Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Secepatnya


__ADS_3

Entah setan apa yang sudah merasuki Ron saat ini, hingga dengan berani dia justru menyelinap masuk ke kamar Siska dan mengunci benda persegi panjang itu.


Dia mengembangkan senyum, seraya menelisik tubuh gemulai yang tengah terlelap di atas ranjang, kekasihnya itu hanya menggunakan gaun minim, yang membuat hasratnya sedikit terusik.


Bahkan Ron bisa menebak bahwa Siska tidak memakai penyanggah payudaara saat ini. Buktinya pucuk dada wanita itu menyembul dari balik gaun tersebut.


Menyadari itu, Ron menyeringai tipis. Dia mendudukkan diri di sisi ranjang. Lalu menyingkap surai hitam Siska, agar tidak menutupi wajah cantik wanita itu.


"Sayang, kamu sengaja yah berdandan seperti ini? Kamu sebenarnya tahu kan aku mau datang?" bisik Ron di telinga Siska, sementara tangannya sudah bergerilya, masuk ke dalam gaun, berlarian menuju buah yang kini menjadi kesukaannya.


Mendapat sentuhan lembut itu, Siska sedikit melenguh, tetapi tetap pada posisinya. Dia malah semakin membusungkan dadanya, dan membuat pria matang ini bergerak cepat.


Dengan kegilaannya, Ron segera menyingkap gaun yang dipakai oleh kekasihnya. Hingga dua bulatan yang tumpah ruah itu terpampang nyata, di depan mata.


Ron meneguk ludahnya, menjilat bibirnya sendiri dan menatap lapar. Seolah sang singa jantan tengah melihat daging segar. Tanpa banyak kata, Ron langsung menyesap banjolan kecil itu.


Sementara tangannya memilin-milin bulatan yang satu. Ron dibuat kewalahan, apalagi buah dada Siska yang memiliki ukuran yang cukup besar.


Wajahnya terjerembab di bukitan kenyal itu, dan tangannya tak berhenti untuk bermain. Siska yang mulai merasa tak beres dengan tubuhnya sedikit demi sedikit mengerjapkan kelopak matanya.


Dan dia langsung terperanjat, karena tiba-tiba ada bayi besar yang menyusu padanya. Hampir saja dia berteriak, tetapi secepat kilat Ron menahan mulut kekasihnya.


Bukan dengan tangan! Melainkan sebuah ciuman brutal dan mematikan. Siska benar-benar dibuat sport jantung. Sudah terkejut karena kehadiran Ron, kini dirinya justru diserang.

__ADS_1


"Hmpt!" Siska berusaha untuk bicara, tetapi Ron tidak memberikan kesempatan. Dia justru menuntun tangan Siska menuju ke bawah sana.


Siska menolak, dan Ron tidak tinggal diam. Dia menahan tangan kekasihnya. Sementara ciumannya semakin terasa dalam. Hingga lama kelamaan Siska mulai terbuai, dia mulai masuk dalam permainan.


Di atas ranjang itu, Ron terus mengunci tubuh kekasihnya. Hingga Siska tak dapat ke mana-mana. Pria matang itu sudah di ambang batas rasa sabarnya, dengan nalurinya dia memberikan kenikmatan demi kenikmatan pada tubuh Siska.


Mulai dari daun telinga, hingga ke leher jenjang wanita itu, semuanya dibuat basah. Dan permainan itu semakin nyata, rasa panas itu semakin membara. Membakar tubuh keduanya.


"Kak, jangan seperti ini. Nanti ada Mama dan Papa datang," mohon Siska dengan wajahnya yang sudah tidak bisa dikondisikan, apalagi kini jari Ron mulai merayap nakal, mencoba menjelajah ke lembah lembab Siska yang ternyata sudah basah.


Menyadari itu, Ron tersenyum kecil. Dia juga ingin kepuasan, Ron membuka sedikit akses agar cacing besar Alaskanya bergerak leluasa. Dan Ron langsung menyuruh Siska agar mencengkramnya.


"Hanya malam ini, Sayang. Kita main cepat," jawab Ron sambil melirik pintu. Padahal dia juga merasa was-was, takut sang calon mertua mengetuk benda persegi panjang itu, dan mengetahui kelakuannya.


Namun, hasrat lebih mendominasi, apalagi kini Siska mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui. "Janji hanya sebentar, habis itu sudah yah." Ujarnya dengan malu-malu, bahkan pipinya tak berhenti memerah.


Siska mendesaah saat merasakan sesuatu yang aneh memenuhi sukmanya. Seluruh urat sarafnya seperti sedang dipermainkan. Hingga dia merasakan bulu romanya meremang-remang.


Keduanya mencoba menuju puncak dengan bantuan tangan kedua belah pihak. Tidak ada penyatuan, tetapi rasa ini sungguh mendebarkan.


"Ah, Kak! Kenapa milikku ditusuk-tusuk?" protes Siska dengan sedikit membuka mulutnya, Ron tak menjawab, karena dirinya nyaris di atas puncak nirwana tertinggi.


Dia menarik tengkuk Siska dan kembali mencium dengan buas. Gelombang itu sudah hampir datang, hingga tak berapa lama kemudian, cacing Alaska berhasil memuntahkan kembali larvanya di atas ranjang.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, sebuah ketukan di pintu membuat kedua orang itu langsung berubah gelagapan. Siska dan Ron kompak saling pandang, dengan cepat-cepat pria itu turun dan membenahi pakaiannya, meski cacingnya belum muntah dengan sempurna.


"Ron, Sis, kalian sedang apa?" tanya seseorang di luar sana, yang ternyata adalah ibu Siska.


Jantung mereka langsung berdebar kencang. Ron menyuruh Siska membenahi pakaiannya, sementara dia yang akan membuka pintu.


Patuh, Siska hanya menganggukkan kepala. Ron melangkah cepat, lalu membuka pintu kamar kekasihnya, dan ternyata di sana tak hanya ada ibu Siska saja, melainkan ada pula, ayah Siska dan kedua orang tuanya.


Glek!


Ron menelan salivanya susah payah.


Ayah Siska maju selangkah, dan melihat suasana kamar putri bungsunya. Dia tersenyum kecil. "Sepertinya mereka memang harus secepatnya menikah."


Blush!


Wajah Ron dan Siska langsung berubah memerah.


*


*


*

__ADS_1


Gue abis bikin sarang python, lu nggak pada mau masuk apa? 😌😌😌🐍🐍🐍



__ADS_2