Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Pulang ke Rumah


__ADS_3

Di dalam satu kamar itu kembali terjadi pergulatan panas. Karena Ken tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.


Pria itu ingin terus mengarungi lautan kenikmatan surga dunia bersama Zoya. Sampai mereka benar-benar kelelahan, dan akhirnya mendesaah panjang.


Malam harinya.


Nora benar-benar pulang ke rumahnya. Dia segera berlalu ke kamar setelah menyapa semua orang, termasuk Raga yang kala itu sedang membantu sang ibu menyiapkan makan malam bersama para asisten rumah tangga.


Wanita itu segera melepas pakaiannya, dan membersihkan diri, agar bisa bergabung dengan keluarganya secepat mungkin.


Tak sampai lama, Nora sudah kembali turun ke bawah. Di meja makan semuanya sudah berkumpul, hanya tinggal dia saja yang belum.


Nora menarik kursi di samping Raga. Dan mereka mulai makan dengan tenang, sesuai etika yang selalu diajarkan oleh Theo, seseorang yang paling tua di antara mereka.


Dia adalah kakek Nora. Sahabat kakek Abian dari semenjak mereka kecil, hingga sekarang.


Setelah hidangan dalam piring masing-masing itu tandas, mereka tetap berada di sana. Untuk pertama kalinya, Theo lah yang buka suara. "Nora, kenapa hanya datang sendiri? Kamu tidak mengajak Ken?" tanyanya.


Karena mendapat sebuah pertanyaan, Nora langsung mengangkat kepalanya, dan menatap ke arah sang kakek.


"Kak Ken sedang sibuk di perusahaan, Kek. Jadi belum bisa ikut, mungkin lain kali," jawabnya, padahal dia tahu Ken tidak mungkin mau untuk diajak pergi ke rumahnya.


"Bagaimana kalau Kakek yang mengundangnya, pasti dia menyempatkan untuk datang," sambung wanita itu, seketika ide hinggap di otaknya.


Dengan membawa nama kakek Theo, pasti Ken akan menurut bukan? Jadi mau tidak mau, Ken pasti datang.


"Boleh, kalau begitu aku akan bicara dengan kakek Abian, lusa aku akan mengundang mereka makan malam."


Jawaban yang benar-benar membuat Nora merasa kegirangan. Dia tersenyum lebar dan mengangguk antusias, dia akan berdandan secantik mungkin untuk Ken, dan membiarkan pria itu duduk di sampingnya.


Menjadikan mereka pasangan yang begitu serasi.

__ADS_1


"Memangnya dia sudah menerimamu?" tanya Reymond tiba-tiba, yang membuat senyum Nora memudar seketika.


Mendengar itu, Imelda pun ikut merasa geram, dia mencubit perut suaminya. Bisa-bisanya pria ini mematahkan semangat anaknya dalam sekejap.


"Kak Ken memang belum sepenuhnya menerimaku, Pa. Tapi sejauh ini, dia selalu memperlakukanku dengan baik," balas Nora mencoba untuk menutup-nutupi.


"Baguslah, jangan sampai kamu menyesal," ujarnya lagi yang membuat Imelda memekik.


"Papa!"


"Apa sih, Ma? Papa hanya bicara apa adanya."


"Tapi ucapan Papa tidak pantas didengar!"


"Sudah cukup! Bila kalian mau terus ribut, tunggu aku pergi ke kamar dulu," cetus kakek Theo, mulai bangkit dari tempat duduknya, dengan dibantu oleh sang pengasuh.


Sementara Raga hanya menyaksikan semuanya dengan raut wajah kebingungan. Dia benar-benar tidak tahu apapun, mengenai hubungan antara sang Kakak dan juga ayah angkat dari Zoya.


Semua orang akhirnya masuk ke dalam kamar masing-masing, tetapi tidak untuk Nora, dia malah singgah di kamar sang adik, setelah dia diizinkan untuk masuk.


Nora duduk di sisinya, lalu menatap ke arah Raga dengan terkekeh. Wanita itu menggeleng. "Kakak mau tanya yang lain."


Kedua alis Raga menaut. "Tanya apa?"


"Hubungan kamu sama Zoya," ujar Nora semakin melebarkan senyumnya.


Kelopak mata Raga membulat, sambil berkedip-kedip pelan. "Aku? Sama Zoya?" tunjuknya pada diri sendiri.


Noda manggut-manggut. "Iya, tadi siang Kakak liat kamu perhatian banget sama dia, kalian pacaran?"


Mendengar itu, entah kenapa Raga ingin tertawa. Dia jadi membayangkan wajah Zoya, dan ingin bertemu dengan gadis itu, gadis yang sudah menjadi incarannya sejak dia masuk kuliah semester satu.

__ADS_1


"Kenapa malah tertawa?"


"Baru calon pacar," jawab Raga dengan gamblang, dan masih tertawa lebar.


Nora menyipitkan matanya, Zoya bilang kalau dia punya pacar. Tetapi Raga menganggapnya masih calon, apa dia salah yah, menebak bahwa Raga adalah pacar Zoya.


"Memangnya Zoya belum punya pacar?" tanya Nora menyelidik.


"Belum, dia nggak boleh pacaran. Jadi aku nggak berani nembak dia."


"Kamu belum pernah liat dia pergi sama cowok lain?"


"Tidak, her best friend is me, dan sebentar lagi akan menjadi calon suami."


"Idih, kamu geer banget. Tapi apa kamu pernah cium dia?" tanya Nora semakin ingin tahu, ada hubungan apa antara Raga, Zoya dan tanda kepemilikan di tengkuk gadis itu.


"Ngapain Kakak tanya-tanya gitu?" Bukannya menjawab Raga justru balik bertanya.


"Kakak hanya ingin tahu, sejauh mana hubungan kalian! Jangan macem-macem kamu Raga!"


Raga terkekeh lalu tiba-tiba memeluk Nora. "Tidak, Kak. Aku tidak macam-macam dengan Zoya, dia itu gadis yang baik, dan untuk ciuman itu, hehe... Aku pernah menciumnya sekali."


Netra Nora langsung membola, jadi benar bekas kemerahan itu Raga yang membuatnya? Padahal Raga tengah membayangkan dirinya saat mencium lengan Zoya yang terluka.


Bukankah itu artinya, dia sudah pernah mencium gadis itu?


*


*


*

__ADS_1


Tunjukkan pesona mu kang Raga 🙃🙃🙃🙃



__ADS_2