Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Kembali Kecewa


__ADS_3

Raga kekar itu tak berhenti sebelum merasa puas, satu pelepasan bukanlah apa-apa untuknya. Ken bergerak maju mundur begitu teratur.


Seolah begitu tahu tempo yang pas untuk menyenangkan gadisnya, sementara Zoya memegang erat pinggiran bathub sambil mendesaah.


Dua bulatan itu terombang-ambing, mengikuti laju hentakan yang Ken ciptakan.


"Dad, ini gila!" jerit Zoya tertahan.


Perlakuan Ken yang menguasai tubuhnya, sungguh menjadikan otaknya tak lagi waras, Ken menyeringai penuh, lawan sudah mulai bisa dia kendalikan, sebentar lagi dia yakin, Zoya akan terbiasa dengan apa yang mereka lakukan.


"Oh my... You are the best, Baby. Ini sangat sempit, Sayang."


Ken mengerang sambil menekan pinggul itu, menenggelamkan senjatanya hingga tak terlihat, menyentuh titik denyut Zoya yang terdalam.


Miliknya begitu termanjakan, rasa tubuh Zoya memang benar-benar berbeda dari semua wanita yang telah dicicipinya.


Legit dan memabukkan, nyaris membuatnya gila.


Hingga tak berapa lama kemudian, pelepasan kembali mereka dapatkan. Lenguhan panjang, tetapi tak begitu lepas terdengar, menjadi penghujung permainan mereka pagi ini.


Pagi yang panas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Keduanya kembali di pertemukan di meja makan, seperti biasa Nora pun akan ada di sana. Sepanjang waktu sarapan, tidak ada yang bersuara, hingga mereka benar-benar selesai.


Ken mengelap pinggiran bibirnya menggunakan tisu setelah menyesap kopi hitamnya.


Nora melirik Ken dengan tersenyum simpul, dia mengambil satu pisang dari piring buah, lalu mengupasnya. Berinisiatif untuk menawari pria itu.


"Kak, makanlah pisang ini supaya kamu bertenaga, dan tidak mudah lelah saat bekerja." Nora mengulurkan buah berwarna kuning itu, sementara bibirnya tak berhenti untuk melengkung. Mengulum senyum.


Ken melirik Nora sekilas, tatapannya selalu dingin pada wanita itu. Tanpa diduga dia berdecih.


"Cih, dari pada aku makan pisang, aku jauh lebih suka seseorang memakan pisangku." Ujarnya ambigu, tersenyum smirk sambil melirik Zoya.


Dan hal itu membuat Nora kembali merasa kecewa, dia meneguk ludahnya kasar, dengan dada yang terasa sesak.


Sepertinya dia memang harus memikirkan sebuah cara untuk mendapatkan perhatian Ken. Sumpah demi apapun dia tidak akan menyerah begitu saja.


Sementara Zoya bergeming, dia kembali menunduk setelah meminum susu hangatnya. Dia sempat melirik Nora sekilas, dan dia bisa menangkap ketulusan di mata wanita itu.


Benarkah dia akan menjadi wanita jahat, menjadi orang ketiga di antara Ken dan juga Nora?


Namun, kedua orang itu pun tak memiliki hubungan apapun, kepala Zoya rasanya berdenyut dengan memikirkannya saja.


Lebih baik dia ke atas untuk mengambil tas, dan segera berangkat kuliah.

__ADS_1


"Kak Nora, Daddy. Aku ke atas dulu untuk mengambil tas, sepertinya aku sudah telat. Oh ya, Dad jangan lupa untuk surat kemarin, Daddy diminta untuk menghadap ketua jurusan," ujar Zoya, seraya bangkit dari kursinya.


"It's okey, Dear. Daddy tunggu di mobil."


Nora senantiasa memperhatikan interaksi antara Ken dan Zoya, dia benar-benar sangat iri dengan gadis itu. Bagaimana bisa Ken bersikap lembut seperti itu pada Zoya, sementara gadis itu pun orang lain di sini.


Dan saat Zoya mengibaskan rambutnya, Nora menangkap sesuatu di tengkuk gadis itu, pikiran wanita itu langsung melalang buana.


Deg!


Dia melirik Ken, benarkah?


Sampai di kamarnya Zoya tak hanya mengambil tasnya, dia lebih dulu menyambar sesuatu yang kemarin dia beli di apotek.


Tanpa pikir panjang Zoya menelan pil kecil itu, lalu meminum air putih yang berada di atas nakas.


Setelah itu, baru dia kembali ke bawah, menemui Ken.


*


*


*

__ADS_1


Udah siang yah? Berarti ngothor kesiangan nganunya🤣🤣🤣 Ritual jempolnya jangan lupa guyssss🔥🔥🔥🔥


__ADS_2