
Hari berlalu, selama itu pula sikap Ken pada Nora tidak pernah berubah. Sementara Zoya dan Ken bertambah semakin dekat.
Namun, Nora memilih tidak peduli, dia terus menggoda Ken dengan lekuk tubuhnya yang seksii.
Nora terus seperti itu, saat dia berada di dalam mansion, bahkan dia begitu percaya diri, dan tak merasa risih walaupun Zoya melihat kelakuan nakalnya.
Dia ingin melihat seberapa lama lagi Ken akan bertahan, bukankah Ken adalah seorang pemain wanita, tetapi selama ini, dia belum pernah melihat pria itu membawa wanita lain ke dalam mansion.
Siang hari.
Ken berniat untuk menjemput Zoya, biasanya dia hanya menyuruh Ron untuk menjemput gadis itu untuk pulang, tetapi kali ini, dia ingin bertemu Zoya dan menghabiskan waktu bersama.
"Hallo, Baby. Daddy sudah di depan, Sayang. Cepatlah sedikit," ucap Ken di ujung telepon, tanpa menunggu jawaban Zoya, dia langsung mematikan panggilannya.
Tak berapa lama kemudian, Zoya terlihat berjalan ke arah mobil Ken. Dan pria itu langsung membukakan pintu untuk gadisnya.
Saat Zoya masuk, dia langsung disambut bibir Ken yang merampas paksa bibirnya. Pria itu menyesap benda kenyal nan candu itu, seolah mereka jarang sekali melakukannya.
Zoya memegang tangan Ken yang menahan tengkuknya. Sedikit demi sedikit, Zoya sudah bisa membalas ciuman Ken, membuat pria matang itu menyeringai tipis.
Bunyi decapan perpisahan kedua bibir itu terdengar sangat nyaring, Ken mengusap sisa salivanya yang ada di bibir Zoya menggunakan ibu jarinya.
Dan gadis itu hanya mampu diam, menerima semua perlakuan manis itu.
"Dad, kenapa Daddy yang menjemputku, biasanya asisten Ron?" tanya gadis itu.
Sebelum menjawab, Ken lebih dulu menyalakan mesin mobilnya, dan membawa kijang besi itu ke jalan raya.
"Aku mau menghabiskan makan siang bersamamu, Baby. Kita cari restoran yang enak. Kamu tahu itu di mana?" balas Ken, disertai pertanyaan pula.
"Eum, sepertinya Zoya tahu. Nanti di depan lampu merah sana belok kanan, lurus terus dan restorannya sebelah kiri."
Zoya memberitahu Ken, kalau tidak salah, di sana ada restoran mewah kelas atas, Zoya hanya mengetahuinya saja, karena tak pernah berpikir untuk makan di sana.
__ADS_1
"Okey, Baby. Let's go!" Ken sedikit mengusak puncak kepala Zoya.
Tak berapa lama kemudian mereka sampai di sebuah basemen restoran mewah yang ada di ibu kota. Begitu Zoya hendak membuka pintu, Ken justru menahannya.
"Kenapa, Dad?" tanya Zoya dengan kening yang mengernyit.
"Jangan keluar dulu, naik ke sini." Ken menepuk kedua pahanya, bahkan dia menurunkan sandaran kursi, agar mereka memiliki ruang untuk duduk berdua.
Patuh, Zoya berpindah posisi dengan dibantu oleh Ken, kini Zoya duduk dipangkuan Ken dengan kaki yang melebar, membuat dress-nya tersingkap hingga ke atas paha.
Ken tersenyum tipis sambil mengalungkan tangan Zoya ke lehernya.
Sejenak tatapan mereka terkunci, hanyut dalam naluri masing-masing, tanpa menunggu lebih lama lagi, Ken langsung menyerang bibir ranum itu.
Menyesapnya dengan kasar, sampai Zoya membalasnya. Pertautan itu menghasilkan bunyi decapan-decapan yang terdengar begitu nyaring.
Selagi bibir itu bertaut, tangan Ken yang sudah tahu apa yang harus dikerjakannya, meremat dua gundukan yang ada dibalik dress Zoya.
Hingga geliat erotiis, menarik Zoya menggerakan pinggul dengan sendirinya.
"Jangan bilang Daddy mau melakukannya di sini," cetus Zoya, paham dengan tatapan mata Ken yang sudah begitu lapar dengan lekuk tubuhnya.
"Sekali saja, Sayang. Ular pytonku sudah sangat lapar, setelah ini baru kita makan," jawab Ken, dengan rasa yang sudah sesak.
Mendengar itu, Zoya hanya bisa mendengus kasar, dan Ken dengan tangan lihainya, membuka penutup penyanggah buah kesukaannya. Hingga meluber seketika.
Kedua mata Zoya terpejam dalam nikmat, saat Ken menghisap dadanya kuat. Bahkan dimainkan dengan manja menggunakan lidah, membuat dirinya seolah melayang ke angkasa.
"Daddyhhhh!"
Tak bisa menampik, tubuhnya benar-benar tidak bisa menahan sentuhan maut yang Ken berikan. Hingga suara lenguhan dari bibir mungil Zoya dengan sendirinya lirih terdengar.
Mendengar itu Ken semakin berkabut, akal sehatnya mulai hilang dan tak terkendali, hingga dia terus mencumbui tubuh Zoya tanpa henti.
__ADS_1
Hingga tak berapa lama kemudian, kedua tubuh itu berhasil menyatu, dengan Ken yang terus bergerak di bawah sana. Membuat Zoya terlena.
Ah, ini benar-benar gila!
Zoya membenamkan wajah Ken di dadanya, dengan debaran yang meluluhkan kesadarannya.
"Sebut namaku, Baby. Please!" erang Ken.
Sementara Ken terus saja melakukan gerakan, mencoba menuntaskan, seiring dengan itu mulutnya tak berhenti untuk melahap pucuk yang sedang begitu tegang.
"Ken, ughtt."
"Ya, Baby. Terus panggil namaku!"
"Ohhh my, Ken. Ini gila!"
Zoya semakin dibuat melayang, selagi tempo hentakan yang terasa semakin cepat.
Dengan sendirinya, Zoya ikut bergerak. Nafas keduanya terdengar memburu, sesuai dengan pergerakan yang mereka buat.
Hingga tak lama kemudian Ken mengerang panjang, saat lahar panas itu kembali membuncah, keluar dari pusat tubuhnya memenuhi rahim Zoya.
Zoya dan Ken segera membereskan penampilan mereka, setelah itu Ken baru mengajak Zoya untuk masuk ke dalam restoran, dia memesan satu ruangan VVIP, agar lebih privasi.
Ken senantiasa menggenggam tangan Zoya, untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
Mereka tidak tahu saja, kalau di ujung sana, ada sepasang mata yang melihat keintiman keduanya.
*
*
*
__ADS_1
Mata siapa tuh yang minta dicolokkk🙈🙈🙈