Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Kemarahan Reymond


__ADS_3

Reymond pulang ke rumahnya dengan wajah lesu dan sorot mata sayu. Karena dia tidak berhasil mendapatkan maaf dari Zoya, atas segala kesalahannya di masa lalu.


Bukan serta merta dia melarang Ken berhubungan dengan putrinya.


Dia tahu persis bagaimana Ken, seorang pria dengan gelar casanova, pria yang kerap bermain dengan wanita yang dia suka, dan di mana saja. Bukankah Ken jauh lebih badjingan dari dirinya?


Dia hanya tidak mau Zoya terluka, sama seperti Elina saat dia meninggalkannya. Dia tidak mau masa lalu itu terulang kembali pada putrinya.


Jujur saja, mendengar Zoya berhubungan dengan Ken, dia langsung merasa tak percaya. Dia beberapa kali menggeleng dibalik gerbang mansion milik Ken, mendengar semuanya.


Terserah saja kalau wanita itu adalah Nora, anak tirinya. Dia tidak peduli meski Ken akan menyakitinya. Toh, dia sudah beberapa kali memberi nasihat, tetapi tidak pernah didengarkan oleh wanita itu.


Kalau untuk Zoya, dia tidak mau!


Baru saja Reymond sampai di ambang pintu, dia sudah dihadang oleh Imelda yang menatap tajam ke arahnya. Kedua tangan wanita itu melipat di depan dada, dan senantiasa mengikuti pergerakan Reymond.


Namun, pria itu seolah tak melihat kehadiran sang istri, hingga dia terus saja melangkah menuju kamarnya.


"Berhenti!" teriak Imelda dari tempatnya.


Membuat pria paruh baya itu seketika menghentikan laju kakinya.


Reymond tak menoleh, dia menatap lurus, dia sudah tahu, pasti Imelda akan membahas tentang Zoya. Nora pasti sudah mengadukannya.


"Ada apa?" tanya Reymond dengan suara yang terdengar datar.


Melihat Reymond yang tak menatap wajahnya, seketika membuat Imelda naik pitam, dia melangkah dengan amarah yang mulai meletup, dan berdiri tepat di depan suaminya.

__ADS_1


"Kamu tanya ada apa? Kamu pikir aku tidak tahu? Apa yang sudah kamu lakukan di luar sana? Kamu menemui anak jalaang itu, dan membuktikan semuanya? Heuh, bagus sekali Reymond!" cetus Imelda dengan sorot matanya yang menajam.


Selama ini, Reymond seperti manekin hidup di mata Imelda. Seluruh pergerakan pria paruh baya itu diatur oleh sang istri. Selagi itu bukan kemauan Imelda, Reymond tidak boleh melakukannya.


Dan dengan bodohnya, selama bertahun-tahun pula, Reymond mengikuti permainan wanita itu. Hingga kini, dia merasakan muak yang luar biasa.


"Dia bukan anak jalaang, dia anakku!" tegas Reymond, kini dia memberanikan diri membalas tatapan tajam Imelda. Bahkan terlihat lebih menyeramkan.


Untuk seumur hidupnya, Imelda baru saja melihat Reymond yang seperti ini. Dia menelan ludahnya kasar, lalu berdecih.


"Cih, apa dia mengakuimu? Aku rasa tidak, dia sudah dewasa, dan berpikir dengan jernih. Dia tidak mungkin memaafkanmu begitu saja, orang yang sudah meninggalkan anak dan istrinya. Kenapa kamu susah-susah meminta maaf padanya? Kurang kerjaan!"


Mendengar itu, tangan Reymond terkepal kuat. Harga dirinya sebagi pria selalu terasa terinjak-injak. Reymond memejamkan matanya sejenak, dengan letupan amarah yang memuncak.


"Kamu bertanya seperti itu? Apakah wajar? Perlu kamu ingat, itu semua KARENA DIA ANAKKU!" bentak Reymond di ujung kalimatnya.


Imelda kembali tertegun mendengar bentakan Reymond. Dadanya mulai sesak mendapat perlakuan seperti ini. Sementara hatinya semakin membenci Zoya dan ibunya, gara-gara mereka, Reymond jadi bersikap seperti ini padanya.


"Aku tidak peduli dia anakmu atau bukan, yang jelas aku tidak akan menerimanya kalau pun kamu membawanya ke mari!"


Imelda semakin memperlihatkan penolakannya, dia tidak sudi anak suaminya dari wanita lain berada di sini, terlebih itu Zoya, gadis yang sudah merebut calon suami putrinya, Nora.


Cih, dia benar-benar tidak sudi, dia jijik dengan gadis itu.


"Gadis menjijikkan!" sambung Imelda dengan cemoohan yang terdengar begitu menyakitkan di telinga Reymond.


Tangan besar pria itu terayun, dan dalam hitungan detik suara tamparan keras terdengar nyaring di seluruh penjuru ruangan.

__ADS_1


Reymond tidak segan lagi berbuat seperti itu, rasanya Imelda memang pantas mendapatkannya. Dia yang biasanya mengalah, kini mulai berani pada wanita itu, Imelda sudah terlalu dimanjakan hingga dia semena-mena.


Imelda memegang pipinya yang terasa panas, lalu menatap Reymond dengan nanar. Sorot matanya semakin menungkik tajam, seolah ingin lompat dari sarangnya.


"Beraninya kamu!" jerit Imelda. "Aku bersumpah, tidak akan menerima gadis itu, tidak akan!"


Reymond berganti mencengkram lengan Imelda dengan kuat. Hingga si empunya meringis kesakitan. "Harusnya kamu ingat, kita yang mengkhianati Elina sampai menghasilkan Raga, aku meninggalkan dia dan Zoya demi kamu! Kenapa kamu selalu bersikap sekeras ini?"


"Aku tidak peduli! Aku tetap tidak akan menerimanya, aku tidak sudi!" pekik Imelda tepat di depan wajah Reymond.


Seketika pria paruh baya itu mengangguk, entah dengan alasan apa. "Itu semua sudah cukup menjadi dosa terbesarku, Imelda. Aku ingin menebusnya, kalau kamu tidak mau menerima Zoya, lebih baik kita pisah!"


Dan Imelda semakin dibuat terperangah.


*


*


*


Pisah sana lah pisah, riwehπŸ™„πŸ™„πŸ™„


Bila berkenan, mampir juga ke karya ngothor yang lain yah, ada kisah si pampir bucin nganu tiada tanding, sekalinya cemburu, satu gedung runtuh, mobil ancur. Dan jelas kekuatan nganunya berbeda, kapal di tengah lautan pun sampe oleng🀣🀣🀣


Only 84 part πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_1


__ADS_2