat ini. "Baby, hari ini aku mau izin, karena sepertinya aku harus lembur. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan bersama Ron," ucap Ken sambil menatap Zoya yang tengah mendandaninya.
"Sampai jam berapa, Hubby? Apa sampai larut?" tanya Zoya, lalu menepuk dada Ken pelan tanda apa yang sedang dia lakukan sudah selesai.
Zoya berbalik hendak mengambil jas Ken, tetapi sebelum itu Ken memeluknya dari arah belakang. Zoya tersentak, tetapi akhirnya tersenyum juga. "Tidak akan terlalu larut, Sayang. Mana mungkin aku membiarkan istriku menganggur terlalu lama. Aku usahakan jam 8 selesai."
Ken meletakkan kepalanya di pundak Zoya, dan Zoya memberikan usapan serta ciuman singkat di pipi pria matang ini. "Baiklah, aku tunggu Hubby di rumah. Jangan lupa makan."
Ken semakin mengeratkan pelukannya, mengendus aroma tubuh Zoya yang selalu sukses membuat gairahnya melambung tinggi. "Lapar di perutku masih bisa aku tahan. Aku akan jauh lebih kelaparan jika tidak memakanmu. Kapan datang bulanmu selesai?" rengek Ken membuat Zoya mencubit lengannya.
"Sudah sana berangkat bekerja dulu, jangan menggombal terus, nanti puasamu malah semakin lama," balas Zoya sambil melepaskan tangan Ken dari pinggangnya.
Dia mengambil jas Ken lalu membantu memasangkannya. Ken menurut dia mengikuti semua yang diperintahkan Zoya.
Angkat tangan kanan, Ken mengangkatnya. Angkat tangan kiri, Ken mengangkatnya. Python kalau sudah tahu bertemu sarangnya, akan berubah jadi ular tanpa bisa, sangat patuh, nyaris tiada duanya. Karena takut tidak dapat jatah.
__ADS_1
"Beri aku DP dulu, Baby. Supaya aku semangat bekerja," ucap Ken menahan tangan Zoya yang hendak mengambil tas kerjanya. Zoya menghela nafas, tanpa banyak kata dia langsung menangkup satu sisi wajah Ken dan melabuhkan ciuman di bibir pria itu.
Takkan mungkin menjadi sesuatu yang singkat kalau sudah bercumbu dengan pria matang ini. Ken menahan tengkuk Zoya kuat-kuat, sementara satu tangannya meremass bulatan dari balik blouse yang dikenakan oleh Zoya.
Tsk!
Decapan perpisahan itu terdengar nyaring, Ken menyeringai dengan bibirnya yang basah, sisa ciuman mereka. Untuk yang terakhir kali, Ken mengecup kening istrinya.
"Hubby, kita ini belum mau benar-benar berpisah. Kamu kan mau mengantarku kuliah," cetus Zoya tak habis pikir, mau keluar dari kamar saja banyak sekali dramanya.
Semakin hari, Ken semakin terlihat manja. Mengalahkan manjanya seorang bocah yang mencari perhatian ibunya.
Mendengar itu, Ken hanya terkekeh, lalu menggandeng tangan sang istri turun ke bawah untuk sarapan. Di mana kakek Abian telah menunggu, hampir 15 menit dia duduk, Ken dan Zoya belum juga datang.
Pria tua itu tak bisa memprotes apa-apa, karena dia melakukan ini juga karena keinginannya sendiri. Setelah sarapan Ken dan Zoya pamit, pemandangan baru selama seminggu ini, Ken mencium tangan kakek Abian, membuat kakek Abian merasakan kerukunan.
Seperti hari-hari biasanya. Ken lebih dulu mengantar Zoya untuk kuliah. Kali ini, Ron bisa sedikit bernafas dengan lega, karena sudah jarang mendengar desahaan di belakang sana.
"Mimi cucu, Baby. Seperti semalam," ucap Ken, entah sengaja mengeraskan suara atau bagaimana.
"Hubby, jangan bicara yang aneh-aneh. Kita ini tidak sedang berdua," timpal Zoya dengan mendelikkan matanya, sambil menahan tangan Ken.
"Katanya kalau orang sedang berduaan, yang ketiganya itu setan. Jadi kita anggap saja yang lain itu setan." Ken menyerang Zoya, mengibaskan kepalanya di dada gadis itu, hingga Zoya bergerak kegelian.
"Hubby, stop!"
Sementara di balik kemudi, Ron mengernyitkan wajahnya.
__ADS_1
Setan? Bukannya dia yang banyak setannya?
*
*
*
Bukan setan lagi Ron, dia itu sarangnya dedemit πππ
Daddy : Lu ngomong apa, Thor? Sekate-kate mulutnya, belum aja gue cabein.
Ngothor : Yeh, gue mah ngomong apa adanya. Lu kan demit mesumm, apa kagak terima? Mau gue bikin neng joyaa dateng bulannya lebih lama?
Daddy : Dih nih orang cuma bisanya ngancem, kagak kreatif.
Ngothor : Secara senjata gue yang paling ampuhπππ
Daddy : Bodo amat, gue minta dipercepat! Nih anak-anak python gue dah pada nungguin. Dari maren icip-icip atas doang, kagak goa bergigi, pegunungan pun python daki.
Ngothor : Halah bulshittt! Gue kagak percaya ama lu, gue mau nanya sama mereka aja.
Daddy : Tanya sana, tanya! Jadi emak durhakim amat sama anak Sholehnya.
Ngothor : Sholeh mata lu soek! πππ
Daddy : (Ketawa jahat)
__ADS_1
Sarang ngulerπππ