Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Prahara Ikan Tongkol (2)


__ADS_3

Pada pukul 2 siang, Zoya baru saja sampai di mansion. Ketika ia keluar dari mobil, tiba-tiba El berlari dan menyambutnya dengan begitu antusias.


"Mommy!" panggil El yang baru saja keluar dari garasi mobil, gadis cilik itu lantas menghambur ke arah sang ibu.


"Sayang," jawab Zoya dengan wajah sumringah. Dia membuka kedua tangannya, agar bisa memeluk tubuh gembul El.


"Mommy, utah koyahnya?" tanya gadis cilik itu.


"Iya, Sayang. Kamu sedang apa tadi? Kok sendirian?" Zoya balik bertanya, lalu menggandeng tangan mungil El untuk masuk ke dalam mansion.


Mereka melangkah bersama.


"Main, Kakak tama Tetty agih bobo," jawab El. Sebab dia diam-diam kabur, setelah memastikan ayah dan semua saudara kembarnya tertidur pulas.


"Kenapa El tidak ikut tidur?" Zoya bertanya lagi, bahkan kini dia menghentikan langkahnya. Demi melihat wajah sang putri. Sudah hampir sore, tetapi El malah belum istirahat.


Bibir El terlihat mengerucut lucu, lalu menundukkan kepala, takut jika dimarahi Zoya. "El ndak atuk, Mommy."


Zoya menghela nafas kecil, dia melepaskan tautan tangan mereka, kemudian sedikit berjongkok, agar sejajar dengan tubuh mungil putrinya. "Seharusnya El istirahat, supaya sorenya bisa main sama Kak Caca. Tapi El sudah makan 'kan?"


"Utah, Mom."


Mendengar jawaban sang anak, wanita cantik itu pun tersenyum, lalu mengusak puncak kepala El dengan sayang. "Bagus, makan sama apa tadi?"


El langsung berkedip, mengingat makanan apa yang menjadi menu makan siangnya. Gadis cilik itu mengulum senyum, lalu berkata. "Tontol Tetty!"

__ADS_1


Dia terlihat begitu bersemangat, sementara Zoya langsung melebarkan kelopak matanya. Apa dia tidak salah dengar? Menu apa yang Ken berikan kepada putri mereka.


Zoya langsung bangkit, kemudian menatap serius. "El makan sama apa tadi?"


"Tontol Tetty, Mom," jawab El begitu polos, tetapi lain dengan Zoya yang langsung mendengus kasar, dia meraih pergelangan tangan El, lalu melangkah semakin dalam untuk mencari keberadaan suaminya.


"Daddy!" teriak Zoya dengan keras. Langkahnya pun terlihat tergesa, hingga membuat El sulit untuk mengimbanginya.


"Daddy, kamu di mana?!"


Zoya hendak naik ke atas tangga, tetapi dia melihat mainan yang berantakan dari arah playground. Bisa dia tebak, bahwa anak-anaknya ada di dalam sana.


Benar saja, ketika Zoya sampai di ambang pintu, dia melihat anak-anaknya tergeletak di mana-mana. Sementara Ken tertidur dengan satu botol susu di mulutnya.


"Ya ampun, Daddy!" Zoya berteriak lagi, karena sedikit emosi. Bisa dia lihat dengan jelas, keempat putranya masih belum mandi dari tadi pagi.


"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Ken dengan bola mata menyipit. Namun, tatapannya langsung melebar begitu melihat El berada di samping tubuh Zoya.


"Iya, aku memang sudah pulang. Ini kenapa anak-anak tidurnya begitu, ada yang di perosotan, ada yang di keranjang, ada yang di kolam bola, ada yang di atas kuda. Dan yang satu ini, bahkan tidak tidur sama sekali," cerocos Zoya tanpa henti. Namun, suaranya sedikit memelan, karena takut membangunkan anak-anaknya.


"Maaf, Sayang. Tadi anak-anak susah diatur. Jadi mereka tidur seenaknya."


"Harusnya kamu ikut pantau dong, Dad. Terus ini juga pada ke mana Nanny-nya?"


Zoya tidak melihat satu pun pengasuh di sana. Membuat dia geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Aku suruh istirahat, karena aku pikir anak-anak akan tidur siang."


Wanita cantik itu menghela nafas panjang. "Baiklah, tapi aku juga butuh penjelasan."


Kening Ken langsung berkerut, penjelasan apalagi yang Zoya minta. "Apa itu, Baby?"


"Tadi aku tanya El makan sama apa, terus dia jawab kayak gini. Sayang, tadi El makan sama apa?" Pandangan mata Zoya langsung mengarah pada putrinya.


"Tontol Tetty," jawab El tanpa ragu, bahkan dia senantiasa tersenyum. Membuat Ken langsung gelagapan. Karena bahasa anak gadisnya begitu mengkhawatirkan.


"Itu maksudnya apa, Dad?" tanya Zoya dengan tatapan menajam.


"Sayang, Sayang. Itu tidak seperti yang ada di pikiranmu," jawab Ken terbata-bata, antara ingin tertawa, dan juga takut melihat tatapan Zoya.


"Iya terus apa?! Masa putri sendiri mau dicekoki python milikmu!"


Ken langsung menepuk jidatnya. Dia sudah tahu, pasti pikiran Zoya mengarah ke sana. Sebelum menjawab, dia pun bangkit, lalu merengkuh pinggang ramping istrinya. "Pikiranmu mesumm terus, Baby. Apakah kamu sedang merindukannya?"


"Haish, jangan mengalihkan pembicaraan!"


Ken terkekeh kecil, lalu mengusak puncak kepala putrinya hingga El tersenyum lebar.


"Maksud El ikan tongkol, bukan si python," bisik Ken. Yang mampu membuat pipi Zoya langsung bersemu merah.


***

__ADS_1


Jangan salah kaprah ya, Mom🙈🙈🙈


__ADS_2