
Suara isak tangis yang keluar dari mulut Zoya berganti dengan lenguhan yang terdengar begitu merdu di telinga Ken. Rasanya seperti sudah lama sekali dia tidak merasakan kenikmatan ini, hingga Ken mendesaah dengan begitu hebat seiring hentakan yang dia buat.
Pelan tapi pasti, itulah ilmu yang tengah Ken pelajari. Dia tidak ingin menyakiti anak dan istrinya, hingga dia menggerakkan pinggulnya dengan penuh kelembutan.
"Baby, apa ini nyaman?" tanya Ken disela-sela kegiatan panas mereka yang membara, fajar sudah hampir menyingsing, tetapi hal itu sama sekali tak menyurutkan api gairah yang tengah berkobar hebat di dada mereka berdua.
Zoya hanya bisa mengangguk, rasa yang Ken berikan tidak pernah berubah sedikitpun. Selamanya terasa begitu menyenangkan sekaligus menegangkan.
Wanita itu membusungkan dada, menarik kepala Ken agar pria itu mau menggigit dan menyesap dua bongkahan yang sedang mengembang pesat. Besar dan nyaris tumpah dari penyanggahnya.
"Aku ingin digigit, Sayang," ucap Zoya dengan suaranya yang terdengar sangat sensual. Ken tersenyum tipis, dia mengecupi dada Zoya yang sudah terpampang nyata di depannya.
"Whatever you want, Baby. (Apapun keinginanmu, Sayang.)" balas Ken, dan detik selanjutnya Zoya langsung menjerit, dia meremass-remass rambut Ken, mendefinisikan kenikmatan yang tengah dia terima.
Nafas Zoya tersengal-sengal, dengan mulut yang menganga lebar, gerakan lembut itu justru semakin membuatnya tak bisa berkutik. Rasa menggelitik merasuk dan mengikat seluruh persendiannya, hingga dia dan Ken akhirnya sama-sama mendesaah hebat, saat puncak nirwana telah berhasil mereka sapa.
Tubuh keduanya bagai tersengat, hingga menciptakan getaran yang tak biasa. Ken semakin membawa inti tubuhnya masuk, menghujam liang kenikmatan milik istrinya, membuat pelepasan itu benar-benar terasa sempurna.
"I love you so much for so long, Baby."
"I love you more."
***
__ADS_1
Hari-hari berlalu begitu saja, dan kandungan kedua ibu hamil itu sudah semakin membesar. Bahkan perut Zoya kini terlihat lebih buncit dari pada perut Siska. Karena itu Zoya tidak pernah lagi memakai pakaian yang terasa sempit di tubuhnya.
Kebanyakan pakaian Zoya adalah dress-dress rumahan yang memiliki ukuran dua kali lebih besar.
Tepat pada hari ini Zoya akan memeriksakan kandungannya bersama dengan Ken. Dia juga masih berkuliah, setidaknya sampai usia kandungannya berumur lima bulan. Setelah itu, Ken tidak akan lagi mengizinkan Zoya untuk berpergian.
"Sayang, sudah siap?" tanya Ken, kini dia sudah berangsur normal, karena morning sick sudah jarang dia rasakan. Dia sudah cukup tersiksa, karena paling parahnya dia sampai dilarikan ke rumah sakit hanya karena pingsan, saking tidak tahannya dengan mual-mual yang terus menyerang.
Zoya tersenyum, lalu mengecup pipi Ken. "Sudah, Hubby."
Ken balas tersenyum dan mencium pipi Zoya. Tidak hanya satu, tetapi begitu banyak hingga ibu hamil itu mendorong dadanya agar segera menjauh. "Ck, kebiasaan!"
Pria tampan itu hanya terkekeh kecil, lalu menjawil dagu Zoya. Setelah itu mereka keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Pergi ke meja makan untuk sarapan bersama.
"Ken, katanya hari ini Zoya mau ke dokter untuk periksa kandungan, apa benar?" tanya kakek Abian sambil mengelap sudut bibirnya dengan tisu, karena dia telah selesai sarapan.
Seperti biasa sambil makan, Ken pun menyuapi Zoya. "Iya, Kek. Hari ini sepertinya anak-anakku sudah bisa dilihat berapa jumlahnya." Jawab Ken, lalu menyerahkan susu ke hadapan Zoya.
Patuh, wanita itu menerima setiap uluran tangan suaminya. Dan menandaskan segelas susu tersebut.
Kakek Abian terlihat tersenyum, senang mendengar kabar bahagia ini, semoga saja semua calon cicitnya selalu sehat dan kelak lahir dengan selamat. "Kalau begitu hati-hati ya, Nak. Jaga kandunganmu, mereka sudah semakin besar."
Zoya tersenyum lebar, lalu mengangguk untuk menanggapi ucapan kakek Abian. "Iya, Kek. Zoya pasti selalu menjaga mereka."
__ADS_1
Ken yang memperhatikan itu memutar bola matanya. "Sudah, Baby. Senyumnya jangan lama-lama. Lebih baik sekarang kita berangkat." Ajak Ken sambil menarik tangan Zoya, agar wanita itu ikut bangkit.
Kakek Abian hanya mendengus kasar, mendapati sifat posesif Ken yang begitu kelewatan, jangan-jangan nanti kalau anak-anaknya sudah lahir, Zoya akan jadi bahan rebutan.
Setelah pamit, akhirnya mereka pergi dengan Ron yang masih setia menjadi asisten pribadi Ken. Mereka terlebih dahulu pergi ke rumah sakit untuk mengecek kandungan Zoya.
Tak sampai lama mereka akhirnya sampai di rumah sakit, tempat pertama kali mereka melakukan konsultasi, suasana terlihat masih cukup sepi, maka dari itu Zoya bisa langsung masuk ke ruang pemeriksaan.
Dokter Susan sudah menyambut mereka dengan senyum mengembang, cukup dengan basa-basi Zoya langsung diminta untuk berbaring. Mereka akan kembali melakukan USG, untuk memastikan berapa jumlah janin yang berkembang.
"Wah, semuanya terlihat sehat yah. Mereka berkembang dengan baik di dalam sana.Tidak ada masalah apapun, sekarang kita hanya tinggal menghitung," ucap dokter Susan dengan mengulum senyum, merasa gemas sendiri dengan beberapa janin yang mengisi rahim Zoya.
"Jadi yang benar ada berapa, Dok?" tanya Ken yang terlihat sangat antusias, dia melirik Zoya dan mereka sama-sama melempar senyum, merasa begitu penasaran.
"Mereka ada...."
*
*
*
"Selamat, anak kalian ada lima dan rupa-rupa jenisnya."
__ADS_1