
Kedua orang itu menoleh ke arah sumber suara. Dan mereka mendapati wanita cantik dengan tubuh seksi tengah tersenyum lebar, melangkah ke arah keduanya.
Zoya baru pernah melihat wanita satu ini, tetapi ibu hamil itu yakin kalau dia adalah salah satu mantan teman kencan atau bahkan teman ranjang suaminya.
"Hai, Ken! Sudah lama kita tidak bertemu, masih ingat tidak denganku? Shandy, Tupai Nakalmu." Wanita itu dengan tidak tahu malu melepaskan genggaman tangan Ken dan Zoya, untuk mengajak pria itu bersalaman.
Kening Ken mengernyit, dia hanya bisa melongo dengan tindakan wanita di depannya, karena kesadarannya memang belum terisi penuh, sementara Zoya sudah memasang alarm. Siaga satu.
Shandy tersenyum kecentilan sambil berkedip-kedip genit. Sementara Ken mencoba mengenali wanita itu, dan sebuah panggilan 'Tupai Nakal' yang pernah dia berikan, membuat Ken samar-samar mengingatnya, ya mungkin saja Shandy memang wanita yang pernah dia tiduri dulu.
Pria tampan itu sudah hampir membuka mulut. Namun, sebelum Ken menjawab Zoya lebih dulu maju, dan melepaskan genggaman tangan mereka secara paksa.
"Maaf, pria yang anda ajak bersalaman sudah punya istri. Jadi jangan menjadi bangkai di antara kami."
Deg!
Ken langsung terpaku, dia menatap ke arah Zoya. Saat ini ibu hamil itu terlihat sangat menyeramkan, raut wajah Zoya masam dengan mata yang melotot tajam. Ken menelan ludahnya, dia sangat yakin bencana sebentar lagi akan menghampirinya.
Wajah Ken langsung memucat seketika.
Sementara wanita itu terlihat gelagapan, karena tidak tahu kalau Ken sudah menikah. Dia kira, Zoya adalah wanita malam yang tengah Ken sewa.
"Oh, maaf. Aku kira kamu belum menikah. Jadi dia istri kamu?"
Ken bergeming, karena lidahnya seolah kelu, tak mampu untuk menjawab pertanyaan Shandy.
"Jawab dong, Hubby. Kamu ditanya tuh!" ucap Zoya dengan nada sindiran yang langsung membuat Ken kalah telak.
__ADS_1
Pria itu tersenyum kikuk. "Iya, ini istriku."
"Bilang juga kalau aku sedang hamil! Dan kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah," ucap Zoya lagi, kini ibu hamil itu sudah melipat kedua tangannya di depan dada.
Ludah Ken semakin terasa berat untuk ditelan. Lututnya gemetar, padahal dia tidak pernah sepanik ini menghadapi seseorang.
Ken menganggukkan kepalanya. "I-ya. Iya, Sayang." Jawab Ken terbata.
"Oh kalau begitu selamat yah, Ken. Aku duluan, soalnya aku sudah ditunggu oleh kekasihku."
Wanita bernama Shandy itu buru-buru pamit, karena sepertinya dia datang di waktu yang salah, tetapi saat dia memutar badan, kaki Zoya dengan sengaja menghadang langkah Shandy hingga wanita itu terjungkal.
"Aduh!" jerit wanita itu, merasakan lututnya yang lecet, dia meremat tangannya, dia tahu Zoya pasti sengaja.
Ken memejamkan matanya mendapati tingkah Zoya. Dia terkejut karena merasa tak percaya Zoya bisa melakukan itu semua. Singa betina kalau sudah marah memang sulit diprediksi kelakuannya.
Dan Ken semakin dibuat menganga, saat wanita itu menyeretnya. Tiba-tiba mood Zoya untuk makan jadi hilang, dia ingin secepatnya pulang.
Pria itu keluar dari dalam mobil. "Sayang!"
Ken segera mengejar Zoya dan mencekal pergelangan tangan wanita itu saat mereka sampai di dekat tangga. "Baby, jangan seperti ini dong. Aku kan tidak tahu kalau kita akan bertemu dengan dia."
Sring!
Zoya menoleh ke belakang, dia melotot dengan tajam. "Tidak mau tahu, pokoknya malam ini Hubby tidur di luar!"
Duar!
__ADS_1
Bagai bom atom yang tengah diledakkan, kalimat tersebut mampu meluluh lantakkan tubuh Ken. Sebuah mantra yang teramat dia benci, karena Ken tidak mungkin bisa tidur dengan tenang. Apalagi di saat kondisi mereka seperti ini.
Zoya segera menepis tangan Ken dengan kasar, dia menaiki anak tangga dengan cepat. Dan secepat itu pula dia membanting pintu dengan kasar. Menyisakan Ken yang menatap dengan nanar.
Pria tampan itu terlihat sangat frustasi sekarang, dia tahu mood swing yang Zoya rasakan. Namun, apakah benar dia yang harus disalahkan?
Ken menjambak rambut dan memukul udara untuk menguapkan kekesalan. Sial, sial, sial. Seolah penderitaan yang dia terima tidaklah berujung. Ada saja yang menimpanya.
"Apa aku sedang dikutuk? Ah, sialan! Kenapa juga harus bertemu dengan salah satu di antara mereka?" Ken menggerutu, lalu kembali menyugar rambutnya dari belakang ke depan.
Namun, di antara kegelisahannya, dia mendengar suara pintu terbuka. Seperti mendapat harapan besar, Ken langsung mengangkat kepalanya dan mendekat ke daun pintu, di sana Zoya memperlihatkan setengah wajahnya.
Ken kembali tersenyum sumringah. "Sayang, aku tahu kamu tidak mungkin tega membiarkan aku tidur di luar." Ucap Ken percaya diri, dia hendak membuka pintu tetapi Zoya menahannya.
"Siapa bilang? Aku hanya ingin memberimu ini!" Zoya melemparkan bantal dan selimut ke arah Ken, membuat pria itu semakin melongo.
"Aku tidak mau bantal dan selimut bekasmu! Dan terlebih, kalau bisa ganti tanganmu yang sudah bersentuhan dengan wanita itu!"
Brak!
Pintu kamar itu tertutup lagi, membawa bencana besar bagi Ken. Karena pastinya akan sulit membujuk Zoya, untuk masalah yang satu ini.
"Baby...," rengek calon ayah itu.
*
*
__ADS_1
*
Salah siapa coba mantannya banyak, dan datang di waktu yang tidak tepat🤣🤣🤣