Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
I Am Yours


__ADS_3

Puas bercinta di dalam kolam renang, maupun di atas ranjang. Akhirnya Ken dan Zoya terlelap sampai pagi. Mereka saling memeluk dan begelung dalam satu selimut.


Kini, waktu menunjukkan pukul 9 pagi.


Bias cahaya yang menerpa gorden membuat Ken membuka matanya lebih dulu, pancaran itu membuat matanya silau.


Ken sedikit mengernyitkan dahi, matanya menyipit menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam indera penglihatannya. Dia menoleh ke samping, di mana pemandangan yang jauh lebih indah dari apapun, sang kekasih, Zoya.


Kedua sudut bibir Ken langsung tertarik ke atas, dia menarik pinggang ramping Zoya yang hanya berbagi selimut dengannya. Semalam kegiatan panas mereka berakhir dengan sangat menggelora. Ah, rasanya Ken ingin selalu mengulanginya.


Cup! Cup! Cup!


Beberapa kali Ken memberi kecupan di bahu Zoya yang polos. Dia mengunci pergerakan Zoya dengan kaki, sementara tangannya kini menyibak rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu.


Ken terus mengulangi kecupan basah itu hingga Zoya mulai menggeliat. Sentuhan Ken membuat tidurnya terganggu, dia mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali, begitu netra itu terbuka sempurna, dia langsung disuguhi wajah tampan kekasihnya.


Sama seperti Ken, Zoya pun ikut tersenyum pula. Dia menangkup satu sisi wajah Ken, dan menghadiahkan kecupan singkat di bibir pria matang itu. "Good morning, Hubby." Ucapnya.


Membuat Ken tidak bisa untuk tidak merasa bahagia. "Morning too, Baby. Kamu sudah pandai memanggilku seperti itu dalam waktu semalam. Artinya kamu harus mendapat hadiah."


Ken berganti menangkup satu sisi wajah Zoya. Awalnya dia menggigit dagu gadis itu, dan menyesapnya. Namun, lama-kelamaan naik, dan membuat kedua bibir itu menyatu dengan sempurna.


Kembali saling tarik-menarik, seolah tak kenal kata bosan. Lidah Ken melesak masuk, bermain dengan lincahnya di dalam mulut Zoya. Mengabsen setiap deret gigi, lalu membelit lidah gadis itu.


Ken memasukkan lidah tak bertulang itu ke dalam mulutnya. Disesap dengan kuat hingga si empunya mulai kelabakan, mereka terus bertukar saliva, sementara tangan Ken sudah bertengger di salah satu bulatan kesukaannya.

__ADS_1


Tangan nakal itu mulai beraksi meremass apa yang ada dalam genggamannya dengan gelora penuh. Hingga membuat Zoya lagi-lagi melenguh. Ditambah gesekkan kulit mereka membuat kegiatan ini menjadi semakin syahdu.


"Sayang, sekali lagi sebelum aku pergi," ucap Ken menghentikan sejenak akitivitas mereka yang mulai berkobar.


"Pergi? Pergi ke mana?" tanya Zoya dengan kening yang mengeryit. Ken belum menjelaskan apa-apa tentang masalah pergi itu.


"Nanti aku jelaskan, kita main dulu yah," balas Ken sambil menendang selimut hingga kain tebal itu teronggok di atas lantai. Tubuh polos nan menggairahkan itu kembali terpampang, dan dengan cepat Ken membaliknya.


Di belakang sana, Ken mengangkat satu kaki Zoya dan bertumpu pada kakinya. Membuka akses agar ular pythonnya melesat dengan sempurna.


Posisi yang selalu menjadi favoritnya. Tanpa menunggu waktu lama, senjata Ken sudah berada di tempat yang hangat. Bersemayam di goa yang selalu memanjakannya.


"Beri aku suaramu, Baby," Ken berbisik tepat di telinga Zoya. Pria matang itu mengulum gemas daun telinga itu, dan mulai bergerak. Memompa tubuhnya dengan maju mundur yang terasa begitu teratur.


Zoya memberikan apa yang Ken mau, dia mendesaah ditiap hentakan Ken, membuat pria matang itu menghujam inti sang kekasih dengan sangat mantap.


Pria matang itu menyeringai, dia mengurangi tempo laju pinggulnya dan menyerang tengkuk Zoya. Sementara tangannya selalu meremass yang ada di depan sana.


Hingga erangan merdu bersahutan, menyambut matahari pagi yang sudah mulai meninggi.


Setelah mereka menormalkan tekanan darah yang sempat menderas hebat. Zoya membalik tubuhnya untuk menghadap Ken, dia menatap pria itu dengan wajahnya yang masih sedikit memerah.


"Ayo jelaskan, kamu mau pergi ke mana?" Ujar Zoya. Sedari tadi dia mulai kepikiran, ke mana kiranya Ken akan pergi.


Sebelum menjawab, Ken lebih dulu menggapai tangan Zoya, lalu mencium tepat di jari manis gadis itu. Tempat di mana cincin yang dia berikan berada.

__ADS_1


"Sayang, sebelum aku memberitahu kakek kita akan menikah. Aku harus menyelesaikan pekerjaan dulu di Singapura. Sore nanti aku berangkat, tidak apa-apa kan?" Ucap Ken meminta izin pada Zoya.


Ah, bukan izin. Melainkan kalimat pamit, karena dia sudah memesan tiket pemberangkatan.


"Berapa lama?"


"Kurang lebih dua bulan. Setelah itu, aku janji, aku akan menikahimu," jawab Ken apa adanya, bahkan dia mengulum senyum saat mengatakan itu, karena merasa tak sabar ingin mempersunting Zoya.


Namun, bukannya senang, wajah Zoya justru berubah sendu. "Dua bulan? Kamu tidak pernah pergi selama itu, Hubby."


Entah kenapa ada rasa tak enak yang menyelinap masuk, dia tahu bagaimana Ken. Apakah benar, pria ini sanggup tidak bercinta selama itu dengannya?


Ken mengangguk, dia paham apa yang Zoya pikirkan, dia segera menangkup kedua sisi wajah Zoya, dan membuat pandangan mereka bertemu. "Trust me, Baby. Aku tidak akan macam-macam di sana. Hanya urusan pekerjaan. Kamu boleh menelponku setiap saat kalau kamu tidak percaya."


"Are you sure?"


"Yes, sure. I am your men, and i am yours, only yours."


Setelah mendengar itu, Zoya sedikit lega. Dan akhirnya gadis itu mengangguk. Sore nanti, dia akan ikut mengantar kepergian Ken, dan menunggunya pulang, untuk menagih janji pria itu.


*


*


*

__ADS_1


Awas ya lu Dad kalo macem-macem 🙄🙄🙄


__ADS_2