Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Seolah Gundah


__ADS_3

Masuk jam makan siang.


Zoya kembali membawa Aneeq pergi ke kamar, karena bocah tampan itu terus merengek sambil menarik-narik bajunya. Akhirnya Zoya pamit pada semua orang. Dia menggendong Aneeq yang kala itu sudah kehausan.


"Memangnya An masih menyusu pada Zoya?" tanya Reymond pada kakek Abian yang masih setia menemaninya, sedangkan mata pria paruh baya itu senantiasa menatap Zoya yang baru saja naik ke atas tangga.


"Iya, Rey. Cucumu yang satu itu sulit sekali dipisahkan dari ibunya. Sedikit-sedikit minta susu rasa semangka, ada-ada saja," jawab kakek Abian, sesuai fakta yang ada. Sebab diam-diam dia juga hafal kebiasaan para cicitnya. Apalagi Aneeq, pria kecil yang selalu ingin berada didekat Zoya.


Reymond dan Raga kompak terkekeh setelah mendengar penuturan kakek Abian. Tingkah anak kecil memang sangat menggemaskan. Namun, dibalik kekehan itu, Reymond menyimpan banyak rasa bersalah. Sebab dia tidak bisa menjaga Zoya, melihat putrinya itu berkembang dalam pengawasannya.


Di saat Zoya belum bisa apa-apa, dia malah sibuk mengurusi anak dan istri keduanya. Dia tidak bisa membayangkan, kehidupan seperti apa yang telah dilalui oleh wanita cantik itu.


"Tapi, Rey. Aku lihat Zoya memang senang melakukannya. Dia jarang mengeluh. Tak kusangka, badan sekecil itu bisa melahirkan banyak bocah-bocah lucu," sambung kakek Abian yang membuat Reymond akhirnya tersadar.


Dia mengangguk samar, lantas setelah itu, kakek Abian mengajak keduanya untuk makan siang.


***


Sore harinya.


Saat semua anak-anak sudah mandi dan wangi. Ken pulang dengan wajah tersenyum sumringah. Dari kejauhan Ken sudah bisa melihat kelima anaknya tengah bermain sepeda di halaman mansion.

__ADS_1


Senyum pria itu semakin lebar. Namun, saat dia menyadari ada sosok lain yang berdiri tak jauh dari sisi Zoya. Senyum Ken sedikit memudar, dia mengerutkan kening merasa penasaran. "Siapa mereka, Ron?" Tanyanya pada sang asisten.


Ron ikut melihat ke arah pandangan mata Ken. Ternyata di sana juga ada anaknya. "Sepertinya itu Tuan Reymond dan Tuan muda Raga."


"Mertuaku?"


"Iyalah, Tuan. Siapa lagi?"


Ken bergeming, entah kenapa setiap mendengar nama Raga, hatinya seolah gundah. Walaupun survei telah membuktikan bahwa pria itu adalah adik kandung Zoya. Namun, Ken tetap saja merasa tak biasa.


Ken turun dari mobilnya, dia hendak melangkah tetapi sang putri justru berlari ke arahnya dengan tawa girang. "Tetty puyang!"


El menggeliat merasa geli karena bulu-bulu wajah Ken mengenai pipi bulatnya. Gadis cilik itu terkekeh, lalu menghalau Ken yang terus menciuminya. "El agi main ceda cama Caca."


"Oh yah? El tidak rewel kan hari ini?" tanya Ken, mengajak El bicara disela-sela langkahnya. Di tempatnya berdiri, Zoya mengulum senyum, menyambut kepulangan Ken.


"Ndak. Tapina Tetty ndak banunin El, El na angis, telus beka El dilucak cama Kak An, matana ilang, dikila bici cemangka," jelas El dengan mimik wajah serius, lengkap dengan cara bicaranya yang terdengar sedikit membingungkan.


Namun, Ken tetap menghargainya dengan manggut-manggut. "Maafin Daddy, habis El nggak mau bangun. Daddy kan harus bekerja, cari uang buat Mommy, El dan Kakak-kakak."


"Uwangna buat beyi apa?"

__ADS_1


"Nih, beli burger buat El," jawab Ken sambil mengangkat paper bag yang ada di tangannya. El terlihat tertawa kegirangan, dia langsung meminta burger itu. Namun, Ken lebih dulu melangkah, ingin memberikan makanan itu pada Zoya. Agar sang istri yang membagikan pada kelima anaknya.


Setelah bergabung dengan yang lain, Ken langsung menurunkan El dari gendongannya. Ken tersenyum ke arah Reymond dan tak lupa menyalimi tangan pria yang telah menjadi mertuanya. Lalu pandangan mata Ken beralih pada Raga.


Pria itu juga terlihat segan padanya. Ken berusaha untuk bersikap senormal mungkin. Meski gerakannya yang ragu terlihat sangat kentara.


"Kamu baru pulang, Ken?" tanya Reymond basa-basi. Ken mengangguk cepat, lalu meraih pinggang istrinya. Mengecup bibir wanita itu sekilas, seolah mengatakan pada di dunia, bahwa Zoya hanya miliknya.


"Iya, Pa. Aku ke dalam dulu yah, aku ingin bersih-bersih," pamit Ken dengan lirikan matanya yang mengarah pada Raga.


"Oh ya, silahkan Ken."


"Anak-anak Daddy ke dalam dulu yah?" pamit Ken sambil menatap kelima bocah yang sedang memegang burger di tangan masing-masing. Mereka semua terlihat sangat lahap, Caka bahkan ikut bergabung.


Lain halnya dengan si sulung, dia malah terlihat kebingungan sambil menatap paper bag yang sedari tadi Zoya pegang.


"An, kenapa burgernya tidak dimakan?"


Mendengar itu, Aneeq malah menghentakkan kakinya ke tanah, merasa kesal. "An mauna cemangka becal!"


__ADS_1


__ADS_2