Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Boneka Uler-uleran


__ADS_3

Tepat seperti tebakan Ken, ketika El bangun bocah cantik itu langsung mencari keberadaan sang ayah. Ia turun dari ranjang dan berlari keluar, dengan diikuti oleh pengasuhnya.


"Tetty!" panggilnya sambil berteriak kencang. Suara melengking khas anak kecil yang masih terdengar imut itu memenuhi lantai atas.


Sementara kaki kecilnya tak berhenti untuk berlari menuju kamar kedua orang tuanya. "Mana Tetty? Tetty!"


"El, Daddy-nya sudah berangkat," ucap Olaf memberitahu sambil mengejar El yang berlari sangat cepat.


Sementara Zoya berada di lantai bawah, sedang menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Wanita itu menata bubur yang sudah dicampur dengan sayuran di atas mangkuk kecil-kecil. Namun, gerakan tangan Zoya berhenti saat ia mendengar sang anak menangis sambil berteriak memanggil "Daddy"


"Huaaa ... Tetty ndak sayang El!" pekik El sambil meronta, tidak mau digendong oleh Olaf.


Yakin bahwa itu adalah suara El, Zoya langsung naik ke atas setelah mengalihkan tugasnya pada Bi Lila. "Bi, aku ke atas dulu yah. El kayaknya ngamuk deh gara-gara nggak liat Daddy-nya berangkat."


Wanita yang sudah berumur itu langsung menganggukkan kepala sambil mengulum senyum. "Iya, Nona. Dia kan biasa menemani Tuan Ken sampai depan."


Zoya menghela nafas, ibu beranak lima itu tidak heran lagi dengan sikap El. Karena semua itu sudah seperti menjadi kebiasaan bagi mereka. Zoya naik ke atas dengan tergesa, El masih menangis kencang sambil guling-guling di lantai.

__ADS_1


Ampun deh, anakan uler emang hobby-nya deket-deket biangnya uler terus.


"El, Sayang. Kenapa?" tanya Zoya membuat El menghentikan aksi guling-guling itu, bocah cantik itu menatap Zoya dengan uraian air mata, terlihat sedih sekali karena pagi ini tidak bisa mengantar kepergian sang ayah.


"Tetty ndak sayang El, Mom. Tetty-nya pelgi ndak banunin El," jawab El sesenggukan. Sementara Olaf berdiri sambil menunduk, selama ini pekerjaannya memang tidak berat, karena El selalu ingin ditemani oleh ayahnya.


Zoya berjongkok mencoba mensejajarkan diri dengan sang anak yang malah tiduran di lantai. Wanita itu mengusap kepala El. "Tadi Daddy udah bangunin, tapi El nya nggak mau bangun. Ya udah Daddy-nya berangkat deh."


Mendengar itu, El malah semakin berteriak seolah tidak menerima alasan Ken. "Tetty!"


"Lho kok malah begitu? Kan El yang nggak mau bangun."


Kalau sudah seperti ini, yang harus Zoya lakukan adalah memanggil pawangnya. Zoya bangkit dan menitipkan El pada Olaf, karena ia berniat untuk mengambil ponsel dan menghubungi Ken.


Namun, sebelum itu anak uler-ulerannya malah keluar dari kamar, membawa boneka berwarna hijau panjang kesayangan El. "Ini janan ais muyu. Ulel tamu ginggalan." Ucap Choco sambil menyerahkan boneka itu pada sang adik.


Namun, bukannya senang El malah semakin menangis kencang. "Mommy, ulel El, Mommy!" Kaki mungil bocah cantik itu menghentak-hentak karena merasa kesal.

__ADS_1


"Iya ini boneka ularnya El, Kak Choco baik lho bawain buat El," ucap Zoya menggantikan Choco menyerahkan boneka yang terlihat menggelikan itu. Namun, aneh anaknya malah sangat menyukainya.


"Mommy, ulel El nya!" jerit El semakin membuat Zoya tidak mengerti, apa sih yang dimau bocah cilik ini?


"Iya kenapa ularnya? Ini, ini punya El!"


Mendengar adik bungsunya menangis, keempat bocah tampan itu malah terkekeh. Apalagi An, ia tertawa paling keras daripada yang lainnya, membuat Zoya merasa heran.


"Mommy, beka ulel El, Mommy." El sesenggukan, sambil menatap nanar boneka kesayangannya.


Zoya menghela nafas panjang, pagi-pagi ia sudah dibuat sakit kepala. "Iya ini boneka punya El, nggak ada lagi yang punya boneka uler begini kecuali kamu, Nak."


"Beka El ndak ada matana!" seru bocah cantik itu sambil menunjuk-nunjuk benda yang ada di tangan Zoya.


Mendengar itu, mata Zoya langsung tertuju pada boneka milik El. Dan ternyata benar, boneka itu tidak memiliki mata. Semua putranya langsung tertawa, membuat El semakin mengamuk.


"Hehe, An kila biji cemangka."

__ADS_1



__ADS_2