Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Drama Sebelum Bekerja


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian.


Kelima bayi kembar itu hampir genap usia tiga tahun. Mereka semakin aktif dan pandai berbicara, membuat siapa saja pasti gemas saat melihat mereka berlima. Tak berbeda dengan anak Ken dan Zoya, Baby Caka juga tumbuh dengan sehat, bahkan bocah kecil itu memiliki paras yang tampan, tak kalah dengan keempat bayi kembar yang memiliki jenis kelamin yang sama dengan dirinya.


Pagi itu, Ken sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Sementara kelima anaknya masih tidur di kamar yang sama seperti saat mereka bayi, yakni di kamar sebelah.


Sejak satu tahun lalu, Zoya sudah kembali berkuliah, tetapi ia hanya mengambil Sabtu-Minggu, selain hari itu Zoya hanya akan menghabiskan waktu untuk mengurus kelima anaknya.


Seperti rutinitas yang biasa Ken jalani, Ken akan membangunkan sang putri bungsu untuk berpamitan. Karena kedekatan ayah dan anak itu sudah tidak diragukan.


El selalu terlihat lebih manja pada sang ayah, sementara keempat saudara kembarnya lebih dekat dengan ibu mereka.


"El, Daddy mau berangkat. Mau cium tangan tidak?" tanya Ken sambil menggoyangkan bahu sang anak. Namun, sepertinya karena semalam El susah tidur, bocah cantik itu jadi susah pula untuk dibangunkan, hingga Ken turun tangan El tetap saja pada posisinya.


El tidak memberi reaksi, saat Ken mencoba menggerakkan anggota tubuhnya, El malah semakin memeluk erat boneka ular kesayangannya dan memejamkan kelopak matanya rapat-rapat.


"Eliana, ayo bangun. Sudah siang, Sayang, mataharinya sudah hidup tuh." Ken masih berusaha untuk membangunkan El, menyebutkan kebiasaan-kebiasaan sang anak.


"Hubby, sudah biarkan saja. Mungkin El masih mengantuk," ucap Zoya yang senantiasa memperhatikan dua orang yang sangat disayanginya.

__ADS_1


"Kalau dia menangis bagaimana, Sayang? Kamu seperti tidak tahu El saja." Ken bangkit dari sisi ranjang El, hampir tidak pernah absen anak perempuannya itu selalu memberikan kecupan selamat pagi, dan mengantarnya sampai di depan rumah, saat ia berangkat kerja.


"Ya terus bagaimana? Kamu sudah hampir terlambat lho, Asisten Ron sudah menunggu di bawah."


Ken menghela nafas panjang, ia menatap putrinya yang terlelap. Sementara anaknya yang lain sudah mulai bangun dan mandi dengan pengasuhnya masing-masing.


Ken mengecup puncak kepala Zoya. "Baiklah, aku berangkat. Kalau dia menangis telepon aku saja yah."


Zoya mengangguk patuh, sebelum berangkat Ken mendekat kembali ke arah ranjang El. Pria tampan itu mengecupi puncak kepala El, lalu melirik ke arah anak-anaknya yang sedang bermain di kamar mandi, itu terbukti dari suara tawa mereka yang bersahut-sahutan.


Ken mengulum senyum tipis, ia melangkah untuk melihat bocil ABCD. "Anak-anak, Daddy berangkat dulu yah. Jangan nakal, dan selalu menurut perintah Mommy, oke?"


"Iya, nanti semuanya Daddy belikan burger."


"Yang ada lobotnya, Choco au yang ada lobotnya."


"Iya, Nak."


"Lobot tamu kan udah banak, Cho. Mubil acah," timpal Bee setelah mengusap hidungnya yang terasa gatal.

__ADS_1


"Aku auna lobot."


"Ya utah, Bee au mubil."


"Iya-iya, nanti Daddy belikan satu-satu, Bee mobil, Choco Robot, De burgernya aja kan?" jelas Ken, sesuai keinginan anak-anaknya. Lalu tiba-tiba pandangan mata pria itu tertuju pada putra sulungnya yang sibuk bermain air.


"Kalau An mau apa? Mau mainan juga?"


Bocah tampan itu menggeleng. "Ndak."


"Terus mau apa?"


"An au cemangka acah," jawabnya sambil nyengir kuda. "Yang becal yah."


*


*


*

__ADS_1


Emang beda bocah satu ini🤣🤣🤣


__ADS_2