Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Kakek Jatuh Sakit


__ADS_3

Hari itu Ken dan Zoya benar-benar menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka. Tidak ada yang paling membahagiakan selain melihat senyum si kembar, mereka berbelanja pakaian, membeli mainan, dan juga pergi ke salon anak untuk mencukur rambut.


"Nyonya, sepertinya anak anda mengantuk," ucap kapster, orang yang bertugas memotong rambut. Kini keempat bocah tampan itu sedang bergiliran untuk mendapatkan pelayanan.


Zoya melihat Bizard yang tertunduk, karena sudah tidak mampu menyanggah kepalanya. Ibu dengan lima anak itu tersenyum tipis, lalu mendekati Bizard untuk membantu memegang kepala bocah tampan itu.


"Mommy!" teriak Aneeq dari samping, seakan tak ingin kasih sayang Zoya terbagi dengan saudaranya yang lain. Namun, Zoya tidak mau terlihat seperti itu.


"Adik mengantuk, Sayang. Kalau tidak dipegang nanti potong rambutnya tidak selesai-selesai," ujar Zoya memberi pengertian. Namun, Aneeq malah memberenggutkan wajah. "Tidak boleh marah, oke?"


Bocah tampan itu hanya terdiam, lalu melengos sebagai bentuk protesnya. Dan hal tersebut membuat Zoya menghela nafas, tak ingin terlalu memanjakan Aneeq dia pun melanjutkan aktivitasnya, yaitu memegang kepala Bizard yang sudah bergerak ke sana ke mari, nampak lucu dan membuatnya gemas.


Sementara Ken selalu dikuasai oleh putri kecilnya. El sama sekali tak mau turun dari gendongan sang ayah, padahal mereka membawa stroller.


Namun, meskipun begitu Ken tetap mendekati Aneeq, agar pria kecil itu tidak merasa diabaikan.


"Coba lihat ke cermin, wajah An jadi jelek kalau cemberut seperti itu," ucap Ken, membuat sang anak bergerak untuk melirik cermin besar yang ada di hadapannya.


Ekor mata Aneeq nampak tajam dengan pipi yang menggembung.


"Biayin acah, Mommy ndak awu cinih cama An," balas Aneeq semakin memonyongkan bibirnya. Namun, hal tersebut membuat semua orang gemas. Bahkan Ken sampai terkekeh-kekeh.

__ADS_1


"Makanya An jangan suka marah-marah, lihat adik!" titah Ken sambil mengalihkan pandangan pada Choco dan De yang sedang naik kuda-kudaan di luar, mereka dijaga oleh dua baby sitter.


Akan tetapi bocah tampan itu tetap keras kepala, dia malah mendengus kasar sambil melirik Zoya yang terus memegangi kepala Bizard.


"Mommy ... Mommy puna An," rengeknya.


***


Setelah puas mengitari pusat perbelanjaan itu, akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang, tetapi tiba-tiba ponsel Ken terus berdering, membuat pria itu menghentikan langkah.


"Sayang, sebentar, ada telepon dari Bi Lila," ucap Ken pada sang istri, dan Zoya langsung mengangguk.


Tanpa menunggu lama Ken langsung menerima panggilan itu, hingga terdengar suara Lila yang terdengar cemas. "Halo, Tuan, Kakek tiba-tiba sesak nafas. Dan sekarang beliau sedang diperiksa oleh Dokter."


"Baik, Tuan."


Tanpa bicara lagi Ken langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak, lalu menghampiri Zoya yang saat itu menunggu di pintu restoran.


"Sayang, kita tidak bisa makan dulu. Kakek mengalami sesak nafas, jadi sekarang lebih baik kita langsung pulang. Aku khawatir sekali padanya," ujar Ken, sebagai cucu satu-satunya, dan orang yang selalu merepotkan Abian, tentu Ken sangat takut kehilangan pria tua itu.


"Ya sudah, kita langsung kembali ke mobil," balas Zoya, sama seperti Ken, dia pun terperangah, tetapi dia berusaha tetap tenang, agar sang suami tidak terlalu cemas.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun terpaksa pulang. Mereka tak mempedulikan perut masing-masing yang sebenarnya sudah keroncongan.


Setibanya di rumah, Zoya langsung menyuruh pengasuh untuk mengajak anak mereka makan. Sementara dia dan Ken langsung ke kamar kakek Abian yang ada di lantai bawah.


"Mommy, An itut," rengek Aneeq, masih saja posesif pada Zoya. Karena tak ingin berdebat, akhirnya Zoya pun menggendong Aneeq dan menyusul langkah suaminya.


Begitu mereka masuk, Kakek Abian sudah selesai diperiksa, tanpa ba bi bu Ken langsung menghambur ke sisi kakek Abian. Dia menatap wajah keriput yang tampak sedikit pucat itu, hingga Kakek Abian membuka matanya.


"Ada apa dengan Kakek? Kenapa membuat Ken takut?" tanya pria itu seraya pergelangan tangan Kakek Abian.


"Kakek tidak apa-apa, Ken. Mungkin hanya kurang olahraga," Jawab Kakek Abian lemah.


"Kakek harus sehat terus, karena sebentar lagi cicit-cicit kakek ulang tahun," ujar Ken, yang membuat Kakek Abian mengulum senyum, dia mengalihkan pandangan pada Aneeq yang sedang digendong oleh Zoya.


"Iya, saat mereka ulang tahun Kakek pasti ada di sana, jadi jangan khawatirkan apapun, Ken. Kakek akan terus bersama kalian."


Ken langsung mengangguk. Lalu tanpa diduga dia memeluk kakek Abian, sesuatu yang nyaris tidak pernah terjadi lagi. "Kakek tidak boleh ke mana-mana. Karena hanya Kakek satu-satunya orang tua yang Ken miliki. Maafkan Ken karena selalu menyusahkanmu."


Suasana haru tetapi hangat langsung tercipta, Kakek Abian sangat bersyukur, karena akhirnya Ken bisa bahagia. Seandainya dia pergi, dia yakin Ken tidak akan kesepian lagi.


"Kakek menyayangimu Ken," ucap kakek Abian.

__ADS_1


"Ken juga sangat menyayangi Kakek." jawab Ken sambil mengeratkan pelukan.


__ADS_2