Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Kamu Calon Istrinya


__ADS_3

Kepala Ken seperti keluar asap mendengar Zoya memeluk Reymond tanpa seizinnya. Namun, mau marah pun rasanya percuma, semuanya sudah terlanjur menjadi cerita.


Apapun itu tidak bisa untuk diulang kembali. Karena waktu terus bergulir ke depan, tanpa mau mundur ke belakang. Meskipun hanya satu detik.


"Hubby, kenapa diam saja?" tanya Zoya melihat Ken bergeming dengan bibir yang mengatup. Bahkan sorot mata pria itu menatap ke sembarang arah.


Mendengar itu, Ken melirik ke arah Zoya, melirik dengan wajah malas-malasan. "Aku marah! Aku mau dibujuk!" Cetus pria matang itu, tanpa sadar usia.


Namun, Zoya tak lantas mengerti, dia justru mengernyitkan dahi, tanda bingung dengan ucapan sang kekasih. "Hubby, kamu marah kenapa? Zoya kan tidak berbuat apa-apa?"


Makin mencebik saja bibir Ken mendengar Zoya yang tak sadar akan kesalahannya. Pria itu mendengus kasar.


"Kalau aku memeluk wanita lain kamu marah tidak?" tanya Ken dengan mimik wajah serius, sedangkan nadanya terdengar merengek seperti anak kecil meminta permen pada ibunya.


Dan Zoya langsung melotot, bahkan dia yang semula berbaring kini terduduk di atas ranjang. "Oh, jadi Hubby habis memeluk wanita lain? Makanya tidak mau diajak itu-itu sama Zoya?" Cetus gadis itu, malah berpikir kemana-mana.


Eh!


Ken menelan ludahnya susah payah, dia gelagapan, bukan begitu maksudnya. Dia hanya memberi kode agar Zoya sadar akan kesalahannya. Kenapa malah dia yang dituduh memeluk wanita lain?


"Jawab, Hubby!" ketus Zoya semakin meninggikan suaranya.


Mendengar itu, seketika sang singa jantan yang biasanya gagah perkasa, kini justru berubah seperti kucing kecil yang manis. "Tidak, Sayang. Aku tidak melakukan apapun." Balas Ken dengan wajah memelas.


"Terus tadi apa maksudnya? Untuk apa Hubby bertanya aku marah atau tidak jika Hubby memeluk wanita lain? Kamu selingkuh di sana?"


Makin berdenyut saja kepala Ken, mendengar tuduhan-tuduhan Zoya. Seperti senjata makan tuan, malah dia yang diserang sekarang.


"Baby, aku tidak melakukan apapun, sumpah." Ken mengangkat kedua jarinya, sementara wajahnya sudah pias takut Zoya tak percaya.


"Bohong!" Tuding Zoya, bahkan matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Sumpah, Sayang. Aku harus apa supaya kamu percaya?"

__ADS_1


Kini berbalik, dia yang ingin dibujuk malah harus membujuk pujaan hatinya, salah sendiri memacari daun muda.


"Aku mau python, mau lihat!"


Bahhh!


*


*


*


Seperti sudah terencana. Entah kenapa banyak sekali yang datang ke mansion saat Ken tidak ada di sana. Terhitung sudah satu minggu pria tampan itu ada di negeri seberang, tiba-tiba sore itu mansion dihebohkan dengan kedatangan kakek Abian.


Semua orang berkumpul, menyambut pria tua itu. Nora yang sudah tahu, pulang lebih cepat dari biasanya. Bahkan dia menjadi orang pertama yang menunggu kakek Abian di lantai bawah.


Kali ini Zoya ikut berkumpul meksipun sedikit terlambat, dia berbaris dengan para asisten rumah tangga dan pengawal yang berjaga di sana.


"Ke mana Ken?" tanya kakek Abian, pura-pura tidak tahu di mana cucu semata wayangnya berada.


Mana sudi Ken menjelaskan pada Nora dia mau pergi ke Singapura. Dia hanya memberitahu Bi Lila agar selalu menjaga Zoya, pun dengan satu pengawal yang ditugaskan untuk mengawasi pergerakan gadis itu.


"Dia hanya sendiri? Kenapa kamu tidak ikut Nora?"


"Kek, Kak Ken pergi untuk bekerja bukan untuk liburan. Nora tidak mau merepotkan Kak Ken."


"Tapi kamu calon istrinya."


Mendengar itu, senyum Nora mengembang dia mengelus lengan kakek Abian. "Nanti kalau aku dan Kak Ken sudah menikah, aku pasti ikut ke mana pun dia pergi, Kek. Tenang saja."


Di tempatnya, Zoya menelan ludahnya kasar. Dia senantiasa menunduk, tidak berani untuk menatap ke depan.


"Kamu," panggil kakek Abian tanpa menyebut nama. Tetapi seolah terpanggil, Zoya mengangkat kepalanya dengan perlahan.

__ADS_1


Tatapan mereka bertemu, tidak ada sorot mata ramah yang kakek Abian tunjukkan untuk Zoya. Membuat sekujur tubuh gadis itu gemetar.


"Kamu masih di sini? Kamu ikut bantu-bantu tidak dengan yang lain? Jangan hanya ingin makan tidur gratis! Di sini bukan tempat penampungan," cetus pria tua itu, semakin membuat Zoya tak bisa berkutik.


"Tuan."


"Kek."


Nora dan Bi Lila memanggil kakek Abian secara bersamaan. Membuat pria tua semakin mengangkat kepalanya.


Bi Lila ingin menjelaskan bahwa selama ini Zoya kerap membantu pekerjaan rumah tangga. Hanya saja dia yang tidak memperbolehkannya. Dan semua itu adalah perintah langsung dari sang cucu, karena dia tahu betul bagaimana hubungan Ken dengan gadis itu.


"Tidak usah membelanya, Nora. Dia bahkan menjadi pengacau di acara makan malam kemarin," cetus kakek Abian.


"Kek, itu salahku. Aku yang memancing kemarahan Kak Ken."


"Tapi akar masalahnya adalah dia, dia dan ibunya!"


"Kek, Kak Ken hanya menjalankan tugasnya. Aku tahu dia melakukan itu semua karena ibunya Zoya menitipkannya pada Kak Ken."


Mendengar itu, kakek Abian mendengus kasar. Rahangnya mengeras, dan akhirnya dia berdecih. "Cih, dia pikir tempat ini adalah panti asuhan? Seenaknya menitipkan orang!"


Setelah mengatakan kalimat-kalimat sindiran untuk Zoya, kakek Abian melenggang ke ruang keluarga dengan dibantu oleh Nora.


Sementara Zoya merasa sesak dalam dadanya. Ruang udaranya seperti diikat kuat, hingga dia tidak bisa bernafas dengan leluasa.


Benarkah Ken bisa mendapatkan restu kakek Abian untuk menikahinya?


*


*


*

__ADS_1


Doain kakek Abian metong nggak yah🤣🤣🤣


Astaghfirullah Dede kok jahat ngomongnya🙈🙈🙈


__ADS_2