Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Python #27


__ADS_3

Mereka sampai di mansion, Ken langsung menggandeng tangan Zoya untuk masuk ke dalam sana, dia terus melangkah tanpa membalas sapaan orang-orang yang dilewatinya.


Senyum pria itu sama sekali tak tertanggal sedikitpun, bahkan terlihat semakin lebar. Karena sudah tak sabar ingin memberitahu kabar bahagia ini pada sang kakek.


Rencananya, esok dia akan bagi-bagi minyak goreng di sekitar komplek perumahannya. Sebagai wujud rasa syukur karena Zoya telah mengandung buah hati mereka.


Yuk besok pada antri, ngothor paling depan pokoknya!


Rasa mual yang sempat melanda, ternyata hanya dia rasakan saat pagi hari. Entah kenapa hari ini dia justru merasa sangat bertenaga, setelah merasakan lemas yang begitu tak terkira.


"Kek, Kakek!" teriak pria tampan itu dengan suara lantang, mencari keberadaan kakek Abian.


"Sayang, sabar," ucap Zoya, yang langsung mendapat kecupan singkat di bibirnya.


"Tentang kamu, aku tidak akan memiliki rasa sabar, Sayang."


"Kakek, di mana sih? Kakek!!! Telinganya tidak dengar apa orang memanggil namanya?"


Ken hendak melangkah ke arah kamar pria tua itu, tetapi tiba-tiba kakek Abian datang dari arah belakang.


Sepertinya pria tua itu baru saja selesai berjemur di taman belakang.

__ADS_1


"Ada apa, Ken? Kenapa kamu berteriak seperti itu? Sama sekali tidak punya etika!" cetus kakek Abian dengan nada yang terdengar sedikit kesal, di belakangnya ada Bi Lila yang membawa air putih, karena kakek Abian akan minum vitamin.


Bukannya merasa tersinggung, Ken justru tersenyum lebar. Membuat kakek Abian dan Bi Lila menatap penuh keheranan. Apalagi sepasang suami istri ini justru kembali ke mansion, yang satu tidak bekerja, yang satu tidak kuliah.


"Ada apa sih? Kamu sampai tersenyum lebar seperti itu? Kamu seperti kerasukan setan, Ken!"


"Ish, Kakek! Kenapa malah menganggapku kesetanan?" Ken memeluk bahu Zoya erat, meski kakeknya sudah memaki, tetapi kali ini dia tidak akan marah. Dia ingin berdamai untuk hari ini saja.


"Iya terus kamu ini kenapa? Tadi pagi diam saja, sekarang tersenyum seperti orang gila, dan malah tidak bekerja, tingkahmu itu aneh, Ken!"


Kakek Abian tidak jadi ke kamarnya, dia melangkah ke arah ruang keluarga dengan diikuti oleh Bi Lila. Ken dan Zoya juga mengekor, keduanya tampak saling pandang dengan uluman senyum bahagia.


Keempat orang itu duduk secara terpisah. Hanya Ken dan Zoya yang duduk berdampingan, bahkan berhimpitan, karena Ken tidak bisa jauh-jauh dari Zoya.


Ken menghela nafas panjang, lalu meraih tangan Zoya untuk digenggamnya. "Kakek pasti akan kaget dengan berita ini. Bahkan aku ingin terus melompat-lompat karena saking senangnya."


"Iya-iya, Ken. Berita apa yang ingin kamu sampaikan? Kenapa bertele-tele sekali," timpal kakek Abian yang merasa bosan karena menunggu Ken menjawab pertanyaannya, terlalu banyak muqaddimah.


"Zoya hamil, Kek. Zoya hamil anakku. Itu artinya kamu akan menjadi kakek buyut," ujar Ken dengan tersenyum sumringah.


Sementara kedua orang yang mendengar berita itu langsung melebarkan kelopak mata mereka. Merasa tak percaya kalau akhirnya si Cassanudin benar-benar tobat, dan ingin memiliki seorang anak. Eit, bukan seorang. Karena kalian belum mendengar secara detail.

__ADS_1


"Benarkah, Ken? Istrimu hamil? Kalian sudah mengeceknya ke dokter?" Kedua mata kakek Abian ikut berbinar bahagia. Tak berbeda jauh dengan kedua netra milik Bi Lila. Wanita paruh baya itu menatap dengan penuh haru pada Ken dan Zoya.


Ken membusungkan dada, membanggakan dirinya. "Ya betul dong, Kek. Dan asal kalian tahu, ada perkiraan Zoya mengandung bayi kembar. Itu artinya anakku tidak hanya ada satu. Ada kemungkinan dua, atau lebih dari itu."


What?


Kedua bola mata kakek Abian hampir saja melompat dari tempatnya. Ternyata bibit premium dari cucunya benar-benar membuahi dengan sangat baik. Dia harus banyak-banyak bersyukur, karena akhirnya Ken berubah sesuai dengan doa-doanya.


"Syukurlah kalau begitu, Ken. Jaga istrimu baik-baik. Dan ingat jangan terlalu sering bermain-main. Itu bisa membahayakan janinnya," jelas kakek Abian dengan tersenyum sumringah.


Tak lantas mengiyakan, Ken justru menautkan kedua alisnya. "Kenapa ucapan Kakek seperti dokter yang memeriksa Zoya, Kakek tahu dari mana?"


"Jelas saja Kakek tahu, karena dulu Kakek dan Nenek hampir kehilangan Papamu."


Hah? Gimana?


Semua orang yang di sana, menatap kakek Abian tak percaya, kini mereka mulai paham tingkat stamina Ken menurun dari mana.


*


*

__ADS_1


*


Oh jelas jatuh dari leluhur python 🤣🤣🤣


__ADS_2