Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Python #30


__ADS_3

Ken mengacak-acak rambutnya, dia mendengus kasar dan berlalu dari pintu kamar mandi, mengambil handuk dan melilitkannya di pinggang.


Hari ini dia benar-benar sial! Padahal dia sedang ingin bercinta dengan Zoya, setelah dirinya dibuat merana. Namun, sang istri malah tidak mau bertemu dengannya.


"Sial! Apa bayi yang dikandung Zoya itu bukan anakku? Makanya mereka menyiksaku seperti ini?" gumamnya sambil melangkah keluar, menuju kamar sebelah.


Ken merutuk karena merasa dipermainkan, tetapi begitu kesadarannya kembali, Ken langsung menggelengkan kepala. Pemikiran apa itu? Jelas-jelas setiap pagi, siang, sore dan malam, dia yang menghajar Zoya tanpa ampun, sampai istrinya itu tak pernah terlihat menganggur.


Kenapa dia malah meragukan benihnya sendiri. "Haish, Ken, apa yang kamu pikirkan? Mereka itu anak-anakmu, mungkin mereka sedang ingin bermain petak umpet."


Ken menarik nafas, dan membuangnya secara perlahan, agar kekesalannya menghilang. "Jadi, sabar. Jangan marah-marah. Nanti Zoya malah kesal padamu. Lebih baik, kamu turuti saja semua kemauan ibu hamil itu. Agar pythonmu aman."


Pria tampan itu membuka pintu kamar sebelah, lalu dengan cepat dia masuk ke dalam kamar mandi. Dia segera membuka handuk dan melihat pantulan tubuhnya di sebuah cermin besar, yang ada di sana.


"Ingat, Ken. Jangan marah-marah. Kamu masih bisa melakukannya sendiri," gumam Ken lagi, memandang ular pythonnya yang layu, karena tidak mendapat siraman roh halus.


Sepertinya hari ini dia memang ditakdirkan untuk bersolo karir. Ken menyalakan shower, ingin memulai ritualnya, bertapa di nirwana. Namun, sampai beberapa saat dia berusaha, pythonnya tetap tak mau bangun, benda yang sedari tadi gondal-gandul itu terus terlelap, tak peduli meski Ken meremaas-remassnya, atau apapun itu.


"Ck, benar-benar sial! Bagaimana ini?" Ken menjambak rambutnya karena merasa frustasi, padahal hasratnya sedang menggelora, dia butuh sentuhan Zoya.


"Baby, tolonglah, jangan menyiksaku seperti ini," rengek Ken dengan bibir yang mencebik, dia kembali menyambar handuk, dan kembali melangkah ke kamarnya untuk menemui Zoya.


Sabodo teuinglah, Zoya mau melihatnya atau tidak. Yang penting dia tidak sampai sakit kepala, karena menahan hasrat yang sedang berada di puncaknya.


Ceklek!

__ADS_1


Wajah Ken yang sudah sangat masam, berubah berbinar.


Ternyata pintu kamar tidak dikunci, dan Zoya terlihat tengah memakai hand and body lotion. Zoya menatap Ken yang baru saja masuk ke dalam kamar, seketika senyumnya mengembang.


"Hubby, kamu sudah mandi?" tanya Zoya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


Mendapati itu, kening Ken mengernyit, tetapi karena tak mau membuang kesempatan emas ini, Ken langsung mendekat ke arah Zoya. "Belum, Baby. Padahal aku ingin mandi denganmu. Tapi kamu malah menyuruhku mandi di sebelah. Kamu benar-benar mengerjaiku yah? Katanya tidak ingin melihatku."


Mendengar itu, bukannya menjawab Zoya justru terkekeh dan segera bangkit dari kursi meja rias. Dia lantas memeluk tubuh telanjang Ken. "Hehe, aku tidak bercanda, Hubby. Tadi aku benar-benar tidak ingin melihatmu, aku juga tidak tahu alasannya. Tapi sekarang sudah tidak lagi, aku malah merindukanmu."


Zoya membenamkan wajahnya di dada Ken, dan semakin memeluk erat pria tampan itu. Membuat getaran di tubuh Ken menggeleyar seketika. Sentuhan Zoya sungguh tidak ada duanya. Apalagi dada wanita ini semakin terasa menghimpitnya.


Mendengar ucapan Zoya itu, Ken langsung tersenyum sumringah, rasa kesalnya menguap seketika, dia menangkup kedua sisi wajah Zoya.


Pandangan mereka bertemu.


Namun, Zoya justru mendorong dada Ken, hingga tubuh mereka kembali berjarak. "Tapi aku sedang tidak ingin melakukannya." Ucap Zoya apa adanya. Dia sedang tidak bernafsuu untuk bercinta.


"Kalau begitu bantu aku mengeluarkannya."


Zoya menatap Ken, dia nampak berpikir sejenak. "Asal ada syaratnya."


"Syarat apa, Baby. Biasanya juga tidak pakai syarat-syarat segala," ucap Ken yang mulai keberatan. Dia sudah rela tidak mendapatkan jatah, tetapi Zoya masih saja banyak maunya.


"Aku mau lihat Hubby makan rambutan."

__ADS_1


Ken tampak melongo dengan keinginan sederhana istrinya. "Aku makan buah rambut-rambut itu? Bukannya kamu yang menginginkannya, Baby?"


"No, aku kan tidak bilang ingin memakannya. Aku ingin, Hubby yang makan buah itu, aku hanya ingin mencabut bulu-bulunya saja. Ayo!" ajak Zoya, menggandeng tangan Ken hingga mereka duduk di tepian ranjang.


Dia mengambil buah rambutan yang dia pindahkan ke atas nakas. Seperti keinginannya, sebelum membuka buah tersebut, Zoya lebih dulu mencabuti bulunya satu persatu, membuat Ken merasa ngilu. Dia jadi teringat bulu pythonnya dicabuti oleh sang istri malam itu.


"Sayang, kenapa harus dicabuti dulu? Kan malah buang-buang waktu," ucap Ken dengan nada sedikit memprotes.


Mendengar itu, bibir Zoya mencebik. "Biar saja, kalau tidak mau menungguku biar bulu pythonmu yang aku cabut!" Ancamnya.


Glek!


Ken langsung angkat tangan, dia tidak mau kejadian itu terulang lagi, rasanya benar-benar sangat menyiksa. Dan pria tampan itu semakin tersiksa, begitu pythonnya digigit oleh sesuatu.


"Aw!" jeritnya. "Baby, ada yang menggigit pythonku!"


Zoya langsung mendelik. Bukannya menolong Ken, dia malah bertolak pinggang. "Hih, itu salah Hubby sendiri, makanya jangan taruh rambutan di atas tempat tidur kita, kan jadi banyak semutnya! Pythonmu pasti digigit oleh mereka."


"HAH?"


*


*


*

__ADS_1


Itu gue yang jadi semutnya🤣🤣🤣


__ADS_2