Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Kembali Patah


__ADS_3

Hancur?


Sakit?


Sedih?


Marah?


Kecewa?


Ya, semuanya menjadi satu dalam balutan hati yang mulai bertuan. Namun, sayang sang tuan kini lebih memilih pergi dan tak percaya pada ucapannya.


Benar-benar rasa yang mengoyak. Seberkas cahaya yang hangat, kini telah dingin, bahkan terasa beku. Apa yang harus dia lakukan agar Ken mau mendengar penjelasannya?


"Aku tidak menyangka akan jadi seperti ini, Daddy sekeras itu tidak percaya padaku, apa dia benar-benar tidak melihat kejujuranku?" rancau Zoya sambil sesenggukan.


Dia menangis sambil meringkuk dan memeluk lututnya. Kepergian Ken adalah luka terdalamnya, di lantai yang dingin, dia menangisi nasibnya.


Tubuhnya yang menghangat tak dia hiraukan, bahkan rasa mual itu masih kerap menyapanya. Namun, rasa kecewa itu lebih mendominasi, hingga dia terus bergeming, memikirkan cara, bagaimana? Bagaimana? Dan bagaimana?


Sambil menangis, otaknya diajak untuk bekerja keras saat itu juga, hingga cukup lama menimang semuanya.


Terbesit sebuah inisiatif, bahwa dia harus memeriksakan kandungannya. Dan mencoba untuk membicarakan soal test DNA, ya sepertinya itu adalah jalan supaya Ken percaya, bahwa dia tidak melakukan hal rendahan seperti itu.


Zoya mengelap air matanya yang menderas dengan punggung tangan, lalu dia kembali meraba perutnya. Mendekapnya dengan penuh sayang. "Baby, sabar yah. Baik-baik di sana sampai Daddy percaya pada kita."


Gadis itu seolah tengah berbicara pada seseorang. Air matanya kembali mengalir, tetapi segera dia usap kasar. Dia bangkit dan bersiap untuk ke rumah sakit untuk membuktikan semuanya.

__ADS_1


Membuktikan bahwa dia tidak pernah mengkhianati sang pria.


Sementara di sisi lain, Ken meminta Ron datang ke hotel tempat di mana dia dan Zoya menginap.


Dan begitu Ron sampai, pria matang itu langsung merebut konci mobil dari tangan asistennya, tanpa bicara sepatah katapun.


Dari gelagatnya Ron bisa melihat, sepertinya ada masalah yang menimpa hubungan Zoya dan tuannya.


Dia tidak pernah melihat sorot mata kosong seperti itu pada manik mata Ken, hingga dia yang terkadang membantah, kini hanya bisa diam saja.


Setelah kepergian Ken, Ron menelpon seseorang yang mengikutinya, dia tahu Ken pasti butuh mobil itu, hingga dia membawa satu anak buahnya. "Tidak perlu kemari, ikuti saja mobil, Tuan. Aku akan kembali ke perusahaan menggunakan taksi."


Sambungan telepon itu terputus secara sepihak. Ron menyetop taksi, lalu kembali ke Tan group, sambil memantau apa yang sebenarnya terjadi.


Ken terus melajukan mobilnya tak tentu arah. Air matanya kembali mengalir, hari ini sejarah seolah terulang kembali. Benarkan? Wanita itu semuanya sama! Mereka hanya memikirkan dirinya saja.


"Aarggghhhh!" Ken memukul kemudi dengan segala sesak yang menggumpal di dadanya. Dia juga beberapa kali menjambak rambutnya frustasi.


Sebuah bayangan pernikahan indah tak lagi ada, semuanya hanya khayalan semu semata. Semua keindahan itu tidak ada yang nyata.


"Kenapa kamu melakukan semua ini padaku, Zoy? Padahal aku sudah berusaha keras untuk menjadi yang lebih baik. Kenapa kamu tega melakukannya? Apa karena aku terlalu lama di sana? Kenapa, Zoy?"


Kepala Ken terasa berdenyut, sementara mulutnya tak berhenti untuk bicara. Seolah ada seseorang yang mendengarnya.


"Apa kamu tidak melihat ketulusanku? Aku bahkan melakukan semua itu demi kamu, demi kita. Tapi apa balasannya? Kamu malah mengandung anak orang lain?"


Ludah Ken terasa tercekat, sulit sekali walaupun sekedar menelannya. Bak diiris sembilu, hatinya tersayat-sayat akan bayangan pengkhianatan itu.

__ADS_1


"Semua ini karena cinta, cinta hanya pembodohan! BODOH!!!" Ken berteriak lalu memutar setir karena dia tidak terlalu fokus dengan jalanan.


Hampir saja dia menabrak pengendara motor yang menyeberang.


"Shitttt! Badjingan, brengsekkk, setan!!!" umpat pria itu tak habis-habis, sedalam ini luka yang dia rasakan.


Kenapa? Kenapa seperti ini?


Ken tergugu di balik kursi kemudi, kepercayaan tentang cinta yang selama ini dia pupuk harus kembali hancur lebur.


Semua rasa yang coba dia hadirkan kembali sirna, terhempas ke jurang yang tidak dia ketahui kedalamannya.


Hingga tak berapa lama kemudian, saat Ken sedikit lebih tenang, dia memutar arah dan memutuskan untuk pulang. Dan selama perjalanan itu, kenangan indahnya bersama Zoya terus berputar.


Otaknya tak bisa berhenti berjalan, bagai kaset kusut yang tengah disetel ulang, dan semua itu membuat rasa sakit yang menghantam dadanya jauh lebih terasa.


Dia kembali patah, oleh wanita yang dicintainya.


*


*


*


Daddy nya nangesss, sini gue mpok-mpok pythonnya, Dad😚😚😚


__ADS_1


__ADS_2