Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Membuatku Gila


__ADS_3

Ada rasa tak sabar yang menyusup ke dalam dadanya. Hingga dia merasa menunggu bulan depan itu terlalu lama. Dia ingin segera memiliki sang kekasih sepenuhnya. Menjadikan Siska wanita yang sempurna.


Ron tengah mengguyur kepalanya dengan air dingin, menjernihkan otaknya yang terlanjur tercemar, gara-gara berdampingan dengan bos gilanya.


Sekarang Ron sudah mulai terkontaminasi dengan rasa yang diberikan oleh Siska. Sentuhan maut yang menghilangkan seluruh kewarasannya.


Hingga tanpa tahu malu, dia meminta cacingnya dipuaskan. Ada rasa yang menggelitik sekaligus memabukkan. Dan sungguh itu semua membuatnya ikut gila.


Lihat, dengan memikirkannya saja cacing besar Alaskanya kembali bangun. Ron memejamkan matanya, dan menyugar rambutnya yang basah.


"Sial, kenapa jadi bangun terus sih?" gerutunya pada diri sendiri, dia benar-benar tidak bisa mengontrol hasratnya yang tiba-tiba muncul, terlebih mengingat ciumannya dengan Siska.


Ron menghela nafas kasar. Dia mencoba meredamkan rasa yang menggelegak dalam tubuhnya dengan air dingin yang sedari tadi mengucur deras.


Namun, sampai beberapa saat birahinya tak juga ingin turun. "Astaga, aku benar-benar harus segera menikahi Siska. Kalau tidak aku bisa gila karena terus-terusan seperti ini."


Pria matang itu akhirnya menyerah, mau tidak mau dia harus menuntaskan itu semua sendiri. Tak ingin lebih lama lagi di dalam kamar mandi, Ron segera melakukan ritual untuk menyenangkan cacingnya.


Di dalam sana, dia mengerang sambil terus menggerakkan tangannya. Dadanya naik turun dengan nafas yang terdengar tak begitu teratur, bayangan tentang Siska semakin nyata, hingga dengan cepat dia memuntahkan laharnya.


"Hah! Ini benar-benar gila!" Ron mengepalkan tangannya, dan memukul dinding sebagai pelampiasan pelepasannya yang terasa melegakan.

__ADS_1


Dia membiarkan para calon anaknya terbawa arus air dan masuk ke pembuangan. Dan setelah itu, dia segera menyelesaikan ritual mandinya.


Hari sudah menggelap, malam ini tepat malam minggu. Setelah selesai berpakaian, Ron turun ke bawah di mana keluarganya berada. Dia sudah ditunggu di meja makan untuk makan malam.


Ron menyapa semua orang, di rumah ini tinggal kedua orang tua dan adik bungsunya yang sudah lebih dulu menikah, bahkan sudah memiliki dua orang anak. Meyda namanya.


Ron lahir dengan tiga bersaudara. Dia anak kedua, sementara kakak sulungnya sudah tidak tinggal di Jakarta. Dia di Surabaya ikut dengan istrinya.


Setelah Ron duduk, mereka langsung menyantap makan malam. Seperti biasa, makan malam akan selalu ceria karena satu bocah balita yang ribut dengan makanannya.


"Aku mau itan doyeng, itu itan itu, Mama." Bocah cantik itu menunjuk piring yang berisi ikan gurami yang digoreng dengan tepung.


Hingga sesi makan malam selesai, Ron menahan kedua orang tuanya, agar tetap duduk di kursinya. Dia ingin menyampaikan perihal niatnya untuk melamar Siska.


Sementara Meyda dan sang suami, sudah membawa kedua anaknya ke dalam kamar.


"Ada apa, Ron? Kenapa kamu kelihatan serius sekali?" tanya sang ayah yang melihat gelagat putra keduanya tidak seperti biasa.


Ron lebih dulu mengulum senyum. Dia yakin, dengan mendengar berita ini ayah dan ibunya pasti merasa senang. "Aku mau menikah, Pa, Ma. Maukan malam ini temani aku untuk melamar kekasihku." Jelasnya to the point dengan raut wajah yang begitu sumringah.


Mendengar itu, kedua orang paruh baya itu langsung membulatkan mata mereka dengan sempurna, mereka seperti mendapat serangan dadakan. Ada rasa terkejut, tidak percaya, juga bahagia yang tiada tara. Akhirnya putra mereka mau menikah.

__ADS_1


Pria tampan dengan usia 35 tahun itu akhirnya mau melepas masa lajangnya. Ah, rasanya ibu dan ayah Ron ingin melakukan salto-salto girang.


"Kamu serius, Ron? Apa kamu akan melamar wanita yang kemarin kamu tunjukkan pada Mama?" tanya ibu Ron antusias, tak kalah sumringah.


Ron langsung menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan sang ibu. Dan hal itu sukses membuat kedua orang tuanya kompak mengucap syukur.


"Ron, Mama tidak menyangka kamu akhirnya mau menikah," ujar wanita paruh baya itu dengan tangis haru.


Ron segera bangkit dari kursinya, lalu bersimpuh di kaki sang ibu, dia menghapus jejak basah itu, lalu mengembangkan senyumnya. "Aku ingin segera memberi Mama dan Papa cucu, makanya sekarang ayo bantu aku untuk melamar Siska agar mau menjadi istriku."


Ibu Ron terkekeh dalam tangisnya, dia mengusak puncak kepala Ron. "Ayo, jangan sampai kamu jadi perjaka tua, nanti cacingmu tidak bisa menyemburkan larva." Godanya.


Bahu Ron merosot, dan wajahnya langsung berubah masam. "Ish, Mama!"


*


*


*


Idih mamanya Ron yang pernah pegang-pegang cacing Alaska 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2