
Cukup sudah rasanya Zoya mengacuhkannya dan hampir membuatnya gila. Dua minggu ini gadis itu berhasil mengobrak-abrik hatinya. Ken selalu diselimuti rasa bersalah, pun dengan rasa takut kehilangan yang menjerat lehernya.
Dia rasa cukup, dadanya dibuat sesak oleh penolakan Zoya. Cukup, atas rasa sakit yang menghantam jiwanya.
Ludah Ken terasa tercekak, mendengar suara itu bak sebuah kebahagiaan yang tidak dapat dia definisikan. Ada rasa lega yang membuncah, ruang udaranya sukses berhembus dengan leluasa.
Tatapan mata itu melumpuhkannya. Menjadikan pria yang dulu terkenal dengan sikap acuh dan tak peduli pada seorang wanita, kini berbanding terbalik. Zoya mampu membuatnya bertekuk lutut.
Sama halnya dengan Ken, Zoya pun tak kalah terpikatnya pada sosok pria yang berdiri tak jauh darinya. Pria yang begitu sempurna mengikat hatinya, hingga membuat dia jatuh sejatuh-jatuhnya.
Tatapan dalam itu menghasilkan degup yang semakin terasa kencang. Seperti sebuah pacuan yang membuatnya tak bisa berhenti untuk tenang. Bahkan kini tubuhnya gemetar, suara Ken menelusup indah, masuk ke dalam indera pendengarannya.
Dan tak berapa lama kemudian, Zoya mulai tersadar. Saat tubuhnya didorong masuk ke dalam, secepat pintu kontrakannya ditutup kembali oleh Ken.
Ken menyudutkan Zoya di belakang pintu. Hingga punggung mungil itu merapat, dan dia mengunci pergerakan Zoya dengan kedua tangannya.
Kedua manik mata itu kembali saling tatap. Desiran aneh itu kembali menguasai aliran darah mereka. Ken dan Zoya, sama-sama tidak bisa menahan degub jantung mereka yang memompa dengan sangat cepat.
"Baby, aku merindukanmu. Aku merindukanmu, Sayang."
Akhirnya, Ken bisa melihat keindahan wajah gadisnya, senyum tipis di bibir Zoya menjadi satu-satunya hal yang membuatnya tak bisa menahan diri lagi.
Karena detik selanjutnya, Ken hanya bisa mengandalkan rasa rindunya yang membuncang hebat. Dengan gerakan cepat Ken menyatukan bibir mereka berdua.
Mencium bibir ranum itu dengan sesapan yang begitu kuat. Sebagaimana rindunya selama ini.
Pria matang itu terus menyerang Zoya tanpa ampun. Memberikan bukti bahwa dia benar-benar merindukan gadisnya. Dia tidak memberikan Zoya celah untuk menghentikan kegilaan ini, hingga pria itu menelusupkan lidahnya.
Memaksa masuk ke dalam rongga mulut gadis itu, mengabsen sederet gigi Zoya yang berbaris rapih. Ken sama sekali tidak menyia-nyiakan kesempatan.
__ADS_1
Hingga akhirnya Zoya tak tinggal diam, dia memeluk erat leher Ken, dan membalas pagutan dalam itu. Saling mencecap satu sama lain, menguapkan rindu yang sudah menggunung.
Sungguh, baik Ken maupun Zoya, tidak ada yang ingin menghentikan aktivitas yang mulai memanas ini. Mata mereka senantiasa terpejam, menikmati sesapan yang tiada habis.
"Ugh, Hubby!" lenguh Zoya saat dia merasa tangan Ken tak berada di tempat yang semestinya.
Tangan nakal itu mulai merayapi tubuhnya dengan gerakan sesuka hati, gerakan yang membuat Zoya selalu dimabuk kepayang. Ken selalu tahu, bagaimana membuat dia merasa terbang.
"Baby, beri aku kesempatan, aku akan menjelaskan semuanya," ucap Ken ditengah nafasnya yang terdengar memburu, bahkan menyapu wajah Zoya yang sudah terlihat memerah.
Zoya meneguk ludahnya, dan dia pun mengangguk. Siap tidak siap, dia memang harus memberikan Ken kesempatan untuk memberitahu asal usulnya.
Ya, hanya pria ini yang bisa menjelaskan semua itu. Karena dia tidak sudi mendengarnya dari Reymond.
"Aku akan mendengarkannya, Hubby, maafkan aku membuatmu menunggu selama ini," jawab Zoya, membuat Ken tersenyum lebar.
Pria matang itu mengecupi bibir Zoya berkali-kali, sementara tangannya sudah melingkar sempurna di pinggang ramping Zoya. "Tapi aku mau memakanmu dulu, dia juga merindukanmu, Baby." Ucap Ken dengan menatap ke bawah sana.
Padahal dalam hati Zoya pun merindukan sentuhan Ken. Sentuhan yang dia kagumi dan dia damba, dia suka saat Ken menyentuhnya. Bagaimana pria itu memberikan lelehan kenikmatan yang tiada tara.
Hingga Zoya merasakan tubuhnya terangkat, dan dia semakin mengeratkan pelukannya pada leher Ken. Kedua tatapan itu bertemu, dan menghasilkan uluman senyum.
Seperti sudah benar-benar hafal di mana letak kamar Zoya, Ken langsung menendang pintu. Dan membawa tubuh gadisnya naik ke atas peraduan.
Ranjang itu terlihat kecil, tetapi tidak akan menjadi masalah untuk Ken. Karena dengan cepat pria itu sudah mengungkung tubuh gadisnya.
Tangan Zoya masih melingkar di sepanjang leher Ken. Menjadi awal di mana mereka memulai semuanya. Karena tiba-tiba ular python itu sudah menemukan di mana sarangnya.
Ular yang semula hanya bisa terlelap kini terlihat begitu tegak dan berurat, saat mendapati sarangnya siap untuk dikoyak.
__ADS_1
Lembah lembab yang sudah tidak dia singgahi selama dua minggu, masih terasa sama, hangat dan menggairahkan, hingga benar-benar mampu memberinya kenikmatan yang sempurna.
Ken memaju-mundurkan tubuhnya, dan seiring itu ada pula lenguhan dan derit ranjang yang bersahutan, seolah tengah bersorak-sorai memberinya semangat.
"Baby, ahhh...." Ken tak dapat mendefinisikan lagi bagaimana kenikmatan ini, dia benar-benar dibuat mabuk oleh himpitan di bawah sana. Terasa sangat sempit, dan memijat miliknya.
Dada Zoya membusung, dan hal itu membuat Ken semakin bernafsuu. Pria matang yang tengah gencar-gencarnya melepas bisa pythonnya segera menggigit salah satu bulatan. "Ah, Hubby. Kamu membuatku gila lagi." Pekik Zoya.
Dan Ken terus memacu tubuhnya. Suara gesekan itu membuatnya mendesaah hebat, dia semakin menghujam inti Zoya dengan pythonnya yang mematikan, hingga bibit-bibit itu menyemai, menyinggahi sarangnya.
"Aaaaahhh," desaah keduanya, setelah satu pelepasan menghampiri mereka. Zoya memeluk leher Ken erat, dan pria itu senantiasa menelusupkan wajahnya di antara ceruk leher Zoya.
Kedua nafas mereka saling memburu dan beradu. Pelepasan itu benar-benar membuat seluruh urat syaraf mereka menegang, lalu terhempas, hingga menyisakan rasa lemas.
Dan setelah itu, Ken berbaring di samping tubuh Zoya. Keduanya saling memeluk dan berbagi selimut. Sebelum memulai kembali permainan, Ken akan lebih dulu bercerita tentang bagaimana Maurin mengadopsi Zoya.
Tidak ada yang ditutup-tutupi, Ken menjelaskan sedetail-detailnya.
*
*
*
Ngothor : Wes wes bablas angine, gue bae kan ama lu, Dad? Kurang apa gue coba?
Daddy : Kurang banyak 🤪🤪🤪
Ngothor : Cih, gundulmu!
__ADS_1