Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Python #23


__ADS_3

Ada yang berbeda hari ini, Ken yang biasanya pecicilan terlihat lebih kalem sekarang, membuat kakek Abian merasa heran. Apalagi saat pria itu hendak berangkat bekerja, sepatah pun tidak ada yang keluar dari mulut Ken.


Dia hanya mencium punggung tangan kakek Abian lalu melangkah pergi bersama dengan Zoya. Seperti hari-hari sebelumnya, kegiatan monoton mereka yakni bekerja dan kuliah.


Di depan sana, Ron membuka pintu untuk sang tuan. Lagi-lagi sikap Ken membuat orang yang ditemuinya mengerutkan dahi. Ken langsung masuk begitu saja dan menyandarkan kepalanya di bahu Zoya.


Ron mencoba berpikir, kenapa bosnya tiba-tiba berubah seperti ini, apa ada sesuatu yang terjadi?


Karena berdasarkan apa yang dia ketahui, Ken tidak mungkin akan bersikap dan menunjukkan wajah seperti itu kalau tidak ada sesuatu.


Apa semua ini ada sangkut pautnya dengan Nona Zoya?


Ron mencoba menerka-nerka. Namun, sampai beberapa detik dia berpikir. Tidak ada apapun yang dia dapatkan.


Akhirnya Ron memilih untuk masuk ke dalam mobil, dan membawa kendaraan roda empat itu melandas ke jalan raya. Menuju kampus Zoya dan tempatnya bekerja.


Baru beberapa saat Ron mengendarai mobil tersebut. Tiba-tiba Ken menyeletuk. "Ron! Hari ini kamu pakai parfum apa sih? Baunya menyengat sekali!"


Ken mengibas dan menutup hidungnya, lalu kembali bersandar di bahu Zoya. Dia merasakan sesuatu yang menusuk, dan dia percaya itu semua berasal dari tubuh sang asisten.


Buktinya, dia berdekatan dengan Zoya tapi tidak merasakan apa-apa.

__ADS_1


"Saya memakai parfum yang biasa saya pakai, Tuan. Saya tidak pernah menggantinya," jawab Ron apa adanya, dia sedikit mengendus aroma tubuhnya, harum seperti biasa.


"Tapi baunya tidak enak. Kamu bau, Ron! Aku jadi ingin muntah," ucap Ken sambil menahan rasa yang bergejolak dalam perutnya.


Aroma tubuh Ron benar-benar berbeda dalam indera penciumannya. Sementara Ron langsung membatin, dia menganggap itu semua hanya akal-akalan Ken untuk mengerjai dirinya.


Cih, ini pasti hanya akal-akalannya, benar-benar bayi besar yang menyebalkan! Rutuk pria tampan itu.


Sementara Ken semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Zoya, dia hanya sesekali menyembulkan kepala saat berbicara dengan Ron.


"Hubby, apa kamu baik-baik saja?" tanya Zoya, melihat sesuatu yang kurang beres pada suaminya.


"Aku hanya sedikit mual, Sayang. Aku tidak suka bau Ron," ujar Ken seraya menangkap tangan Zoya yang bersarang di dahinya.


"Kamu tadi baik-baik saja lho, Hubby. Kenapa bisa seperti ini?" tanya Zoya yang mulai cemas, tetapi Ken tidak membiarkan itu. Dia mengecup bibir Zoya lalu kembali pada posisinya.


"Aku memang baik-baik saja, Baby," ucapnya meyakinkan, meskipun rasa mual itu semakin terasa. Dan ingin segera dia keluarkan.


Zoya menghela nafas mencoba percaya pada ucapan Ken, dia mengusap-usap kepala suaminya dan membiarkan pria itu merasa nyaman dalam dekapannya.


Sementara di depan sana, karena mendengar percakapan Zoya dan Ken, Ron sedikit melihat ke belakang melalui kaca spion. Benar saja, Ken terlihat lemas dengan wajah pucat. Apa pria itu sedang sakit?

__ADS_1


Menyadari itu, Ron jadi sedikit merasa bersalah karena sudah berpikir yang tidak-tidak. Sama halnya dengan Zoya, Ron pun ikut menghela nafas. "Tuan, apa anda baik-baik saja?" Tanyanya.


"Hem." Ken hanya bergumam, tanpa mau mengangkat kepalanya, dia sedang menahan sesuatu yang benar-benar menyiksa tubuhnya.


Perutnya terasa diaduk-aduk, pun dengan kepala yang begitu berat. Hingga keringat dingin mulai bermunculan di area kening pria tampan itu. Ken mengusak-ngusakkan wajah di dada Zoya.


"Nona, haruskah kita bawa Tuan ke rumah sakit?" tanya Ron yang ikut cemas melihat wajah bos sableng bin gendengnya ini semakin memucat.


"Boleh, sepertinya memang ada sesuatu yang_"


"Huwek!"


"Hubby?"


*


*


*


Wah Daddy masuk angin😌😌😌

__ADS_1


__ADS_2