Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Menjaga Jarak


__ADS_3

Kini Zoya berhasil menenggelamkan pusaka Ken ke dalam miliknya sendiri. Tenggelam dengan sempurna hingga menyentuh titik denyutnya.


"Kamu yakin bisa bergerak, Baby?" tanya Ken saat Zoya memberi jeda. Wajah sensual dan lekuk sempurna itu benar-benar membuatnya tak bisa berpaling.


Zoya menumpu kedua tangannya di dada Ken, menatap netra berkabut yang sudah sangat menunggu kepuasan.


"Daddy meremehkanku?" Zoya balik bertanya, sumpah demi apapun liangnya begitu terasa sesak oleh milik Ken, yang sangat besar nan panjang.


"No, Baby. I trust you. But, this is a first for you," balas Ken.


Ini semua memang yang pertama bagi Zoya, bermain di atas tubuh Ken, tanpa bantuan apapun dari pria itu. Biasanya Ken yang akan menyerang lebih dulu, tapi kini justru Zoya yang menawarkan diri untuk menyenangkannya.


"So, kita buktikan. I will drive you," ujar Zoya.


Setelah mengatakan itu, Zoya mulai memompa tubuhnya dengan penuh semangat. Ingin membuat Ken kewalahan, dan menjadikan pria itu gila akan permainannya.


"Uh, Baby!" erang Ken tertahan, sambil menekan kedua sisi pinggul Zoya.


Senjatanya lagi-lagi termanjakan oleh liang sempit itu, dicengkeram dengan kuat, dan terasa dipijat.


Tak hanya bergerak, Zoya pun menundukkan dirinya, membawa dua gundukannya ke hadapan wajah Ken.


Tanpa ba bi bu, pria yang sudah tidak polos itu langsung melahap pucuk merah jambu milik Zoya, melahap hingga mulutnya penuh oleh daging tanpa tulang itu.


Merasakan sensasi yang semakin menggelitik membuat Zoya semakin bergerak cepat. Tangan besar Ken mengelus punggung mulus itu, sementara mulutnya tak berhenti untuk menyesap.


"How about it, Dad? Are you crazy now?" tanya Zoya di antara lenguh bercampur dengan nafas yang memburu.


Mendengar pertanyaan yang tak begitu jelas dari mulut Zoya, Ken melepas sesapannya dan berganti menahan kedua sisi wajah Zoya.


"You are so beautiful, Baby. Ini sangat nikmat, Sayang. Arghh! Benar-benar nikmat."


Keduanya terus berpacu, hingga Zoya mendapat pelepasannya lebih dulu. Seluruh tubuh Zoya bergetar, menerima sensasi gelombang yang datang.

__ADS_1


Kini, giliran sang suhu yang bermain. Ken membalik posisi, menjadikan Zoya berada di depan tubuhnya, dan Ken kembali menusukkan senjatanya dari arah belakang.


Mereka terus seperti itu, hingga akhirnya tumbang bersama. Peluh mengalir deras, pun dengan nafas yang terdengar tercekat-cekat.


Cap cip cup...


Ken menciumi wajah Zoya, dan menarik tubuh itu masuk dalam dekapannya. Setelah dia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


Tangan kekar Ken senantiasa mengusap surai kecoklatan Zoya yang terasa basah.


"Dad!" panggil Zoya sambil mengatur nafasnya.


"Hem..." balas Ken, masih dengan aktivitas yang sama.


Zoya mendongak ingin menatap wajah Ken. "Setelah ini kita harus menjaga jarak, supaya kita tidak selalu bertemu." ujar Zoya.


Membuat Ken langsung menghentikan laju tangannya. Dia bergeming sejenak, untuk mencerna ucapan Zoya.


"Bukan itu, Dad."


"Lalu apa? Kamu harus tahu, Zoy. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, kamu tidak bisa lari begitu saja."


Zoya menghela nafasnya. Dia tahu itu, karena Ken selalu mengatakannya. "I know. Tapi bukan itu yang ingin Zoya bicarakan. Asal Daddy tahu, Kak Nora mulai curiga pada kita."


Mendengar itu, mata Ken membola dengan alis yang bertaut. "Dari mana kamu tahu, Baby?"


"Dia pernah melihat tanda yang Daddy buat di tengkukku."


"Ada lagi?"


"Tadi sebelum Daddy masuk, dia lebih dulu ke sini. Dan menanyakan ini itu, pokoknya pertanyaan dia menjebak. Maka dari itu, mulai sekarang, Zoya minta supaya kita menjaga jarak dulu."


"Pantas saja."

__ADS_1


"Pantas saja apa, Dad?"


"Dia meminjam duplikat kunci mansion ini tadi siang, sepertinya ada yang dia lakukan."


Mendengar itu, netra Zoya langsung membulat dengan sempurna. Gadis itu terduduk, membuat Ken ikut terduduk pula.


"Ada apa, Baby?" tanya Ken, yang melihat Zoya langsung berubah cemas.


Tanpa menjawab pertanyaan Ken, Zoya turun dan memeriksa laci nakas. Dia menghela nafas lega, begitu melihat pil yang dia sembunyikan masih utuh, dan berada di tempatnya.


Dia yakin, Nora sempat masuk ke kamarnya, dan melihat benda itu. Besok, dia harus segera memindahkannya ke tempat yang paling aman.


"Why, Baby?"


Zoya menatap Ken, dan dia langsung menggeleng. "Tidak ada, Dad!"


Gadis itu kembali naik ke atas ranjang, dan Ken kembali membawa Zoya masuk dalam pelukannya. "Kalau begitu lebih baik kita istirahat. Dan berjanjilah, Baby. Selagi kita menjaga jarak, kamu akan tetap menemuiku jika aku rindu. Aku tidak akan sanggup jika terlalu lama tidak bertemu denganmu."


"Okey," balas Zoya sambil mengangguk.


"Do you promise?"


"Yes, i do. I promise."


Ken langsung mengecup bibir ranum itu, menyesapnya kuat sebagai ucapan selamat malam. Sebelum akhirnya mereka benar-benar terlelap.


*


*


*


Jaga jarak, biar aman ya Dad 🙃🙃🙃

__ADS_1


__ADS_2