
Ken hanya memberi jeda untuk sarapan pagi, selebihnya dia menggempur kembali sarang kenikmatan milik istrinya dengan penuh nafsuu. Berharap setelah ini ada bibit premiumnya yang menjadi seekor python kecil, untuk melengkapi rumah tangga keduanya.
Pertempuran tiada habis, Ken kembali membawa istrinya ke puncak nirwana tertinggi dengan biraahi yang membuncang hebat. Mulut Zoya yang terbuka dia sumpal menggunakan jari, sementara tubuh bagian bawahnya terus bergerak.
Zoya hanya bisa mendesaah dan pasrah pada setiap perlakuan Ken. Perlakuan menyenangkan dan menggetarkan seluruh tubuh dan sukmanya dalam satu waktu.
"Hubby, kamu sungguh tidak lelah?" tanya Zoya dengan nafas pendek-pendek. Satu tangan Ken berganti mengunci kedua tangan Zoya di atas kepala.
Dan pertanyaan itu sukses membuat Ken mendongak, mata yang tadi berfokus pada kedua pucuk yang bergerak-gerak. Kini beralih pada wajah cantik Zoya yang berkeringat, ah sumpah demi apapun, Zoya terlihat sangat seksi sekarang.
"Tidak akan, Baby. Aku sudah mengatur tenagaku untuk hari ini. Kita keluarkan bersama lagi," balas Ken dengan tempo yang memelan, dan Zoya dibuat mabuk kepayang. Dia beberapa kali memejamkan mata, dan membukanya bergantian.
Sementara bibirnya terus mendesis, digigit dengan manja. Membuat Ken tidak bisa lagi berpikir dengan waras. Kenikmatan yang tiada akhir, dia terus menghujam inti Zoya dengan senjatanya yang kokoh, besar dan panjang.
Namun, suara ponsel milik Ken membuat fokus mereka jadi teralihkan. Kedua orang itu kompak melayangkan tatapan mereka masing-masing ke arah nakas.
"Hubby, ponselmu bunyi," ujar Zoya melihat Ken yang tidak peduli dengan itu. Pria matang itu mencoba acuh, karena ada desakan di bawah sana yang lebih penting dari apapun.
Ken tak menghiraukan dia terus bergerak, lalu tangannya bergerilya di tubuh bagian atas istrinya. Akan tetapi ponsel itu pun tak berhenti untuk berbunyi, entah sebab apa seseorang di seberang sana menghubungi Ken.
"Hubby, mungkin telepon penting. Ayo angkat dulu, Sayang," ujar Zoya sambil mendesaah-desaah. Dia ikut merasa tak enakan, jikalau memang itu mengenai pekerjaan.
Dan hal itu sukses membuat Ken berdecak keras. Merasa kesal karena kesenangannya terganggu. Dia menghentikan pergerakannya, lalu menyambar ponsel tanpa melepas penyatuan.
Saat dia melihat siapa yang menelpon, dia langsung menarik satu sudut bibirnya ke atas, senyum sinis. Dan dia langsung menggeser tombol hijau di layar.
"Halo! Ada apa?" cetus Ken, lalu mulai bergerak lagi, menghentak Zoya hingga wanita itu menganga lebar. Dan tak sengaja mengeluarkan lenguhan.
__ADS_1
Sementara di seberang sana, Ron langsung merutuk, sepertinya dia menelpon di waktu yang salah, karena di awal pembuka saja dia sudah disuguhi suara erotiis dari mulut istri tuannya.
"Ah, Hubby pelan sedikit!" jerit Zoya sambil menggigit bibir bawahnya, sedangkan Ken menyeringai, dia sengaja melakukan itu semua, berani mengganggu kesenangannya, maka harus berani menerima akibatnya. Dia bahkan membuka ikon loud speaker, agar Ron mendengar jelas desahaan mereka.
Ron benar-benar belum bisa berkata apa-apa, selain mendengarkan kegiatan panas yang sedang berlangsung. Hah, lidahnya kelu sekarang, dan tak sanggup menjelaskan tujuannya.
Padahal dia hanya ingin bertanya kalau Ken ingin dijemput atau tidak. Semalam pria itu bilang akan membawa mobil sendiri, tetapi sampai siang begini tidak ada tanda-tanda batang hidungnya muncul.
"Hei, kamu membuang waktuku! Perlu kamu tahu aku sedang bekerja keras. Mau bicara atau tidak?" sentak Ken membuat Ron langsung tersadar.
Tak hanya bibir pria itu yang terdengar kasar, tetapi juga gerakannya. Hingga membuat Zoya tak bisa untuk diam. "Hubby, faster! Aku mau sekarang!" Jerit Zoya merasakan tubuhnya yang sudah tidak karuan. Karena gelombang itu nyaris datang.
Wanita itu mencengkram erat dada suaminya sebagai pelampiasan.
Mendengar itu, Ron menelan salivanya kasar. Tiba-tiba ada yang menggeliat di bawah sana, meski dia tidak tahu pasti itu apa. Hah, jangan! Jangan menggoda imannya yang hanya sebesar butiran debu.
"Maafkan saya, Tuan. Lain kali saya akan menelpon di waktu yang tepat," ucap Ron cepat-cepat, bahkan dia langsung mematikan panggilannya secara sepihak. Sudah tidak kuat dengan suara yang mengganggu gendang telinganya.
Terasa berdengung, dan membuat sesuatu dalam tubuhnya tiba-tiba ingin mencuat. Hingga sebuah ketukan pintu, membuat fokusnya teralihkan sejenak.
Tok Tok Tok
"Asisten Ron, ini aku Siska," ucap seseorang yang mengetuk pintu, meminta izin untuk masuk ke dalam ruangan Ken yang merangkap menjadi ruangan Ron.
Mendengar itu, seketika senyum Ron langsung mengembang.
*
__ADS_1
*
*
Deterjen : Mak sableng bin gendeng, lu kemana aje? Dua hari kagak ada kabar beritanye🙄
Ngothor : Si python kan lagi nyarang di gua nye, dia gue kasih waktu buat semedi, biar bibit premiumnya cepet jadi.
Deterjen : Oalah abis ini berarti dia mau punya anak ye?
Ngothor : Ya kagak tahu, tapi bolehlah, biar gue bisa nyiksa dia.
Daddy : Nggak usah aneh-aneh ngomongnya, nyiksa-nyiksa, lu dah kayak tempat pelebur dosa aja.
Ngothor : Lah lu kan emang banyak dosanya🥱 Terutama dosa sama gue!
Daddy : Dosa apaan gue sama lu? Gue disuruh puasa gue nurut, gue dimarahin sama neng joyaa gue terima, kurang apalagi cinta?
Ngothor : Kurangnya cuma satu, gue belum nyicip python lu!
Daddy : Idih najiiss! Pengenan python gue mulu🙄 jangan ngarep lu!
Ngothor : Oh jadi gitu, oke liat besok yah, gue bakal apa!
Daddy : Heh lu mau apa?
Ngothor : Rahasia 😌
__ADS_1