Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Kedatangan Istri Papi Caska


__ADS_3

Selepas kepergian Ken, salah satu baby sitter turun dan melangkah ke arah meja makan, di mana kakek Abian berada, dialah Rathi—pengasuh Baby D—dia turun atas perintah Zoya, ingin memberitahu pada kakek Abian bahwa sang nyonya tidak akan turun untuk sarapan bersama.


"Permisi, Tuan Besar. Maaf sebelumnya, saya ke mari atas perintah Nyonya Zoya, katanya dia tidak akan turun ke bawah untuk sarapan bersama, soalnya Baby A sedang tidak mau ditinggal, Nyonya meminta Tuan untuk makan duluan," jelas Rathi apa adanya.


Baby A benar-benar tidak mau melepas susuannya, meskipun kedua mata bayi cilik itu sudah terpejam. Maka dari itu, Zoya memerintahkan Rathi, agar memberitahu pada kakek Abian untuk makan lebih dulu.


Kakek Abian mengangguk, tanda bahwa dia mengerti akan kondisi cucu menantunya. "Kalau begitu kamu ambilkan makanan untuk Zoya, biar dia makan di kamar. Ingatkan dia agar tidak lupa sarapan, karena dia sedang butuh banyak asupan."


"Baik, Tuan. Tadi Tuan Ken juga sudah bilang begitu pada semua baby sitter."


Kakek Abian mengangguk lagi, lalu membiarkan Rathi mengambil beberapa makanan yang tersedia untuk dibawa ke lantai dua. Bi Lila yang melihat itu, sontak saja ikut membantu, hingga satu nampan berisi penuh dengan makanan berhasil tersusun dengan rapih.


Setelah sarapan Kakek Abian juga berencana untuk melihat kelima cicitnya. Walaupun tidak bisa menggendong terlalu lama, yang penting dia bisa mengajak bayi-bayi itu bermain di troli mereka dan berjemur di taman belakang.


Sementara di kamar baby ABCDE, Zoya sedang berusaha untuk melepaskan pucuk dadanya dari mulut sang anak. Baby A memang sudah tidak menghisapnya, tetapi kalau Zoya bergerak sedikit, bayi yang sudah semakin gembul itu akan ikut bangun.


"Coba diganti pakai dot saja, Nyonya," usul Tari, wanita yang ditugaskan untuk menjaga Baby C. Kini Zoya harus banyak-banyak menghafal nama-nama orang, karena kelahiran anaknya, melahirkan pula lima baby sitter yang harus dia kenal nama dan juga sikapnya.


Zoya mengangguk setuju, Tari mengambilkan dot bayi yang ada di nakas. Lalu membantu Zoya, begitu wanita itu melepas susuannya, Tari langsung memberikan dot tersebut pada Baby A.

__ADS_1


Beruntung kali ini bayi tampan itu tak menangis, Baby A terus menutup matanya dan terlihat nyenyak. Zoya langsung menghela nafas panjang, tetapi setelah itu dia malah mengulum senyum seraya mengusap kepala sang anak yang terlihat sedikit berkeringat.


Menganggap bahwa sikap yang ditunjukkan oleh bayi mungil itu adalah bentuk protes terhadap dirinya.


"Habis ini tolong kalian bawa anak-anak ke taman belakang yah, biar mereka semua berjemur, nanti aku menyusul," ucap Zoya, bangkit dari ranjang hendak pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Semua baby sitter kompak mengangguk. Di ambang pintu, Zoya berpapasan dengan Rathi, tetapi wanita beranak lima itu tak langsung makan, sebagaimana yang diperintahkan oleh Ken dan kakek Abian. Zoya ingin menemani anak-anaknya berjemur terlebih dahulu, baru setelah itu dia akan mandi dan sarapan.


Bayi-bayi mungil itu mulai dibawa turun, para baby sitter duduk berjajar, sambil membuka sebagian baju bayi yang mereka pegang, agar sinar matahari bisa memberikan vitamin terbaiknya pada tubuh yang sedang berkembang itu.


Zoya ikut turun, hendak menyusul ke taman belakang, tetapi langkahnya terhenti begitu Bi Lila memanggil dirinya. "Nona Zoya."


Wanita cantik itu menoleh, dilihatnya Bi Lila tidak sendirian, tetapi bersama istri dari asisten suaminya, yakni Siska. Zoya langsung tersenyum sumringah, dia melangkah cepat ke arah ibu hamil itu, dan segera menghambur memeluknya. "Kak Siska, apa kabar?"


"Aku baik, Nona Zoya."


"Ish, aku sudah bilang berapa kali jangan panggil aku seperti itu. Panggil Zoya saja," timpal Zoya, merasa tidak terima karena Siska selalu memanggilnya dengan embel-embel Nona.


Siska terkekeh kecil sambil mengangguk. "Baiklah, aku akan memanggilmu Zoya. Karena aku sudah menganggapmu sebagai adikku. Oh ya, Zoy. Ini aku bawa sesuatu buat kamu, nanti diminum yah."

__ADS_1


Siska menyerahkan satu kantong plastik pada Zoya. Wanita itu hanya mengernyit, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Siska, apa yang harus dia minum?


"Ini apa, Kak?"


"Ini kapsul daun katuk, supaya ASI-mu lancar," jawab Siska apa adanya, dia sudah membeli beberapa, untuk persiapan persalinannya, dan dia juga tidak lupa memberikan sebagian pada Zoya.


"Wah, padahal ASI-ku sudah lancar lho, Kak. Tapi tidak apa-apa, supaya makin lancar, karena bayiku sekarang kan ada enam."


Kini giliran Siska yang mengernyit. "Enam? Bukannya lima ya, Zoy?" Tanyanya.


Zoya terkekeh, sementara Bi Lila sudah melenggang ke dapur sambil geleng-geleng kepala.


"Satunya kan Daddy mereka, Kak."


Siska makin terperangah. "Hah? Apa Ayahnya harus minum ASI juga?"


*


*

__ADS_1


*


Harus Neng Ncis🤣🤣🤣


__ADS_2