Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Aku Tidak Boleh Kalah


__ADS_3

Ken segera mengambil alih gelas kopi dari tangan Nora dengan kasar. Dan kembali ke kursi kebesarannya.


Sementara wanita itu mematung, dan seolah tak punya muka. Karena harga dirinya sudah tercabik-cabik oleh Ken.


Tanpa sepatah katapun, Nora langsung membuka pintu dan berlari ke kamarnya, bahkan dia sempat membanting pintu ruang kerja Ken, dia melupakan sejenak siapa yang sedang dia hadapi.


Ken hanya melirik sekilas, lalu menyugar rambutnya dari belakang ke depan, dia nampak sedikit frustasi, karena senjatanya sempat merasakan sesak.


Namun, beruntungnya dia tak sampai menyentuh Nora. Kalau itu terjadi, sudah dipastikan dia harus bertanggung jawab pada wanita itu, dan kehilangan Zoya.


Tidak, dia tidak mau.


Otak warasnya masih bisa dia gunakan. Dan sekarang dia butuh mendinginkan kepalanya. Nafas Ken memburu, dia bangkit kembali dari kursinya dan berjalan ke dapur.


Dan alangkah terkejutnya, seperti mendapat durian runtuh di malam hari. Di dalam sana, dia mendapati Zoya tengah mengambil air minum.


Di tempatnya berdiri, Ken langsung menyeringai, tanpa memikirkan apapun lagi, Ken segera berlari ke arah gadis itu, dan memeluknya dari belakang.


Zoya yang tersentak kaget, hampir saja menyemburkan air minum yang ada dalam mulutnya.


Netranya membola saat dia melihat tangan kekar itu memenuhi pinggang rampingnya. Siapa lagi pelakunya, kalau bukan sang ayah.


"Baby, kamu sedang apa?" tanya Ken basa basi, sambil menciumi leher jenjang Zoya.


"Aku haus, dan air minumku habis. Jadi aku turun," balas Zoya jujur, sambil bergerak ke sana ke mari, merasa geli.


"Dad, jangan seperti ini, nanti ada yang melihat kita," sambung Zoya, dan Ken langsung tersenyum sumringah, otaknya langsung bisa berkerja. Dia tahu harus kemana untuk memuaskan hasratnya.


"Kalau begitu, kita ke tempat lain."


Tanpa banyak kata, Ken menggiring tubuh ramping itu untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.


Begitu sampai Ken langsung mendudukkan Zoya di meja.

__ADS_1


"Daddy kamu mau apa?"


"Kita akan melakukan sesuatu yang menyenangkan, Baby. Aku akan bermain cepat, membuatmu basah dan terasa ingin meledak."


Zoya mengedipkan matanya beberapa kali, tanda belum mengerti.


Dan saat itu juga Ken langsung menghilang dari pandangan mata gadis itu, dengan membuka kaki Zoya lebar-lebar. Kepalanya melesak di antara tubuh gadis itu.


Membuat Zoya langsung menjerit dan mencengkram rambut Ken saat dia merasakan benda kenyal tak bertulang menyapa liang kenikmatannya.


"Ught, Daddyhh! You make me crazy, Dad," lenguh Zoya dengan nafas yang mulai tersengal. Dan juga pinggulnya yang terangkat.


Sementara Ken tak berhenti untuk memainkan lidahnya, menyesap dan terkadang melumaatnya seolah irisan yang mirip buah peach itu adalah sesuatu yang teramat dia suka.


Zoya nyaris meledak, dan Ken langsung menyatukan dirinya dengan sang gadis.


"Have fun, Baby."


Sementara di sisi lain, tepatnya di kamar atas, Nora tengah menangis. Air matanya luruh begitu saja saat dia masuk ke dalam kamarnya.


Bak diiris sembilu, hatinya terasa ngilu.


Kini dia tengah berdiri di depan jendela yang sengaja dia buka, membiarkan angin malam masuk dan menampar kasar wajahnya.


Seolah ingin membuatnya sadar, bahwa mengejar pria seperti Ken adalah sesuatu yang sia-sia.


Namun, batinnya selalu memilih tidak tahu diri, dia terus merasa yakin bahwa semua ini hanya bagian dari cobaannya. Dia disuruh bekerja lebih keras lagi, untuk mendapatkan Ken.


Dan fokusnya teralihkan begitu ada satu panggilan yang masuk, ponselnya bergetar di atas meja rias.


Nora segera menghapus jejak basah miliknya, dan menyambar benda pipih tersebut.


"Kakek?" lirih wanita itu.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Nora langsung mengangkat panggilan itu.


"Hallo, Kek," sapa Nora lebih dulu saat panggilan itu terhubung, dengan suara yang nyaris serak.


"Hallo, Nora. Kamu belum tidur ternyata, Nak?"


"Belum, Kek. Nora baru saja membuatkan kopi untuk Kak Ken, dia sedang lembur."


"Oh baguslah. Bagaimana hubunganmu dengannya, apa kalian baik-baik saja?"


Nora bergeming sejenak. Dia harus berbohong, dia harus berusaha dan tidak boleh menghancurkan harapan Kakek Abian.


"Baik, Kek. Kak Ken selalu baik padaku. Tadi juga dia minta dibuatkan sup iga kesukaannya," jawab Nora, sekuat mungkin menahan sesak di dadanya.


Di ujung sana kakek Abian bernafas dengan lega. "Kamu benar-benar hebat, Nora. Terus dekati anak itu, lama-lama juga nanti dia luluh padamu."


"Pasti, Kek. Nora pasti bisa meluluhkan hati kak Ken."


"Aamiin, kakek selalu mendukungmu, Nak. Kalo begitu sekarang kamu istirahat saja, jangan begadang seperti Ken."


"Iya, Kek. Kakek juga istirahat yah."


Dan setelah mengatakan itu, akhirnya panggilan mereka terputus. Saat itu juga, air mata Nora kembali merembes, tetapi kali ini langsung dia tepis dengan kasar.


"Aku tidak boleh kalah!"


*


*


*


Uler piton mulai tahu sarangnya di mana🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2