Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Python #22


__ADS_3

Hari berganti minggu, tepat seminggu yang lalu Siska sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya. Bukan tanpa alasan dia melakukan itu semua, karena sebelum hari itu tiba, Siska sudah dinyatakan positif hamil.


Wanita itu sangat bersyukur, tanpa menunggu lama ia sudah bisa mengandung buah cintanya dengan sang suami. Dan hal itu sukses membuat satu pria yang tidak ingin tersaingi oleh asistennya, semakin merasa kepanasan.


Ya, ada saja tingkah Ken yang membuat Ron memutar bola matanya jengah. Sekarang Ron sudah seperti pengasuh bayi besar, padahal usia Ken 3 tahun lebih tua darinya.


Tak hanya usil pada Ron, Ken juga kerap mengganggu Zoya. Hampir setiap malam tidur wanita itu tak tenang, rengekan manja si ular python selalu saja berdengung, memenuhi gendang telinganya.


Namun, dia sungguh! Dia tidak bisa menolak apapun yang Ken berikan padanya.


Bahkan di saat pagi seperti ini, Ken sudah mencuri start sebelum Zoya bangun. Ken merangkak mendekati kaki Zoya, untuk mengecek lembah lembab kesukaannya.


Secarik kain tipis yang tak seberapa itu berhasil Ken robek dan ia buang ke sembarang arah. Entah sudah berapa banyak pasang benda itu berakhir dengan sia-sia.


Zoya yang masih terlelap nyenyak tak begitu merasakan sesuatu yang bergerak-gerak di area sensitifnya. Sapuan lembut dari benda kenyal nan basah hanya membuat Zoya menggeliat.


Pucuk hidung Ken menempel di sana, menghirup dalam aroma yang sangat khas dari wanita itu. Ken kembali membuka kaki Zoya lebih lebar, menyesap benda kenyal yang mirip irisan buah peach itu dengan gairah yang memuncak.


Sebelum bekerja, ada baiknya dia memacu adrenalinnya dengan bercinta. Apalagi suasana di luar sana sangat mendukung, pagi ini kota Jakarta sedang dilanda hujan, yang membuat kebanyakan orang malas untuk keluar rumah.


Ken menelusupkan lidahnya, bermain dengan begitu nikmat membuat Zoya akhirnya pelan-pelan membuka mata. "Ah, Hubby." Lenguhnya sambil menjambak rambut Ken.


Dia menatap ke bawah sana, di mana suaminya berada. Bukannya menyahut, Ken justru semakin gencar membuat Zoya basah. Wanita itu menjerit, begitu sesapan Ken semakin terasa nyata.


Tubuh yang awalnya terasa dingin kini mulai memanas karena ulah suaminya. Zoya mengangkat pinggulnya dan membuka akses agar Ken bergerak leluasa.

__ADS_1


"Hubby, i want more, (Sayang, aku mau lebih,)" ucap Zoya dengan kesadaran yang melayang-layang.


Kedua netranya dibuat terbuka dan terpejam bergantian. Dengan gigitan bibir yang terlihat sangat manja.


Kedua tangan Ken bergerak ke atas, memainkan dua bulatan yang terasa semakin besar. Ken meremassnya, membuat Zoya langsung menggelegakkan kepala, apalagi saat pucuk dadanya di mainkan oleh jari-jari Ken.


"Hubby, come on, please. I can't wait. Stop playing me! (Sayang, ayolah. Aku sudah tidak bisa menunggu. Berhenti permainkan aku!)"


Zoya bergerak tidak sabaran, saat rasa nikmat bercampur geli itu semakin menggerogoti tubuhnya. "Oh, Ken, i am so Ready. (Oh, Ken, aku sudah sangat siap.)" Dia meremass-remass rambut Ken. Dan pada saat itu, Ken menghentikan aksinya, dia menarik lidah dan mengangkat kepalanya.


Ada seringai tipis yang menghiasi bibir pria tampan itu, dia mengungkung Zoya dan menyapu lembut pipi mulus istrinya. "And i am ready anytime, to drive you, Ba—by. (Dan aku siap kapanpun, untuk mengendalikanmu, Sa—yang.)" Ucap Ken lembut, bagai sihir yang menghilangkan kesadaran Zoya.


Karena detik selanjutnya, wanita itu pasrah pada permainan sang pria. Zoya hanya mengeratkan pegangan tangannya pada bahu kekar Ken, saat percintaan itu berlangsung.


Suara merdu beradu dengan hentakan yang Ken buat. Bibir mungil itu benar-benar tak berhenti untuk memberi semangat pada Ken yang tengah memacu tubuhnya.


Tak ada suara indah selain gesekan di antara dua kulit yang sedang berhimpitan sama-sama mencari kenikmatan. Ken menarik tangannya, dan merampas bibir Zoya, di saat puncak gairahnya hampir saja meletup.


Zoya mencakar bahu Ken, dan memberi tekanan di saat kedua orang itu sama-sama mendapat pelepasan. Nafas mereka terdengar ngos-ngosan seperti baru saja menyelesaikan lari maraton.


Ken menekan senjatanya hingga pusat tubuh pria itu mendapat kenikmatan yang sempurna.


"Yang ini pasti jadi," bisik Ken merengek, suara yang sudah tidak asing lagi di telinga Zoya.


"Of course. Kamu kan selalu semangat untuk membuatnya ada," jawab Zoya sambil memeluk leher Ken, dan meninggalkan kecupan singkat di pipi pria tampan itu.

__ADS_1


"Hem, bahkan aku selalu mengabsen mereka." Ucapan yang berhasil membuat Zoya terkekeh, Zoya memindahkan tangannya untuk berganti menangkup kedua sisi rahang Ken hingga pria itu mengangkat wajahnya.


Kedua pasang mata itu saling menatap dengan penuh cinta, Zoya sedikit menarik wajah Ken dan menghadiahkan ciuman di bibir suaminya.


"Ayo, aku bantu mengabsennya!"


Mendengar itu, Ken kembali memasang wajah sumringah.


*


*


*


Deterjen : Lu abis kemane, Thor? Kita pada nungguin lu kagak nongol-nongol.


Ngothor : Gue lagi baper. Makanya otak gue nggak nyangkut ke si python 🤧


Deterjen : Baper ngapa sih? Jangan baperan ah.


Ngothor : Kemaren itu gue... Gue... Ah, kagak jadilah!


Deterjen : Lah ngapa nih bocah?🙄


Ngothor : Kagak ngapa-ngapa, gue cuma lagi berusaha untuk tetap tegak menantang, kagak layu kek si python kalo udah keluar sarang😌

__ADS_1


Daddy : Ade ape nih, bawa-bawa python?🙄


Ngothor : 👀🏃


__ADS_2