Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Membuntuti


__ADS_3

Zoya sedikit memoles wajahnya agar terlihat lebih fresh, dia tidak memakai make up berlebihan karena takut akan mengundang curiga, apalagi sampai membuat Nora tahu kebenarannya.


Gadis cantik itu keluar dari kamarnya, tepat dengan Ken yang baru saja menutup pintu. Tatapan mereka bertemu, dan lengkungan bibir di antara keduanya langsung tertarik dengan sempurna.


Namun, senyum mereka terputus begitu melihat Nora menaiki anak tangga. Wanita itu melihat ke arah Ken dan juga Zoya secara bergantian, keduanya sama-sama terlihat rapi, seperti sudah janjian ingin pergi.


"Kak Ken dan Zoya mau pergi?" tanya Nora dengan tatapan menyelidik. Bahkan dia dengan jeli menelisik penampilan Zoya.


Perasaannya mulai dihantui oleh kedekatan Ken dan juga gadis itu. Namun, sejauh ini dia tidak pernah menemukan bukti apapun tentang mereka.


"Aku ada urusan, dan Zoya bilang mau ke toko buku, jadi kami sepakat untuk pergi bersama. Kalau tidak ada hal penting yang ingin kamu bicarakan, kami permisi," jawab Ken dengan nada datar seperti biasa.


Zoya tersenyum canggung ke arah Nora, dan pamit pada wanita itu, Ken dan Zoya menuruni anak tangga untuk sampai di mobil. Namun, hati Nora menolak percaya ucapan Ken.


Hingga saat mobil yang dikendarai oleh Ken melandas lebih dulu, Nora ikut mengeluarkan mobil dari garasi, dia berniat membuntuti kedua orang itu. Ya, dia harus mencari tahu.


"Aku harap aku menemukan sesuatu setelah ini," gumam wanita itu sambil mengemudikan kijang besinya, berjarak cukup jauh dengan mobil Ken.


Ken membelokkan mobilnya ke arah kiri, menuju tempat di mana pesta yang sudah dia siapkan untuk Zoya. Namun, saat dia melihat ke belakang, lagi-lagi mobil berwarna hitam itu masih mengikutinya.


Pria itu sengaja melajukan mobilnya dengan sangat lambat, ingin melihat mobil itu mendahuluinya atau tidak.


Dan detik selanjutnya, Ken tersenyum smirk. Dia mengenali mobil itu, dan dia tahu apa yang sedang si pengemudi lakukan, membuntutinya.


"Cih, kurang kerjaan sekali," cibir Ken sambil menarik bibirnya ke atas, dia menggelengkan kepalanya tak habis pikir.

__ADS_1


"Apanya yang kurang kerjaan, Dad?" tanya Zoya, melihat Ken berbicara sendiri.


Ken tersenyum ke arah gadisnya, lalu mengusak puncak kepala Zoya. "Nora mengikuti kita."


Sepasang netra Zoya langsung melebar dengan sempurna. Dia ikut melihat ke belakang, ada beberapa mobil memang, tetapi dia juga tahu yang mana mobil milik Nora.


"Dad, Kak Nora benar-benar ada di belakang, lalu bagaimana dengan rencana kita?" tanya Zoya dengan raut wajah cemas.


"Tenang saja, Baby. Kita akan lihat, setelah ini dia akan tetap mengikuti kita atau tidak." Ken meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang dan sang asisten, Ron.


Setelah itu, dia memutar arah untuk menuju toko buku yang ada di maps, tak jauh dari titik mobilnya berada. Ken akan mengikuti permainan Nora.


Sementara di belakang sana, Nora masih mengikuti mobil Ken, terkadang dia menaikan kecepatan, kadang pula memperlambatnya.


Karena selama ini dia tidak mengetahui apapun tentang mereka berdua.


Nora mengerem mobilnya secara mendadak, karena Ken menghentikan pula mobilnya di depan sana. Hampir saja dia menabrak pembatas, karena kurang fokus antara jalanan dan pikirannya.


Dan benar saja, Zoya turun dari mobil Ken, tepat di depan toko buku. Nora bisa melihat dengan jelas, gadis itu masuk sendirian, sementara Ken kembali menjalankan mesin mobilnya.


Nora memejamkan matanya merasa kalut, tetapi tubuhnya seolah tidak ingin diajak berhenti untuk mencari tahu. Wanita itu kembali mengikuti Ken.


Dia dengan bodohnya berputar-putar di jalanan yang sama, Nora masuk dalam perangkap Ken. Dan wanita itu sama sekali tidak menyadarinya.


"Sebenarnya Kak Ken mau ke mana?" gumam Nora, dia menggigit bibir bawahnya, sepasang matanya dengan jeli terus menatap mobil itu tanpa henti.

__ADS_1


Hingga akhirnya dia kembali mengerem, dan memberi jarak aman antara dirinya dan juga Ken. Dia melihat ke atas, sebuah logo hotel bintang lima berhasil dia tangkap.


Dia terus bergeming, hingga Ken keluar dari mobilnya sendiri, dan di pintu masuk pria matang itu sudah disambut oleh wanita cantik.


Mulut Nora menganga, untuk pertama kalinya dia melihat Ken begitu mesra pada seorang wanita, setelah beberapa bulan terakhir ini, dan hal itu semakin membuat dadanya terasa sesak.


"Jadi Kak Ken masih bermain dengan mereka? Dia tidak pernah berubah? Apa aku juga harus menjadi seperti mereka agar Kak Ken mau melihatku?" Merembes sudah air mata wanita itu.


Namun, anehnya dia terus saja mencintai Ken, meski rasa itu perlahan membunuhnya. Membuat dia tidak bisa menerima pria lain, selain Ken, orang yang jelas-jelas sudah menolaknya mentah-mentah.


Sementara di ujung sana, Ken mengapit pinggang sang wanita untuk masuk ke dalam hotel, bibirnya terus tersenyum smirk, puas sekali mengerjai Nora.


"Terimakasih sudah membantuku, uang bonus nanti aku transfer," ucap Ken lalu melepaskan tangannya.


Wanita itu tersenyum canggung, karena tangan Ken sempat memeluk pinggangnya dengan mesra. Dan wanita itu adalah Siska, sekertaris Ken di kantor. Orang yang dia ajak kerja sama untuk mengelabuhi Nora.


"Iya, Tuan. Sama-sama."


*


*


*


aaaa makanya jangan kepoooo🙄🙄🙄

__ADS_1


__ADS_2