Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Ngidam


__ADS_3

Zoya mencium punggung tangan Ken, saat mobil yang dikendarai oleh Ron sampai di kampus. Dia masih memanfaatkan waktunya untuk mencari ilmu sebelum usia kandungannya semakin besar.


Toh sekarang yang menanggung masa tri semester pertamanya adalah Ken, pria itu bahkan hanya bisa mengandalkan aroma parfum yang Zoya kenakan saat wanita itu jauh darinya.


Menjelang siang, baru Ken mulai terbiasa dengan indera penciumannya. Meski terkadang berubah-ubah. Ken bersandar di punggung kursi, dia mengusap puncak kepala Zoya sebelum wanita itu pergi.


"Hubby, semangat yah. Makan siang nanti aku ke kantor. Hubby mau dibawakan apa?" tanya Zoya dengan senyum cerah, secerah mentari di luar sana. Suasana hatinya cukup baik sejauh ini, dia hanya akan merasa cemas kalau Ken tengah mengalami morning sick. Bahkan terkadang mood swing.


"Bawakan apa saja, Sayang. Yang penting jangan sayur tauge, bayi tauge hasil pythonku kan sudah jadi," jawab Ken dengan wajah lesu, tidak ada gairah apapun semenjak dia mengalami kehamilan simpatik ini.


Mendengar itu, Zoya terkekeh kecil. Dia mengusap pipi Ken dan mengangguk. "Baiklah, aku akan membawakan yang lain untukmu. Kalau begitu, aku keluar dulu yah."


Satu tangan Zoya sudah berpindah pada handle pintu. Namun, tangan yang lain justru dicekal oleh tangan besar milik Ken. "Baby, yang ini belum kamu cium."


Zoya menoleh ke arah Ken, lalu melirik pula ke arah Ron.


"Anggap saja saya tidak ada, Nona. Seperti biasa," ucap pria itu nyaris tanpa senyum. Bukan dia yang ingin bersikap seperti itu, tetapi pria yang di belakang sana, yang meminta Ron agar tidak tersenyum pada istrinya.


Zoya mengulum senyum tipis, Ken segera menarik tengkuk Zoya dan menyatukan bibir mereka. Menyesap bibir itu terlebih dahulu sebagai sumber tenaga.


Hingga saat dia merasa puas, Ken baru melepaskan Zoya. Bunyi decapannya begitu nyaring. Ken mengusap bekas sesapannya dengan ibu jari. "Kamu boleh pergi, Baby. Ingat, hati-hati dan jaga bayi kita."


Zoya mengangguk patuh. Setelah itu, tak ada drama apapun lagi, Zoya keluar untuk masuk ke halaman kampus. Sementara mobil Ken kembali melandas, membelah jalanan ibu kota.


***


"Ron, aku kan sudah bilang, ganti pewangi ruangan di ruang meeting! Sial, aromanya benar-benar membuatku sangat mual," gerutu Ken sambil menutup hidungnya.

__ADS_1


Dia baru saja menyelesaikan meeting dengan masing-masing kepala divisi, tetapi karena kecerobohan cleaning servis yang lupa mengganti pewangi ruangan di ruang meeting tersebut, membuat Ken merasa mual.


"Maafkan_"


Belum sempat Ron menyelesaikan kalimatnya untuk menjawab ucapan Ken, yang diajak bicara justru sudah berlari ke arah ruangannya.


Ron menghela nafas panjang, akhir-akhir ini banyak sekali yang harus dia kerjakan. Yang di rumah, yang di kantor sama-sama sekarang banyak maunya!


"Hah, sepertinya memang nasibku ditakdirkan harus seperti ini," gumam Ron dengan wajah tertekan. Akhirnya dia mengejar Ken, dan pada saat dia masuk ke ruangan pria itu, terdengar Ken yang tengah muntah-muntah di dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Ken mulai merasa lega. Dia berbaring di atas sofa dengan botol parfum di tangannya.


Waktu makan siang telah tiba. Namun, belum ada tanda-tanda Zoya datang. Ken mengeluarkan benda pipih dari saku jasnya dan segera mencari nomor kontak Zoya.


Ken hendak membuat panggilan, tetapi pada saat itu masuk sebuah pesan yang ternyata dari istrinya.


Apalagi sih ini? Hah, Ken tak habis pikir dengan alasan Zoya.


"Shittt! Sepertinya para calon anakku sedang mempermainkanku! Bisa-bisanya mereka meminta Zoya tidak mau menemuiku! Sialan!" Ken bangkit dari sofa, dan mengepalkan tangannya di bawah sana.


Membuat Ron seketika mengernyit. "Sudah tahu itu calon anakmu, kenapa dimaki-maki juga?" Sayangnya Ron hanya bisa bergumam seperti itu di dalam hati, dia hanya menatap Ken keheranan.


Ken mendengus kasar.


"Ron!" panggilnya.


Dengan sigap Ron langsung melangkah cepat, dan berdiri di depan pria yang tengah emosi itu. "Iya, Tuan. Apa ada sesuatu yang anda butuhkan?"

__ADS_1


"Aku tidak mau keluar, kamu saja yang beli makanannya yah. Aku kirim lewat pesan apa saja yang aku inginkan," ujar Ken tanpa menatap Ron, kali ini nada bicaranya sudah memelan, mungkin dia kelelahan.


"Baik, Tuan."


Tak berapa lama kemudian, Ken sudah berhasil menulis pesanannya, dia langsung mengirim menu-menu tersebut pada nomor Ron.


"Aku sudah mengirimnya, Ron. Cari sampai dapat yah. Aku sedang menginginkannya hari ini," ujar Ken dengan wajahnya yang pucat, Ron yang merasa kasihan langsung mengangguk mengiyakan. Dan dia pamit untuk keluar.


Namun, belum sampai ambang pintu. Ron kembali dipanggil oleh Ken. Karena pria itu kembali mendapat pesan dari istrinya.


"Oh iya, Ron. Sekalian beli rambutan. Aku sudah lupa bentuknya yang bagaimana, jadi carikan sekalian yah. Zoya ingin benda itu katanya."


Ron garuk-garuk kepala. Kenapa dua-duanya bisa ngidam secara serempak sih? Namun, karena tidak bisa menolak. Ron hanya bisa patuh, dan menganggukkan kepala.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi."


Ron keluar dari ruangan tersebut. Dan lagi-lagi langkahnya terhenti, karena ponsel yang ada di saku jasnya berbunyi. "Haish, apalagi sih?"


Pria itu merutuk, dia segera menyambar benda pipih itu. Dan matanya melebar, karena Siksa juga minta dibelikan seblak ceker dan meminta dirinya yang mengantarkan sampai rumah. Dengan dalih anak mereka.


"Hah, kenapa kalian tidak bunuh aku saja?"


*


*


*

__ADS_1


Sini ngothor temenin Bang Ron🤣🤣🤣


__ADS_2