
Suasana hari itu mengharu biru. Namun, sungguh. Semua tangis yang luruh adalah bentuk kebahagiaan yang tidak bisa mereka jabarkan. Apalagi didefinisikan dengan penggalan kata yang membentuk sebuah paragraf.
Reymond benar-benar tak bisa lagi mengeluarkan suaranya, begitu sang anak memanggilnya dengan sebutan Papa. Sumpah demi apapun, dia ingin menjerit dan mengumumkan pada semua orang, bahwa dia bahagia. Sangat bahagia.
Tak hanya Reymond, hal itu juga di rasakan oleh Ken, pria tampan itu merasa begitu beruntung memiliki Zoya. Dan hal yang takkan pernah dia sesali seumur hidup adalah memaksa gadis itu untuk tidur dengannya.
Hingga pria matang itu tak henti-hentinya menciumi pipi Zoya, di antara luangnya waktu meladeni para tamu.
"Hubby, jangan menggodaku terus. Di sini masih ramai, kamu tidak lihat di sekeliling kita banyak orang? Please, don't kiss me! (Tolong, jangan cium aku!)" cetus Zoya dengan matanya yang sudah mendelik, berharap Ken takut padanya.
Namun, semakin dilarang maka Ken akan semakin gencar. Seperti para penjajah yang melakukan gencatan senjata, Ken pun melakukannya pada Zoya, mengurung gadis cantik itu di antara dua lengan kekarnya.
"Bahkan kalau kamu tidak malu, aku bisa melakukannya di sini. Aku sudah tidak sabar melilitmu, Baby." Ken menggigit bibir bawahnya untuk menggoda Zoya.
Bukannya tergoda, Zoya justru melototkan mata mendengar kalimat frontal suaminya. Zoya membekap mulut Ken dengan kedua tangan, agar pria ini tidak sembarangan bicara.
"Habby, bisa diam, tidak! Atau nanti malam kamu tidak akan mendapatkan apapun!" ancam gadis itu.
Ken menyeringai dari balik tangan Zoya, lalu menjulurkan lidahnya, hingga telapak tangan itu basah. Merasa geli, Zoya segera menariknya, lalu menatap Ken dengan bibir mencebik.
"Baby, jangan marah-marah terus. Ini kan hari bahagia kita. Dan akan aku pastikan, malam nanti kamu akan lebih bahagia dari ini. Jangan mengancamku, okey. Karena aku akan benar-benar melilitmu sampai pagi," ucap Ken sambil berkedip genit, lalu kembali mengecup bibir ranum Zoya.
Gadis itu hanya mendengus, dan tidak mau lagi meladeni ucapan Ken yang tidak ada habisnya.
Hingga saat MC mengatakan agar pengantin wanita melemparkan bunga yang ada di tangannya. Zoya segera bangkit, dia membalik badan bersama dengan Ken yang menggenggam satu tangannya.
Kedua orang itu saling pandang dan mengulum senyum.
Beberapa gadis yang antusias langsung berkumpul. Berharap mendapatkan bunga tersebut, agar sang pujaan segera melamar, dan menjadikan dia ratu yang selanjutnya.
__ADS_1
Pada hitungan ketiga, Zoya melemparkan sejauh mungkin bunga itu. Melambung tinggi di udara hingga satu tangan sukses menggapainya.
"Asisten Ron, aku dapat bunganya!" Pekikan bangga seorang wanita cantik, dengan mengangkat bunga yang ada di tangannya tinggi-tinggi, agar pria yang berada di panggung melihat ke arahnya.
Semua mata tertuju pada seseorang yang baru saja berteriak kencang. Termasuk Ron yang ada di depan sana. Dia tersenyum canggung, tetapi ikut bahagia.
Rasa malu dan juga gemas sedang dia rasakan secara bersamaan. Ron mengangkat mikrofon, membuat suaranya menggema ke seisi ruangan.
"Iya, Sayang. Doakan aku agar segera melamarmu." Ucapnya dengan pipi yang merona.
"Cie-cieeeeee."
Riuh suara tepuk tangan, pun dengan siulan menggema. Untuk pasangan yang baru saja memproklamirkan hubungan mereka. Ya, semenjak saat itu, Ron dan Siska semakin dekat.
Apalagi selama satu bulan saat Ken tidak ada, keduanya dihadapkan dengan pekerjaan yang membuat mereka terus bersama.
Hingga tumbuhlah benih-benih cinta di antara keduanya. Sama-sama tidak memiliki pasangan, akhirnya membuat mereka sepakat untuk menjalani sebuah hubungan, yang terjalin hingga sekarang.
Sementara yang berada di pelaminan tidak peduli apapun. Ken malah mengambil kesempatan untuk mencium bibir Istrinya, di saat semua orang sibuk dengan hubungan Ron dan Siska.
Ken menahan tengkuk Zoya, dan menggigit-gigit kecil meminta akses, agar Zoya membuka mulutnya. Dan sekeras apapun Zoya menolak, dia akan tetap kalah oleh Ken yang selalu bisa menguasainya.
"Aduh, aduh. Yang di pelaminan itu sedang apa?"
Tak hanya Ron yang digoda oleh MC itu, tetapi juga Ken, membuat pria itu seketika menelan ludahnya dan menarik diri, sementara wajah Zoya langsung merah padam.
Oh my God!
Semua orang tergelak kencang. Bi Lila sampai tidak berhenti tertawa melihat aksi tuannya yang tidak tahu malu itu.
__ADS_1
Sama halnya dengan kakek Abian, pria tua itu tidak dapat berkomentar apa-apa. Hanya ada gelengan kepala, sungguh tak habis pikir dengan tingkah cucunya.
*
*
*
Daddy : Heh, emak sableng bin gendeng, emaknya para anakan python nyang doyan nganu! Lu sinting yah?
Ngothor : Apaan sih? Dateng-dateng lu maen nyap-nyap aja, kagak jelasπππ
Daddy : Ya lu, kayaknya dendam banget sama gue. Masa belum malam pertama python gue udah dibikin tamat.
Ngothor : Dih kan gue udah bilang gue mau sat set sat set. Biar gue kagak dikira nganu terus. Lagian mereka juga bosen liat python lu nyarang mulu. Dah kagak bergairah.
Daddy : (Seketika lemes) Emang iya Thor?
Ngothor : Lah tanya aja sama mereka, ngapain nanya gue. Dikasih python kagak, bikin pusing iya.
Daddy : Jangan ngambekan napa. Ntar gue tanyain tuh anak-anak python gue. (Nyolek dagu)
Ngothor : Dih najisss banget ngelobby nya.
Daddy : Tapi suka?
Ngothor : Mana ada, gue maunya python yang gelantungan kek neng joyaπππ
Daddy : (Nelen ludah) Lu buruan pada jawab dah, nih python gue nyang jadi taruhannya.
__ADS_1