
Ron langsung mematikan panggilannya. Bisa gawat kalau bos gilanya tahu apa yang sedang dia lakukan bersama Siska. Dia cepat-cepat mengirimi Ken sebuah pesan, memberitahu kalau dia akan segera mencari dokter yang pria itu butuhkan.
Setelah itu, dia menatap ke arah Siska yang terlihat ngos-ngosan. Padahal wanita itu hanya terkejut karena benda yang dia pegang memuntahkan sesuatu.
Akan tetapi gara-gara Ken yang menelpon pula, membuat dia gemetaran, takut sang tuan tahu kelakuan nakal mereka, bermain cacing-cacingan di dalam kamar mandi, di saat jam makan siang.
Ron mengulum senyum tipis, merasa puas karena gelora di dalam tubuhnya sudah bisa dikeluarkan. Dia membenahi pakaiannya, dan membersihkan area sekitar.
Kemudian Ron menarik lengan Siska, dipeluknya wanita yang dicintainya itu. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah membantuku."
Siska menelan ludahnya kasar, dia masih saja deg-degan. Dia mendongak dan menatap wajah Ron yang terlihat sangat sumringah. "Kak, aku takut." Ujar Siska apa adanya.
Kening Ron mengeryit. "Takut apa, Sayang? Apa yang kamu takutkan?"
"Aku takut Tuan Ken tahu, kalau kita dihukum bagaimana?" tanya Siksa dengan segala kerisauan yang bersarang di dadanya. Dia benar-benar khawatir dengan reputasinya di perusahaan.
Apalagi selama ini, dia dikenal sebagai karyawan teladan.
Mendengar itu, Ron mengembangkan senyumnya, dia menarik dagu Siska dan kembali mencium bibir ranum itu. Disesap kuat hingga si empunya sedikit melenguh dan mencengkram dada sang pria.
Akibat ciuman itu, lama kelamaan kekhawatiran wanita itu berangsur luruh. Bahunya terasa lega, seolah tidak ada lagi beban yang dipikulnya.
"Aku akan bertanggung jawab untuk itu semua. Jadi kamu tenang saja, lagi pula Tuan Ken tidak mungkin asal memecatmu," jelas Ron, menenangkan wanita cantik itu.
"Benar begitu?" tanya Siska memastikan sekali lagi, bahwa apa yang didengarnya bukanlah sebuah omong kosong.
__ADS_1
Wanita itu berkedip pelan, dengan tatapan mata polos yang membuat Ron jadi terkekeh gemas. "Benar, Sayang. Sudah jangan pikirkan apapun. Sekali lagi terima kasih servisnya."
Cup!
Kecupan singkat Ron hadiahkan di kening Siska. Membuat wanita itu ikut tersenyum pula. "Tapi kenapa tadi cacingnya jadi kecil, Kak?" Tanya Siska penasaran, sekilas saat dia melihat Ron memasukan kembali cacing Alaska ke dalam sangkarnya. Ukuran cacing itu jadi berbeda.
Mendengar itu, Ron benar-benar tidak mampu lagi untuk menahan gelak tawanya. Dia menangkup kedua sisi wajah Siska dan memencetnya.
"Memang seperti itu cara kerjanya, Sayang," jawab Ron, sambil menggenggam tangan Siska, dia mengajak wanita itu untuk keluar, dan Siska hanya bisa patuh pada ajakan Ron.
"Kenapa bisa besar dan kecil?" tanya Siska tak habis-habis. Membuat Ron seketika menghentikan langkahnya.
Dia tersenyum lebar, lalu berbisik di telinga wanita itu. "Nanti aku beritahu setelah kita menikah. Sekalian langsung prakteknya."
"Aw, aw, sakit, Sayang. Jangan dicubit diusap-usap saja," ujar Ron dengan berkedip menggoda.
"Kak, kenapa kamu jadi genit seperti itu? Kamu belajar dari mana?"
Sebelum menjawab, Ron kembali duduk di sofa, dia menarik Siska hingga wanita itu jatuh dalam pangkuannya. Siska reflek menahan tubuhnya dengan memegang dada Ron, sementara pria itu memeluk pinggang kekasihnya.
Kedua pasang netra itu kembali bertemu, saling menatap dengan penuh cinta. Ron tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, ternyata rasanya jatuh cinta itu jauh lebih mendebarkan dari apapun. Bahkan dia merasa usianya bertambah lebih muda.
"Sayang," panggil Ron, dia kembali menatap Siska dengan kabut gairah yang berkelebat.
Dia selalu memiliki rasa penasaran pada wanita ini, sama seperti Ken yang kerap menatap lapar pada Zoya. Ah, ternyata memang nikmat rasanya. Menghajar wanita yang kita cinta dengan gairah yang membuncah.
__ADS_1
Pandangan Ron turun pada dua sembulan di dada Siska, terlihat sangat sintal, dan dia ingin mencicipinya.
Mendengar panggilan Ron, seketika Siska tersadar. Dia hendak bangkit, tetapi Ron menahannya. Pria itu mencekal pergelangan tangan Siska dengan erat.
"Kak, mau apalagi?"
Ron menjilat bibirnya sendiri, dan terus menatap Siska dengan intens. "Aku mau ini!" Tunjuknya, membuat Siska langsung membulatkan matanya.
"Kak, kamu—ah!"
Serangan dadakan langsung Siska dapatkan. Seperti singa kelaparan, Ron menyerang dengan brutal, pria matang ini sepertinya sudah kesetanan.
Namun, Siska tak pasrah begitu saja, dia menjambak rambut Ron, bukan jambakan manja, karena Ron justru meraung kesakitan. "Argh! Siska kenapa rambutku dijambak seperti itu?" protesnya.
Dan Siska malah mendengus kasar, sama sekali tak merasa bersalah. "Kamu harus ingat, Kak! Kita menikah bulan depan, jadi tidak ada acara mau ini mau itu lagi! Lagi pula apa kamu lupa, kamu kan sedang mendapat perintah dari Tuan Ken!" Cetus Siska mengingatkan sang pria.
Dan Ron langsung menepuk jidatnya dengan kencang. "Oh iya yah. Untung kamu ingatkan!"
*
*
*
Kan Ron jadi ingetnya anu-anu terus🤣🤣🤣
__ADS_1