
Tak berapa lama kemudian, makanan yang mereka pesan datang. Troli itu Ken dorong masuk, hingga ke samping ranjang. Di mana Zoya berada.
Keduanya kini hanya menggunakan handuk kimono. Zoya yang kala itu masih menggeraikan rambutnya, membuat Ken ingin membantu untuk merapikan surai kecoklatan itu.
"Baby kemarilah, biar aku bantu ikat rambutmu," ucap Ken sambil mengulurkan tangannya yang sudah menegang ikat rambut milik Zoya yang dia temukan di dalam tas gadis cantik itu.
"Biar aku saja, Dad," tolak Zoya.
Namun, seperti biasa, Ken bukanlah seseorang yang bisa dibantah. Dia menggeleng dan menarik tangan Zoya agar mendekat. "Aku akan menebus kesalahanku, Sayang. Hari ini biarkan aku melayanimu."
Ken mengikat rambut Zoya tinggi-tinggi, menyisakan leher jenjang yang dipenuhi bekas percintaan mereka yang baru saja terjadi.
Bentuk asal yang Ken buat tak mengurangi kecantikan Zoya sedikitpun. Gadis itu justru semakin terlihat nakal di mata Ken, tetapi belum saatnya dia kembali menyerang.
Karena perut mereka butuh asupan.
Zoya begitu pasrah saat Ken menyuapinya dengan sangat telaten. Dia bahkan merasa begitu dicintai oleh pria matang ini. Namun, sayang hubungan mereka tak sejauh itu, dan entah sampai kapan akan terus seperti ini.
Setelah beberapa makanan itu tandas. Ken memberikan Zoya minum, tak lupa juga untuk membersihkan pinggiran mulut gadis itu dengan ibu jarinya.
Ah, tidak. Dia ingin menggunakan bibir, Ken sedikit menjilati sisa-sisa makanan itu hingga benar-benar bersih, turun ke dagu dan menggigit lekuk runcing itu.
"Daddy!" pekik Zoya sambil mendorong dada Ken.
"Kenapa, Sayang?" tanya Ken dengan wajah tanpa dosa.
"Kita harus pulang sebelum Kak Nora sampai di mansion. Aku tidak mau dia bertambah curiga."
__ADS_1
Zoya mengingatkan Ken, karena dia tahu apa yang akan dilakukan pria itu di detik selanjutnya, jika dia membiarkan Ken terus bermain-main dengan lidah dan mulutnya.
"Benar tidak mau main lagi?"
"Yes, i don't want," jawab Zoya ketus.
Mendengar itu, Ken terkekeh kecil. "Baiklah, aku hubungi Ron dulu, karena aku tidak akan kembali ke perusahaan."
Pria itu sudah bangkit dan menyambar ponselnya yang ternyata masih baik-baik saja, meski dilempar cukup kuat.
"Hei, kenapa seperti itu? Daddy harus kembali, dan pulang bersama asisten Ron seperti biasa."
"Tapi, Baby."
Ting!
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Ken, menghentikan perdebatan mereka berdua. Ken hendak membaca nama yang tertera, tapi sayangnya dia tidak menyimpan nomor itu, dia hanya tahu kalau itu adalah nomor Nora.
Dan satu pesan itu membuat Ken tersenyum lebar. Zoya yang melihat itu langsung mengernyit heran, ada apa dengan pria ini? Tiba-tiba tersenyum menakutkan begitu?
"Dad, what's up?" tanya Zoya dengan kedua alis yang terangkat.
Ken mengalihkan pandangan matanya ke arah Zoya, dan kembali melempar ponsel itu secara asal, dia merangkak ke atas ranjang.
"Aku tidak akan kembali ke perusahaan, Baby. Dan kita akan tetap di sini."
Ken menyeringai tipis, sementara matanya senantiasa melayang ke arah dua bulatan yang Zoya tutupi.
__ADS_1
"What? Kenapa? Siapa yang mengirim pesan pada Daddy?"
"Si Pengganggu, tapi hari ini dia tidak akan mengganggu kita, karena dia akan pulang ke rumahnya. Itu artinya, kini menginap semalam di sini."
"Tapi, Dad!"
"Pagi-pagi kita pulang, Sayang. Apa lagi yang kamu risaukan? Malam ini kita akan bersenang-senang, sepuasnya."
"Tapi kalau ternyata dia bohong bagaimana? Jangan-jangan ini termasuk jebakannya."
"No, Bi Lila akan melaporkan semuanya pada Daddy, jadi sekarang ayo kita main lagi."
"Ishhh, Daddy!"
Bruk!
Ken kembali membanting tubuhnya di ranjang berukuran besar itu. Menarik Zoya untuk naik ke atas perutnya yang rata.
Zoya yang selalu dibuat terkejut hanya mampu mengikuti gerakan Ken. Hingga kini, dia berhasil terduduk di atas tubuh pria matang itu.
Kedua netra mereka bertemu, Ken tersenyum senang, sementara Zoya mengernyitkan keningnya merasa heran.
"Let's go, Baby. Lakukan seperti malam itu, kendalikan aku dalam permainanmu."
*
*
__ADS_1
*
Pagi-pagi sirem kembangnya yah biar subur😘😘😘