Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Pria Jejuta Pesona


__ADS_3

Ken menelisik penampilan Nora dari atas sampai bawah. Semuanya terlihat bersih, badan proporsional itu terpahat tak kalah sempurna dengan milik Zoya.


Sembulan dada yang pas, pun dengan pinggang ramping yang tak kalah aduhai. Membuat jiwa lelaki nan pemburu Ken menggelora, dan akhirnya dia bangkit dari kursinya.


Melangkah pelan ke arah Nora yang baru saja menutup pintu dengan pelan, nyaris tanpa suara.


Pandangan mata Ken tak terputus.


Membuat wajah wanita itu sedikit cemas dicampur salah tingkah karena terus ditatap seperti itu oleh Ken.


Hingga dia diam ditempat, dan membiarkan Ken mendekat, satu tangannya memegang gelas kopi, lalu satu tangannya lagi menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.


Gerakannya begitu lembut, anggun dan begitu menarik perhatian. Sebagai wanita dewasa, bukankah Nora tidak bodoh? Dia mengerti kebutuhan Ken. Sebuah kebutuhan batin, yakni tentang ranjang.


Tapi dia terlalu takut, dia yang awalnya hanya gadis kuper membuatnya menutup diri, dan memiliki prinsip hidup.


Dia akan melakukan itu semua, bersama orang yang menjadi suaminya. Orang yang dia cintai dan mencintainya pula.


Namun, setelah bertemu Ken, entah kenapa prinsipnya jadi berubah, saat dia menginginkan Ken berada di sisinya, maka dia harus rela melakukan ini semua.


Itulah yang sekarang dia percaya, hingga menggoda pria yang sudah ada dihadapannya ini, menjadi pilihan yang harus dia ambil.


Pria matang, tampan dan memiliki jejuta pesona. Siapa yang tidak tertarik pada tubuh tegap nan kekar ini?


Bahkan selama bertahun-tahun Nora menunggu. Dan sekarang kesempatan itu sudah ada di depan mata.

__ADS_1


Malam ini Ken akan menjadi miliknya.


Nora meneguk ludahnya kasar, tatapan mereka lagi-lagi bertemu. Dan baru kali ini Ken memberikan tatapan mata itu.


Netra berkabut, dengan wajah siap menerkam. Dia yakin, Ken sudah merasa sesak sekarang.


"Aku buatkan kopi untukmu, Kak," ucap Nora dengan sedikit terbata, dia berusaha tersenyum untuk menutupi kegugupannya.


Mendengar itu, Ken sedikit menyeringai. "Siapa yang menyuruhmu membuatkan kopi untukku?" tanyanya dengan lembut, tetapi masih berhawa dingin.


Mendengar itu, lagi-lagi Nora meneguk ludahnya yang terasa tercekak. Dan keringat dingin mulai menyapa telapak tangannya.


"Aku, aku berinisiatif sendiri untuk membuatnya untukmu, karena aku tahu kamu lembur," jawab Nora dengan nafas yang nyaris tak ada.


Ken menarik satu sudut bibirnya ke atas. "Hanya itu?"


Nora melirik ke sana ke mari, bola matanya seolah mencari objek yang pas untuk menghindari kedua netra Ken.


Pelan, wanita itu mengangguk. "Hanya itu, Kak."


"Benarkah?" Ken menumpu satu tangannya di dinding dekat pintu, mengunci Nora. Dia mengajukan pertanyaan seolah dia tidak percaya.


Dan raut wajah wanita itu semakin dibuat pias. Apalagi saat Ken tiba-tiba melesakkan wajahnya di ceruk leher Nora, hembusan nafas pria itu bahkan begitu kentara.


Membuatnya meremang seketika. Dan nyali yang sempat terkumpul, menciut saat itu juga.

__ADS_1


"Benarkah kamu tidak mau melakukan hal yang lain?" Ken bertanya lagi, dan Nora hanya bisa menggigit bibir bawahnya.


Sulit sekali rasanya menjawab pertanyaan Ken, padahal itu semua adalah pertanyaan yang begitu mudah.


Nora memejamkan matanya sejenak, debaran dadanya begitu menggila, saat Ken memegang cangkir kopi di tangannya, dan tubuh mereka begitu rapat.


Bahkan karenanya, wanita itu bisa merasakan sesuatu di bawah sana yang sudah mengeras, sedikit menghujam tubuhnya.


Dan detik selanjutnya, Nora seperti dijatuhkan ke dasar jurang yang paling dalam. Belum sempat mulutnya menjawab pertanyaan Ken, pria itu justru kembali bersuara.


"Lain kali kalau kamu memang mau menggodaku, jangan setengah-setengah. Aku sarankan kamu datang dengan tubuh telanjang, karena biasanya para wanita melemparkan diri tanpa aku harus bersusah payah membuka pakaiannya. Mereka justru yang melayaniku, memanjakanku sampai aku terbang ke nirwana. Kamu tahu? Tindakanmu ini, jauh dari apa yang ada dalam bayanganku."


Kalimat terpanjang yang pernah Ken berikan, sekaligus kalimat yang paling menohok di sudut hati Nora yang terdalam.


*


*


*


Gue lelepin lu Dad kalo sampe nyelup mah🤣🤣🤣🤣


Kembangnya oyy jangan lupa di tabur, biar si Daddy waras🤭🤭🤭


__ADS_1


__ADS_2