
Pagi harinya, dengan wajah kurang tidur, Ken bangun, meski begitu dia tetap tersenyum, karena pada saat Ken membuka mata, dia langsung disuguhi wajah Zoya.
Wanita yang akan Ken pastikan selalu berada di sampingnya, Ken mengecupi pipi Zoya bertubi-tubi, untuk memulai pagi yang cerah ini. Dia harus cepat bangun, karena akan ada meeting dengan kliennya yang berasal dari luar negeri.
Tanpa membangunkan Zoya, Ken langsung beranjak ke kamar mandi, dan bersiap-siap ke perusahaan.
Sebisa mungkin Ken tidak mau membuat Zoya stres, karena itu semua akan berakibat fatal pada kondisi mental ibu menyusui, kelima bayi mereka pasti akan merasakan apa yang dirasakan ibunya.
Setelah memakai baju kemejanya, Ken tak langsung memakai jas, dia justru menggulung baju itu sampai ke siku.
Sementara di atas ranjang, Zoya mulai menggeliat, merasakan cahaya yang sudah masuk melalui celah-celah jendela.
"Hubby, kamu sudah siap-siap? Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Zoya dengan suara parau. Dia bertanya tetapi tubuhnya masih menempel pada guling.
Ken mengulum senyum, lalu melangkah ke arah Zoya, mengecup bibir itu sekilas. "Kamu semalam kurang tidur, Sayang. Aku sengaja tidak membangunkanmu." Jawab Ken, duduk di sisi ranjang dan mengelus puncak kepala istrinya.
Zoya menangkap pergelangan tangan Ken, dan ikut memgecupnya sekilas. "Kamu juga kurang tidur, Sayang. Apa kamu akan baik-baik saja? Sedangkan setiap pagi kamu harus bekerja." Ucap Zoya, merasa kasihan pula pada Ken, yang harus membagi waktunya yang semakin terasa sempit.
__ADS_1
Ken menganggukkan kepala, mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja, seperti yang Zoya katakan. "Doakan aku selalu sehat, Baby. Supaya aku bisa menjaga kalian terus."
Zoya tidak bisa untuk tidak meleleh, rasanya dia rindu sekali bermanja-manja dengan Ken, semenjak kehamilannya bertambah besar, dan sampai sekarang, mereka belum pernah lagi menyatu.
Zoya rindu, tetapi si ular python masih belum bisa melakukan ritualnya. Hingga akhirnya Zoya bangkit, dan lebih dulu memulai mencium bibir Ken, meski tidak menyatu mereka masih tetap bisa bermesraan.
Ken mengulum senyum, hatinya selalu berdesir saat Zoya lebih dulu meminta semuanya. Seolah wanita itu tengah menunjukkan rasa cintanya pada Ken, dan Ken sangat suka itu.
Zoya jelas tahu bagaimana prianya, kali ini dia tidak akan kalah begitu saja, Zoya menyesap bibir Ken, membuat gerakan brutal, sehingga Ken merasa tertantang.
Pria itu tersenyum smirk di antara ciumannya bersama Zoya. Bahkan Ken menahan tengkuk itu, agar lidahnya melesak lebih dalam, Ken mengangkat tubuhnya, satu lutut bertumpu, sementara kedua tangannya berganti mengungkung Zoya.
Namun, yang ditunggu-tunggu justru masih menuntaskan hasrat yang bergemuruh di dalam dada. Ken menyesap kuat bibir Zoya, wanita itu melenguh merdu, meringsekkan tubuhnya ke ranjang, sementara kedua tangannya mencengkram dada Ken, hingga kemeja itu lusuh.
Tangan lentik itu dengan lihai, membuka kancing kemeja Ken, mengusap dada bidang itu dengan gerakan memutar, semakin menarik hasrat ingin menyatu.
Namun, pekikan Zoya menghentikan kegilaan Ken, pria itu langsung menarik diri dan menatap wajah istrinya yang terlihat kesakitan.
__ADS_1
"Sayang, ada apa?" tanya Ken cemas, mengusap wajah Zoya dengan lembut, dia takut melakukan kesalahan, Ken langsung mengancingkan kembali kemejanya, lalu berbaring di sisi Zoya.
"Asiku terasa penuh, rasanya sakit, Hubby," ujar Zoya jujur, wajahnya menampakkan rasa nyeri yang memenuhi dadanya.
Mendengar itu, Ken pun mengerti, dia bangkit dari atas ranjang. "Aku ambil dulu ya alatnya." Ujar pria tampan itu, tetapi Zoya menahan tangan Ken, hingga Ken menoleh ke belakang.
Pria itu bertanya dengan sorot mata, Zoya menarik lengan Ken, agar suaminya mendekat, dan Ken pun patuh. Dia menangkup satu sisi wajah Zoya. "Ada apa, Sayang?"
"Aku mau Hubby yang membantuku mengeluarkannya," ucap Zoya, membuat Ken mengernyit, dia baru mengerti setelah Zoya membuka baju tidurnya, dan menampilkan dua buah kesukaan Ken yang kini sudah menjadi kesukaan anak-anaknya pula.
Belum sempat kembali bicara, Zoya sudah menarik kepala Ken, membenamkan wajah itu di salah satu buah dadanya, hingga kini sang ular kembali menemukan makanannya.
*
*
*
__ADS_1
Sukaan anak sulung lu tuh, Dad🤣🤣🤣