
"Hua ... Tetty, yam-yam El dimatan Kiala," adu bocah cantik itu sambil menunjuk kucing yang sedang menggigit ayam yang baru saja dibeli oleh mereka.
"Astaga," teriak Ken, sementara kucing itu berlari keluar.
Padahal Olaf sudah mencoba melepaskan ayam milik El dari gigitan Kiara. Namun, sepertinya Kiara menganggap bahwa ayam itu adalah mainan baginya.
Tangis El semakin pecah, dan Ken tidak mungkin membiarkan putri kesayangannya bersedih seperti itu. "Sudah ya, nanti kita beli lagi ayamnya. Nanti Daddy belikan yang banyak, oke?"
"Kiala natal!" jerit El, masih tidak terima.
"Iya mungkin Kiara pikir itu adalah mainannya, makanya El jangan mainan ayam didekat Kiara."
"Api yam-yam El ndak natal, Tetty. Diya iyem acah, Kialanya yang natal."
"Iya-iya, ya sudah." Ken mengusap-usap punggung El yang masih menangis sambil memeluk lehernya. Kemudian pandangan mata Ken beralih pada Olaf. "Kamu bereskan saja kucing itu, biar aku yang mandikan El."
"Baik, Tuan."
"Sayang, kita mandi dulu yah. Habis itu makan."
"Api Kialanya?" El masih sesenggukan, meskipun tangisnya tak sekeras tadi.
"Nanti Nanny yang urus. Sekarang kita mandi, habis itu makan sama Daddy."
Akhirnya El pun menurut, dia mau diajak untuk mandi tetapi dengan tingkahnya yang ingin mandi busa. Dan membuat waktu semakin terbuang banyak. Sementara di bawah sana, keempat putranya masih bermain uler-uleran bersama dengan Kakek Abian.
Pusing sekali rasanya kalau tidak ada Zoya. Sebab yang menurut padanya hanya satu orang bayi saja, yaitu putri mereka satu-satunya. Dia dan Zoya memang tidak berniat untuk memiliki anak lagi, sudah cukup lima anak saja.
__ADS_1
"El, ayo ini sudah siang, Sayang. Jangan mandi terlalu lama nanti kamu masuk angin," bujuk Ken yang sedari tadi menunggu El di dekat pintu.
"Acuk anin ituh apah?" tanya El sambil bermain boneka putri duyung yang biasa diletakkan di samping bathub.
"Itu penyakit. Nanti El harus minum obat, dan tidak bisa bermain. Ayo sekarang mandi dengan benar, habis itu kita makan, ini sudah siang, belum lagi nanti minum susu."
Mendengar itu, El yang memang tidak bisa minum obat, segera mengangkat tangan, meminta digendong oleh Ken. Dengan sigap Ken meraih tubuh gembul putrinya, kemudian membilasnya di bawah kucuran air shower.
Menciptakan momen berharga bersama sang anak yang tak dapat dia lupakan. Dengan telaten Ken memakaikan baju, dan memberikan wewangian. Bahkan sampai urusan rambut si kecil, Ken yang menatanya, meskipun tidak serapih yang dilakukan Zoya.
Akan tetapi El lebih suka Ken yang melakukannya. Ada kebahagiaan tersendiri saat sang ayah yang meladeninya.
"Finish, sekarang kita ke bawah, lihat kakak-kakakmu sedang apa."
El mengangguk antusias, dia turun dari ranjang dan digandeng oleh Ken.
Ken dan El berjalan pelan menuruni anak tangga, sampai di lantai bawah, Ken melihat ternyata semua anak-anaknya sudah berada di meja makan bersama Kakek Abian.
Ken mengulum senyum, kemudian menyusul bersama dengan El.
"Wah pintar sekali anak-anak Daddy. Habis ini mandi dan tidur siang yah, sambil tunggu Mommy pulang," ucap Ken seraya mendudukkan El di kursi meja makan, tepat di sebelahnya.
"Daddy yama banet, ita cemua utah lapel!" timpal Aneeq, sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya, meskipun belepotan tetapi tidak akan ada yang menghentikannya, sebab itu semua adalah proses belajar, agar anak-anak ular itu pandai melakukan aktivitas keseharian mereka.
"Maaf, kan tadi kalian asyik main. Daddy habis mandikan El."
"Iya, El tantik 'kan?"
__ADS_1
"Tantik apah? Cama acah, tantik kan Mommy!" ketus De tanpa perasaan, membuat El langsung mengerucutkan bibirnya.
"Tetty!" Rengeknya.
"Tidak, tidak. El cantik, di mata Daddy El yang paling cantik. Sudah ya, sekarang El makan seperti Kakak."
Ken mulai menyendokkan makanan, sebelum El menjerit menangis gara-gara ucapan salah satu kakaknya.
"Kek, kamu tidak makan?"
"Sudah, kakek sudah makan duluan."
"Oh, aku kira belum." Ken menoleh saat El menarik-narik tangannya. "Apa, Sayang?"
"Ituh apah?" tanya El melihat makanan di piring Ken.
"Ini ikan."
"Itan? Itan apah?"
"Ini ikan tongkol, Nak. El makan punya El saja, yang ini punya Daddy."
El menggelengkan kepala dengan bibir yang maju sedikit membuat wajahnya semakin menggemaskan. "Ndak au, El au tontol puna Daddy!" Jeritnya.
Mendengar itu, Kakek Abian langsung mengangkat kepalanya. "Ken!"
***
__ADS_1
🤦🤦🤦